We have new forums at NiteshKothari.com
TopBottom
Announcement: wanna exchange links? contact me at clwolvi@gmail.com.

*Prospek Cerah Jamur Tiram Putih

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Saturday, May 31, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit



Makanan Para Dewa
yang Akan Jadi Ikon Baru Kota Khatulistiwa



(Foto-Foto:Shando Safela)

Selain lidah buaya yang kini telah menjadi ikon Pontianak, Kota Khatulistiwa juga mempunyai potensi agrobisnis lainnya yang juga memiliki prospektif dan nilai ekonomis tinggi untuk dikembangkan. Selamat datang calon trademark baru Kota Pontianak, jamur tiram khatulistiwa.

Ribuan baglog tersimpan berjejer di dalam sebuah ruangan. Ada sekitar lima baris. Satu baris tersimpan 480 baglog. Baglog yang berisi serbuk kayu itu tidak lagi berwarna cokelat. Sekujurnya telah berwarna putih.

Di ujung baglog itu tumbuh buah yang membesar dan bewarna putih. Seperti tiram. Umurnya sekitar 30 hari. Ya, itulah jamur tiram yang bahasa latinnnya disebut Pleurotus ostreatus.

Jamur-jamur tersebut siap dipanen. Sang petani, Wasis Krisnadi, memetiknya dengan tangan. Dia dibantu oleh dua pekerja lainnya. Setelah memanen jamur itu, ruangan tersebut disemprotnya dengan air hujan. Hal itu dilakukan untuk menjaga kelembaban ruangan.

Kelembaban merupakan syarat mutlak dalam masa pemeliharaan jamur. Selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban harus berkisar 20-22 derajat celcius dan kelembaban 95-100% dengan cara pengembunan kumbung. Ada alat khusus yang bisa memantau kelembabab itu yang digantungkan Krisnadi di dalam ruangan.

Awalnya coba-coba

Pria yang pada 21 Oktober nanti genap berusia 26 tahun ini pada awalnya hanya bermodalkan coba-coba untuk mengembangkan jamur tiram ini. Alumnus Universitas Gajah Mada Fakultas Kehutanan ini dari awal memang berniat untuk mencari sesuatu yang baru untuk dikembangkan. Berwiraswasta dengan berbudidaya jamur menjadi pilihannya.

Sempat berhenti usaha pada pertengahan tahun 2007 lalu, kini Krisnadi mulai giat lagi membudidayakan jamur pada awal tahun 2008 hingga sekarang. Hasil budidayanya kini semakin terkenal. Beberapa restoran dan hotel mulai menjadi rekanannya. Jamur tiram yang dilabelinya bernama ‘Mushroom Prima Pontianak’ ini juga dijual di beberapa supermarket di kota ini.

Karena jumlah produksinya yang belum terlalu massal, pria lajang kelahiran Sambas ini mengaku kewalahan meerima pesanan jamur. “Ini peluang yang sangat bagus,” katanya.

Dibantu empat pekerja, Krisnadi menjalankan budi daya jamur tiram ini di Parit Pangeran Dalam, Jalan Budi Utomo Kecamatan Pontianak Utara. Ia juga mulai aktif mengikuti pameran-pameran di kota ini untuk lebih mengenalkan hasil budidayanya.

“Kita masih dalam kapasitas kecil, belum besar,” katanya. Bagaimana dengan perhatian pemerintah untuk menunjang usahanya? Ia mengaku pernah sekali mendapatkan bantuan dari Pemprov Kalbar melalui Badan Pemuda Olahraga dan Pemberdayaan Perempuan. Bantuan itu dikelola olehnya untuk membuat ruang inokulasi.

Modal kecil

Untuk membudidayakan komoditas pertanian yang prospektif dan memiliki nilai ekonomis tinggi ini ternyata tidak memerlukan biaya yang cukup besar.

Untuk budi daya plasma, di mana hanya memerlukan pengerjaan inkubasi dan proses pemeliharaan diperlukan modal awal sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta. “Baglog yang sudah ditularkan bibit miselium (inokulasi) tinggal beli saja. Kami juga menyediakannya,” katanya.

Sedangkan untuk berbudidaya jamur tiram dari proses awal dengan kapasitas 3.000 baglog, diperlukan dana sekitar Rp15 hingga Rp20 juta. “Seperti usaha yang kami rintis ini, dana yang dikeluarkan sekitaran Rp20 juta,” katanya.

Omzet perhari yang dia dapatkan berkisar Rp110 ribu. Setiap hari, dia bisa memanen sekitar 3 kg jamur tiram. Harga jamur di pasaran yang sangat tinggi, menjadi keuntungan tersendiri untuk budidaya ini. Satu kemasan jamur dengan berat 2 ons dijual dengan harga Rp7.500.

Makanan para dewa

Budidaya jamur tiram secara profesional banyak dilakukan para petani di Pulau Jawa termasuk daerah Sunda. Berbagai jenis jamur yang dikenal dan umum dikonsumsi masyarakat adalah jamur tiram, jamur

merang, dan jamur kuping campignon (jamur kancing).

Mengonsumsi jamur diketahui banyak manfaatnya. Beberapa khasiatnya sebagai obat anemia, memperbaiki gangguan pencernaan, mencegah tumor, kanker, hipertensi, dan kencing manis serta dapat menurunkan kadar kolesterol.

“Bahkan Ibnu Sina, bapak ilmu kedokteran, banyak menggunakan jamur pada resep pengobatan penyakit berbahaya,” kata Krisnadi. Disamping menjaga vitalitas (afrodiziak) baik untuk laki-laki maupun perempuan, jamur juga membantu mengatasi kekurangan gizi karena kaya akan vitamin.

Jamur juga dikenal mengandung berbagai macam asam amino yang bermanfaat bagi tubuh seperti leusine, isoleusine, valine, lysine, tritophan, treonine, methionine, phenylalanin dan Histidin. “Karenanya jamur disebut juga sebagai makanan para Dewa,” kata alumnus SMAN 1 Pontianak ini.

Salah satu makanan alternatif bagi para vegetarian karena rasanya seperti daging ayam ini juga banyak diekspor ke negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang dan Hongkong. (**)

Labels:

Keunggulan dan Cara Budidaya Jamur Tiram

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


KEUNGGULAN jamur tiram cukup banyak, selain harga yang relatif mahal, tingkat keuntungan yang dihasilkan relatif tinggi, umur singkat, tanaman ini juga sangat laku di pasaran.

Selain itu, keunggulan lainnya, cara budidaya mudah dan dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas.

“Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan,” kata Krisnadi, petani jamur tiram Pontianak.

Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget.

Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan.

Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya.

Sebagai campuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain berupa bekatul (dedak) dan kapur pertanian dengan perbandingan 80:15: 5. Media dimasukkan dalam plastik polypropilen dan dipadatkan kemudian diseterilisasi selama 10-12 jam.

“Sterilisasi bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikrobia lain yang bersifat antagonis dan menjadi penghambat pertumbuhan bagi tanaman induk dalam hal ini jamur tiram,” katanya.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara memanaskan baglog dengan uap panas selama 8-12 jam pada suhu ± 95 °C. Setelah sterilisasi selesai, baglog didinginkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam untuk menghindari kontaminasi baglog.

Tahapan selanjutnya adalah proses inokulasi. Inokulasi adalah proses penularan miselium dari bibit (F3) ke media tanam. Proses ini dilakukan dengan steril dan dalam ruang inokulasi. Mengenai bibit, sebelumnya ia mendapatkannya dari Lembang dan Jogja. “Sekarang kami sudah bisa memproduksi sendiri,” katanya.

Proses lanjutan yakni masa inkubasi yakni tahap penumbuhan miselia jamur. Proses ini memerlukan waktu kurang lebih 40 - 60 hari

sampai baglog berwarna putih. Krisnadi menegaskan, suhu ruang inkubasi harus dijaga dalam kondisi yang stabil dan rendah cahaya 22- 28 °C dengan kelembaban 70 – 90 %.

Setelah baglog berwarna putih merata, kemudian dipindahkan ke kumbung. Biasanya, umur baglog yang dipindahkan telah mencapai 40 hari.

Proses penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka ujung baglog untuk memberikan 02 pada tubuh buah jamur. Biasanya 7 -14 hari kemudian, tubuh buah akan tumbuh.

Setelah 7-30 hari sejak penyobekan baglog akan tumbuh tubuh buah yang terus mernbesar hingga mencapai pertumbuhan optimal yang siap dipanen (3-4 hari).

Kata Krisnadi, selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban udara harus dijaga dengan baik pada kisaran suhu 20 - 22 °C dan kelembaban 95 - 100 %, dengan cara pengembunan kumbung.

“Panen pertama 30 hari sejak penyobekan baglog, sedangkan pemanenan berikutnya setiap 10-14 hari. Tubuh buah yang sudah siap panen harus segara panen agar kualitas jamur baik,” katanya.

Bagaimana penanganan pascapanen? Kata dia, segera bersihkan jamur dari kotoran yang menempel pada tubuh buah jamur. Hal itu bertujuan untuk menjaga daya tahan produk.

“Jamur tiram segera disimpan dalam freezer agar tahan dalam waktu 1 sampai dua minggu,” katanya. Sementara untuk produk jamur kering, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 5 hari.

Paket pelatihan

Krisnadi dan kelompoknya memang berkeinginan kuat mempopulerkan jamur tiram di Pontianak. Dia berharap, jamur tiram bisa menjadi ikon selanjutnya untuk Kota Pontianak.

Dalam rangka pengembangan budidaya jamur tiram di Kota Khatulisiwa, Kelompok Pemuda Mushroom Prima yang digelutinya ini menerima peserta pelatihan budidaya.

Peserta pelatihan terdiri dari minimal lima orang dengan paket pelatihan selama empat hari meliputi teori dan praktek lapangan dengan biaya pelatihan sebesar Rp750.000/orang. “Biaya pelatihan itu sudah termasuk materi dan konsumsi siang hari,” katanya. Contact person lebih lanjut hubungi Krisnadi SHut 081328308526 atau Ridwan SPi 08125796101

Labels:

Christian Mara: Pelestari Gong Kalbar yang Diminati Negara Tetangga

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Sunday, May 11, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

TAK banyak pekerja seni di Kalimantan Barat yang mempunyai keahlian khusus membuat gong. Christian Mara, salah satunya. Kemasyhuran gong karya pria kelahiran Desa Resak, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau ini hingga terdengar ke negeri tetangga. Bahkan oleh Thailand, Christian Mara ingin ’dibajak’ untuk menunjang salah satu ikon pariwisata negeri Gajah Putih ini yakni Pantai Phuket.


SUARA benturan logam itu terdengar hingga beberapa meter jauhnya. Masih berbunyi cempreng. Belum menggelegar. Di perkarangan rumahnya yang terletak di Gang Ringin Sari I Jalan Arteri Supadio Kabupaten Kubu Raya itulah menjadi ‘pabrik’ pembuatan gong Christian Mara.

Hari itu, Kamis (10/4), pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas V SD ini sedang membuat gong pesanan salah satu sanggar kesenian di Batang Tarang. Ia hanya bekerja sendiri. Tangannya terampil memalu logam kalvanis.

Sambil memalu, indra pendengaran Mara juga ikut bermain. Menangkap setiap getaran bunyi yang keluar dari logam itu. Ia berkonsentrasi mencari nada. Gelombang suara itu akan diolahnya. Hingga membentuk suara yang menggelegar. Suara itulah kelak yang diinginkannya.

”Ini pesanan sanggar kesenian dari Batang Tarang. Mereka minta buatkan gong bobonih/boneh. Gong ini suaranya terbuka. Menggelegar seperti guntur,” kata Mara.

Kesendirian Mara dalam membuat gong bukannya tidak beralasan. Ia mengaku kesulitan mencari tenaga terampil. Butuh orang-orang yang juga pandai mencari suara, peka terhadap bebunyian, dan mahir dalam merasakan getaran. Menurutnya, keahlian khusus itulah yang diperlukan bagi pembuat gong.

Menjadi bisa, bukan berarti harus belajar secara khusus. Mara contohnya. Keahlian membuat gong didapatkannya dengan jalan otodidak. Mencoba dan mencoba. Tidak patah arang ketika gagal dalam mencoba. ”Tidak ada belajar secara khusus,” katanya.

Ada beberapa bagian yang menurut Mara mempunyai kesulitan yang berbeda saat membuat gong. Bagian-bagian itulah yang akan membuat suara alat musik itu menjadi bergema.

Bagian cekung dari gong itu disebut gelombang suara. Sedangkan di sisi gong yang menjadi bingkai alat musik itu bertugas sebagai tabung suara. Sementara bagian bulat menonjol, yang menjadi sasaran pukulan, disebut sebagai pelempar suara. Bagian lainnya, yang terletak di antara pelempar dan gelombang suara bertugas untuk menyimpan suara.

Untuk mencari nada yang diinginkan dari gong, bagian-bagian itulah yang dimodifikasi Mara. Insting, pengalaman, diramu bakatlah yang mengelolanya.

Campuran intan

Menurut Mara, gong yang biasa dimainkan oleh masyarakat Dayak atau Melayu di Kalbar, pada umumnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok. ”Untuk suara umumnya menggunakan gong dengan bunyi menggelegar. Lain dengan gong dari Jawa. Bunyinya tidak terlalu menggelar,” terangnya.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak, gong banyak menyimpan arti. Gong menjadi salah satu bagian untuk mencipta musik yang menjadi sarana penyampaian maksud-maksud serta puja dan puji kepada yang berkuasa, baik terhadap roh-roh maupun manusia biasa. Selain itu gong juga digunakan untuk mengiringi bermacam-macam tarian adat maupun upacara ritual.

Gong Boneh misalnya. Kata Mara, alat musik ini juga digunakan dalam upacara adat Notongk, upacara penghormatan terhadap abak (tengkorak manusia) yang ada pada masa mengayau/bekayau atau ngayau/kayau. “Gong ini suaranya neriu. Tiga dimensi, pengantar, dalam, dan gema. Suaranya tegas. Jika dibunyikan di kampung, jarak tiga jam kita berjalan, suaranya masih kedengaran,” ujarnya.

Jenis gong lainnya yang terkenal yakni gong tama’. Menurut Mara, gong tama’ Kalbar peninggalan zaman nenek moyang, kini diburu oleh beberapa museum dari negeri Malaysia dan Hongkong dengan kisaran harga ratusan juta rupiah. Mengapa gong tersebut begitu beharganya?

“Di bagian tempat penyimpan suara itu ada emasnya. Sedangkan di bagian pelempar suara, ada campuran intan. Masyarakat Dayak pedalaman Kalbar masih ada yang menyimpan gong ini,” katanya.

Ada sejarah mengiringi keberadaan gong ini. Mara bercerita, dahulu kala gong ini digunakan oleh masyarakat Dayak untuk upacara ritual bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan.

Pembuat Sape’

Naiknya harga besi ikut memengaruhi kreasi Christian Mara dalam penciptaan gong. “Saya juga terbentur modal,” akunya. Menurut Christian, selain dari logam kalvanis, bahan lainnya yang sangat bagus untuk membuat alat musik pukul tersebut yakni dari tembaga merah. “Harganya sangat mahal dan bahannya susah didapat. Tapi gong dari logam ini suaranya sangat bagus,” katanya.

Satu buah gong dengan ukuran sekitar satu meter, Christian bisa menghabiskan waktu selama seminggu untuk menciptakannya. Ia biasanya menjual alat musik ini per set. Satu setnya dia tawarkan dengan harga Rp9,5 juta.


Satu set alat musik tersebut juga diantaranya terdiri dari kenong, ketobong, sape’, dan sangsarut. Konsumennya banyak dari sanggar-sanggar kesenian di Kalbar hingga Pulau Jawa. “Bahkan dari Keraton Solo juga ada yang mesan dengan saya,” katanya.

Suami dari Mega dan ayah dari David Fernandes dan Kinsan Sures ini termasuk piawai dalam membuat alat musik tradisional lainnya. Ia pandai membuat beduk dan jago membuat sape’.

Khusus untuk sape’, sejenis gitar dengan dawai berjumlah 3 atau 4 yang biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak, Mara sudah terlatih membuatnya jauh sebelum dia mengenal cara membikin gong. “Kalau gong saya mulai membuatnya tahun 90-an, tapi kalau sape’ dari saya kecil sudah bisa membuatnya walau masih dalam bentuk aneh,” katanya.

Christian Mara juga merupakan penari tradisional Dayak, pembuat musik tradisional sekaligus memainkannya, pencipta lagu dan penyanyi yang tergabung dalam Sanggar Bengkawan.

Mengajar di Sibu

Keahliannya dalam kesenian tradisional ini mengantarkannya menjadi pelatih musik di Sanggar Sri Kelayang, Sibu, Malaysia selama dua tahun. Saat merantau ke negeri seberang itu, Mara lebih fokus pada kesenian Melayu. Bahkan dia mengajar murid-murid Malaysia, dari sekolah ke sekolah untuk belajar kesenian tradisional itu.

Di sana, dia banyak berteman dengan orang-orang yang secara khusus berkecimpung di dunia seni. Akademisi yang bergelar profesor seni pun menjadi sahabat karibnya. Penghargaan akan kesenian tradisional dan mempertahankan khasanah budaya bangsa begitu diperhatikan oleh pemerintah negara tetangga.

Secara khusus, dia juga menerima tawaran dari salah satu universitas kesenian di Thailand. “Mereka minta saya membikin alat musik tradisional sekaligus mendemontrasikannya di Pantai Phuket Thailand. Saya diharuskan membikin alat musik di sana dan disediakan tempat. Itu salah satu cara untuk memikat wisatawan. Tawaran itu tidak langsung saya iyakan karena akan tinggal di sana dalam jangka waktu lama,” katanya.

Menularkan ke generasi muda

Bersama rekan-rekan pekerja dan peminat seni budaya Kalbar lainnya, Christia Mara juga bergabung dalam wadah Majelis Budaya dan Seni Tradisi Terapan (Madyastrad) Kalbar pimpinan Mul’am Husairi.

Wadah ini membawa misi. Menggali tradisi budaya dan kesenian apa saja yang ada di Kalbar. Sasaran utama lembaga ini adalah melakukan pendidikan budaya dan seni tradisional Kalbar pada generasi muda. “Kita ingin agar generasi muda mengenal kebudayaannya. Mudah-mudahan ada respon dari pemerintah kita,” katanya.

Mengutip pernyataan Mul’am Husairi saat konfrensi pers pembentukan Madyastrad Kalbar pada awal Maret lalu di Hotel Santika, “Anak-anak muda kita kenal dengan alat-alat band saja, mungkin tak terlalu banyak yang bisa bermain sape’. Nah, harus ada peran semua pihak agar generasi muda kita juga tidak lupa dengan alat musik tradisional daerah kita.” (**)

Labels:

Captain Jack Balek Kampong

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Friday, May 9, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Teks Foto: Aksi Panggung CJ pada penutupan Polnep Fair & Expo 2008, 2 Mei 2008 (foto ist.)

*Datang dengan Amunisi Baru, ‘Bakar’ Kota Khatulistiwa

Captain Jack (CJ) is back! Ya, lama berkelana di event-event musik Jogja dan sekitarnya, band cadas yang hampir semua personilnya anak-anak muda berbakat Pontianak ini kembali melaksanakan ritual ‘balek kampong’.


Efprizan, Pontianak

MEREKA ‘membakar’ Kota Khatulistiwa dengan musknya. Tentunya, masih lewat serangan musik berdistorsi tingkat tinggi nan kasar. Datang dengan amunisi baru, lewat album perdana yang sebentar lagi diluncurkan, The Fall of Concept, CJ sukses mengobok-obok emosi Jackers di puncak acara penutupan Polnep Fair & Expo 2008, Jumat (2/5) malam.

Ribuan Jackers (sebutan untuk fans CJ) tumpah ruah di depan panggung yang akan dipakai band ini untuk meletupkan energi dan meneriakkan semua kemarahan.

Sekitar pukul 21.20, panggung yang sebelumnya dipakai juga oleh artis-artis pengisi acara pentupan Polnep Expo itu diambil alih CJ. Raungan gitar Ibanez AX yang ditenteng Momo, sang Vocalis, menyatu dengan distorsi kasar suara PRS SE, yang dipakai gitaris additional, Adai.

Sekadar diketahui, penampilan CJ kali itu tanpa ditemani oleh gitaris mereka, Zuhdil a.k.a Sancho, yang berhalangan hadir. Walau tanpa gitaris andalan mereka, Aday, gitaris 13 Fighting yang didaulat sebagai pemain pengganti, mampu mengisi kekosongan itu dengan melahirkan riff-riff maut.

’Buat yang Percaya’ menjadi tembang pembuka pembakar emosi awal para Jackers. Betotan bass GNL L 2000 Novan Maltuvanie bertempur dengan gebukan drum Andi de Babon. Lengkap rasanya dengan paduan semi orkerstra dari keyboard yang digawangi Ismed. Semakin menambah kelam aura tembang tersebut.

Menyusul kemudian ‘Hati Hitam’ dibawakan. Lagu yang dicomot dari mini album kedua mereka, The Fall of Concept ini rencananya akan didaulat menjadi hits single.

Cukup pantas, mengingat tembang yang bercerita tentang seseorang yang telah ‘terkontaminasi’ dan ingin kembali ke dirinya yang sebenarnya ini memang cukup berbobot baik dari segi lirik maupun aransemen musikalitas. Hal ini terbukti dengan lahirnya moshing para Jackers ketika tembang ini dibawakan.

Entah Sampai Kapan’ menyusul kemudian. Lagu yang diakui sang vocalis, Momo, sebagai curhatnya ini sukses mereka bawakan. Scream Novan menjadikan lagu yang sekilas mengingatkan kepada salah satu tembang Pantera di album ‘The Great Southern Trendkill’ ini menjadi lebih kelam.

Tembang selanjutnya, kembali mereka membawakan lagu baru ‘Pengkhianat’. Pada lagu ini sekali lagi tercipta koor Jackers sembari mengangkat jari tengahnya tinggi-tinggi.

Sembangat terus dibakar lewat permainan ciamik CJ. Setelah rehat sejenak, secara medley, hits bernuansa balada ‘Pahlawan’ dibawakan hanya dengan petikan gitar. Para Jackers bernyanyi. Menyatu dalam alunan lagu.

Sekali lagi, moshing kembali tercipta tatkala lagu ‘Sempurna’ dibawakan. Masih belum puas dengan crowd yang semakin ‘menggila’, CJ kembali membawakan lagu baru mereka ‘Zombie TV ’.

Klimaks penampilan mereka ditutup dengan lagu andalan ‘Munafik’. Para Jackers tak henti-hentinya ikut bernyanyi dari awal hingga akhir lagu. Total tembang yang mereka bawakan ada 11 lagu, dengan tiga lagu baru di dalamnya.

Dalam kesempatan wawancara, Vocalis CJ, Momo, mengatakan bahwa album EP (mini album) kedua ini rencananya akan diluncurkan pada akhir Mei.

Alumnus SMAN 3 Pontianak yang mempunyai nama asli Muhammad Dani Febriyandi ini mengatakan pada album baru tersebut akan ada enam lagu yang secara kualitas sound, lirik, dan tema mengalami perubahan.

“Di album baru ini kita mencari sesuatu yang baru. Banyak perubahan yang terjadi. Yang pasti perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Seperti secara sound dalam lagu album baru ini akan lebih matang, dinamis, dan kaya akan eksperimen” katanya.

Album EP terbaru The Fall of Concept tersebut masih dirilis di bawah bendera Hell Angel Record, label yang juga menggarap EP perdana CJ, Undmindless.

Band yang kini dimanajeri oleh Michael ini juga telah merampungkan proses pembuatan video klip untuk album teranyar mereka. Untuk video clip tersebut, CJ justru membuatnya untuk lagu hits kedua mereka ‘Pengkhianat’. (**)

Labels: