Sepakat Bentuk Kaukus
Biar Lebih ’Bertaring’
Bersuara di Pusat
Banyak yang bilang Politikus Kalbar yang berjuang di Senayan belum tampil all out untuk daerah. Ditengarai, penyebab utamanya adalah para legislator belum satu suara, selangkah, dan seirama dalam bersikap dan berjuang untuk provinsi ini.
Karena itu, untuk lima tahun ke depan, politikus Kalbar di Senayan periode 2009-2014 harus berjuang bersama membangun daerah. Ada Kaukus Kalbar yang menaunginya. Isinya 10 anggota DPR Asal Kalbar. Jika dimungkinkan, juga ditambah 4 Dewan Perwakilan Daerah dari provinsi ini.
Dengan konsep demikian diyakini posisi tawar Kalbar di pemerintah6 pusat lebih kuat. Punya taring untuk menekan. Untuk lingkup selanjutnya, Kaukus Kalbar bergabung dengan provinsi lain di pulau ini menyatukan suara lebih besar lewat Kaukus Kalimantan.
Demikian salah satu pemikiran yang disepakati delapan calon legislatif (caleg) DPR RI asal Kalbar yang mencoba peruntungannya lewat pemilu nanti dalam dialog akhir pekan yang diselenggarakan Pontianak Post dan Radio Vista kemarin (31/1) di Meja Bundar Lantai V gedung Graha Pena Pontianak.
Mereka yang hadir dalam dialog tersebut yakni Buchary A Rachman (PDI Perjuangan), Hendry Jurnawan (Golkar), Ilham Sanusi (Partai Merdeka), M Arya Tanjungpura (Barnas), Rudyzar ZM (PKB), Sukiman (PAN), Syarif Said Husin Alkadrie (PPD), dan Zulfadhli (Golkar).
Dialog yang mengusung tema ‘Tokoh Kalbar Bidik Senayan; Seperti Apa Konsep Mereka?’ ini disiarkan langsung oleh radio yang mengudara di 92,4 FM.
Acaran ini juga melibatkan pendengar yang bisa berinteraksi langsung dengan nara sumber. Aryo dari Radio Vista menjadi pemandunya. Hadir pula Pemimpin Redaksi Pontianak Post B Salman dan awak redaksi.
“Sepuluh anggota DPR RI dari Kalbar nanti jangan berjuang sendiri-sendiri. Harus sama-sama bergandengan tangan membentuk Kaukus Kalbar. Bisa tambah DPD. Bentuk juga Kaukus Kalimantan. Dengan bergabung, suara kita lebih besar, posisi tawar kita jadi lebih besar,” kata Buchary A Rachman.
”Satukan langkah, satukan niat untuk bersuara satu. Dengan sistem suara terbanyak, peluang orang daerah untuk duduk di Senayan menjadi besar,” tambahnya.
Sementara Arya Tanjungpura sangsi jika para Politikus Senayan asal Kalbar yang terdahulu saling akrab dan mengenal satu sama lainnya.
”Saling kenal pun mungkin tidak. Periode selanjutnya mudah-mudahan tidak terjadi. Harus ada keterikatan antarlegislator Kalbar di Senayan. Mereka harus bersatu untuk amanah rakyat yang akan diemban hingga lima tahun ke depan nanti,” katanya.
Senada Buchary, menurut Arya dengan sistem suara terbanyak nanti akan menguntungkan politikus asal provinsi ini yang akan duduk di Senayan.
”Tidak tertutup kemungkinan orang luar Kalbar juga dapat kepercayaan. Yang penting harus ada komitmen dulu. Politikus Senayan dari Kalbar harus kompak. Memang kita terikat oleh partai, tapi amanah rakyat harus diutamakan. Jika pun partai merecall kita, rakyat akan membela jika kita benar-benar berbuat untuk daerah ini,” bebernya.
Sementara Sukiman mengatakan, dari 10 legislator Kalbar di Senayan, diharapkan empat diantaranya duduk sebagai anggota panitia anggaran. Jika terjadi, hal ini akan sangat menguntungkan provinsi ini dalam kebijakan pengalokasian dana dari pusat.
”Tahun lalu hanya 1 orang legislator kita yang masuk panang. Minimal harus ada 4 orang yang masuk panang. Dalam sebuah kaukus itu harus ada kerjasama yang baik guna mendorong, mana dari 10 orang itu yang akan masuk ke dalam panang,” ujarnya.
Syarif Said Alkadrie juga mengusulkan agar legislator Kalbar di Senayan nanti berkompromi agar menempatkan satu orang di setiap komisi.
”Di DPR ada 11 komisi. Satu orang satu komisi. Komisi1 yang berhubungan dengan luar negeri kita boleh tidak menempatkan wakil. Tapi komisi II sampai XI harus ada. Jika memungkinkan komisi tersebut dipimpin oleh legislator Kalbar,” ujarnya.
Sepakat Pemekaran
Para peserta dialog juga sepakat bahwa agenda pemekaran harus menjadi priorotas utama bagi politikus Senayan dalam berkiprah. Agenda utama yang harus digolkan dalam waktu dekat yakni persetujuan pemekaran Provinsi Kapuas Raya.
Menurut Zulfadhli, rencana pemekaran tersebut di daerah sudah final. Hingga tingkat Gubernur Kalbar, kata Zulfadhli, telah membuat surat persetujuan. Begitu pula dengan persyaratannya yang tidak ada permasalahan.
”Agenda ini harus menjadi priorotas. Begitu pula dengan pemekaran kabupaten/kota lainnya di provinsi ini juga harus dituntaskan seperti peemekaran di Kabupaten Sintang, Sanggau, Sambas, Kapuas Hulu dan Ketapang,” katanya.
Sementara Ilham Sanusi bilang, ”Peran ini harus dimaksimalkan oleh legislator Kalbar. Anggota dewan nanti harus mampu mendorong dan melobi pusat. Kalimantan harus dimekarkan terus. Bila perlu dimekarkan menjadi tiga provinsi. Rentang kendali pemerintahan kita sangat panjang sehingga menghambat pembangunan,” katanya.
Syarif Said Alkadrie mengatakan sebetulnya Kalbar terlambat dari segi pemekaran daerah. Di provinsi lainnya, pemekaran daerah telah banyak terjadi. Siapapun yang kelak duduk sebagai wakil rakyat di Senayan, dia berharap usulan pemekaran di beberapa daerah di Kalbar harus terus diperjuangkan.
”Sepanjang aspirasi pemekaran tersebut kuat disuarakan masyarakat dan legalitasnya terpenuhi maka DPR harus komitmen memperjuangkannya,” katanya.
Hendri Jurnawan bersuara, pemekaran kabupaten/kota dan provinsi juga harus diimbangi dengan peningkatan kerjasama lintas daerah sehingga saling mengisi kekurangan dan kelebihan antara yag satu dengan lainnya.
Selain ‘kue’ anggaran pembangunan yang didapatkan akan lebih besar, kata Buchary A Rachman, dengan pemekaran, juga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Pemekaran dengan tujuan kesejahteraan itu baik. Tapi jangan sampai dimekarkan, lalu kembali merger dengan daerah induk. Pemekaran yang dilakukan jangan berdasarkan emosional, tapi rasional. Jangan dimekarkan, satu hidup lalu daerah asalnya mati.Kita mendukung pemekaran yang dilakukan secara cerdas dan bukan yang membabi buta,” kata mantan Walikota Pontianak dua periode ini.
Benahi infrastruktur
Masalah infrastruktur dasar yang minim juga menjadi permasalahan utama Kalbar yang harus diperjuangkan wakil rakyat. Begitu pula dengan perundang-undangan yang banyak memberatkan masyarakat Kalbar juga turut disinggung.
”Payung hukum mengenai infrastruktur harus diperjuangkan. Contohnya saja dalam pembangunan pelabuhan internasional. Mutuskan untuk menetapkan lokasi pelabuhan apakah di Temajo, Tanjung Gundul, atau di daerah Sambas, yang hanya memerlukan Surat Keputusan Menteri Perhubungan, sampai sekarang masih menggantung,” kata Zulfadhli.
Contoh lainnya yang diungkapkan Ketua DPRD Kalbar ini yakni terkait status jalan yang banyak belum dilakukan perubahan dari provinsi menjadi milik nasional sehingga dalam pemeliharannya terkendala biaya.
”Cukup dengan keputusan menteri sudah bisa mengubah itu. Ini yang harus fokus diperjuangkan oleh wakil rakyat dan mesti ada komitmen kuat dari seluruh anggota dewan Senayan asal Kalbar,” katanya.
Revitalisasi dan revisi UU atau payung hukum lainnya yang sudah ada dan menggunakan UU yang sudah ada untuk kepentingan pembangunan Kalbar juga menjadi komitmen para caleg yang mengikuti dialog tersebut jika terpilih nanti.
”Regulasi yang dibuat banyak terjun bebas. Bagaimana Menteri Perdagangan membuat aturan yang tidak mengizinkan impor lewat pintu masuk Entikong. Padahal ada perjanjian Sosek Malindo,” kata Rudyzar. DPR, kata dia, semestinya peka dan bisa memanggil menteri terkait untuk membatalkan regulasi itu. Ditambahkan Hendry Jurnawan, “DPR asal Kalbar harus bisa perjuangkan kawasan khusus di perbatasan.”
Tuesday, February 17, 2009
Tokoh Kalbar Bidik Senayan; Seperti Apa Konsep Mereka
Friday, February 13, 2009
Eksotika Dayak Lewat Perkusi Kebun Kopi
foto:shando*b'ring
Konser Pembuka Sebelum Tampil di Festival Internasional
Dunia musik perkusi etnik Kalbar mulai unjuk gigi. Adalah Komunitas Seni Kebun Kopi yang mendobraknya dengan mengadakan konser tunggal lewat musik perkusi Dayak dengan tajuk ’Kaki Rimba’. Tujuh karya etnik dengan racikan komposisi eksotik akan ditampilkan 35 seniman. Karya yang kelak juga akan mengiang di telinga masyarakat internasional.
Selasa Sore bengkel musik Taman Budaya riuh dengan tetabuhan musik perkusi. Tabuhan gong berpadu ritmik dengan tabuhan kubeh. Suara kenong dan suling memperdalam suara. Nuansa magis tercipta.
Para seniman perkusi yang tergabung dalam Komunitas Kebun Kopi kala itu sedang berlatih komposisi Mpepat Karya Ferdinan, S.Sn. Mpepat diambil dari bahasa Dayak Suru’ Kapuas Hulu yang berarti kunang-kunang.
Sebuah filosofi hidup tentang cahaya, di mana hidup bukan sebuah perjalanan tanpa ada tujuan dan makna. Aliran musiknya mengalir. Persis seperti kehidupan. Cerita tentang kehidupan itu diapresiasikan mereka lewat musik perkusi.
Mereka mengekspresikan sebuah karya yang dapat berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Layaknya sebuah cahaya terang yang terpancar pada diri manusia, seperti kunang-kunang yang bercahaya dalam kegelapan.
”Bukan seberapa terang cahaya kau berikan, tetapi seberapa banyak orang lain dapat memanfaatkan cahaya itu, hingga dirimu dikenali orang lain dengan cahayamu sendiri,” kata Herfin Yulianto, manager Kebun Kopi menceritakan filosofis karya yang akan mereka tampilkan nanti.
Karya ini memuat beberapa tabuhan tradisional Dayak Kanayatn dan Kapuas Hulu dengan pengembangan pola ritme. Pengembangan ini mencoba menggabungkan pola ritme modern, sehingga membentuk suatu progresif ritme dalam pola musik tradisi untuk melihat peluang perkembangan pada khasanah musik yang dimiliki masyarakat Kalbar.
Ada tujuh karya yang akan mereka tampilkan pada pentas tunggal musik perkusi Dayak yang diberi tajuk ’Kaki Rimba’ pada Jumat-Sabtu (27-28 Februari 2009) di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Kalbar mulai pukul 19.00 hingga selesai.
Selain Mpepat, karya lainnya yang akan mereka persembahkan dalam konser tunggal nanti yakni; Ain Mum Ain Karya: Ferdinand Martin, SP. dan M. Davi Yunan, Kakirimba Karya: Ferdinan, S.Sn , Racun Bullanak Karya: Ferdinan, S.Sn, Lantang (di sini, lantang kudengar jerit mereka) Karya: Ferdinan, S.Sn, dan Kepada Pitara Karya: Ferdinan, S.Sn.
Karya-karya tersebut merupakan hasil eksplorasi dan imajinasi mereka selama setahun dalam mengekspresikan keindahan dan keeksotisan seni dan budaya Dayak.
Selain bersifat indoor, kegiatan nanti juga ada yang bersifat outdoor. Saingnya mulai pukul 11.00 ditampilkan beragam stand seni budaya Dayak seperti alat musik tradisi, sumpit, kerajinan manik, dan tato. Pameran foro dan partisipasi dari sepeda onthel juga akan mewarnai acara.
Herfin Yulianto bilang, konser ini merupakan batu loncatan bagi Kebun Kopi sekaligus pembuktian dan ujian untuk melebarkan panggungnya memperkenalkan kesenian Kalbar ke kota lain.
”Sebelum kita manggung ke kota lain di luar Kalbar, kita harus mempersembahkan karya kita terlebih dahulu di hadapan publik sendiri,” ujarnya.
Ajang musik etnik skala internasional menjadi target utamanya untuk unjuk gigi dan memperkenalkan keeksotisan kesenian Dayak Kalbar.
”Sebenarnya kita ingin mengikuti ajang tahunan musik etnik internasional di Sarawak, Rainforest World Music Festival 10-12 Juli 2009. Tapi persiapan yang mepet, tampaknya kita tidak bisa mengejarnya. Tahun depan menjadi target utama kita untuk mengikutinya,” katanya.
seperti dikutip dari situs resminya, www.rainforestmusic-borneo.com, beberapa negara sudah mengonfirmasi kesediannya untuk mengikuti festival tahunan itu diantaranya; St. Nikolas Orchestra – Poland, Noreummachi – Korea, Zawose Family – Tanzania, Poum Tchack – France, Red Chamber - Canada/China, Inti Illimani – Chile, Jeff & Vida Bluegrass Band – US, Oudaden – Morocco dan masih banyak lainnya.
Sementara delegasi indonesia yang sudah memastikan diri untuk menjadi bagian dalam festival berkelas internasional tersebut yakni Sekaa Jaya Jenggala yang merupakan salah satu grup perkusi etnik dari Bali yang membawakan gamelan ensemble.
”Kami berharap dengan konser tunggal pertama kami ini meretas jalan bagi kami untuk berkiprah di pentas musik perkusi internasional,” kata Harfin.
Penjualan tiket konser tunggal musik perkusi Dayak Kebunkopi ini sudah dapat dipesan dengan harga tiket tanda masuk mulai dari Rp100 ribu—Rp10 ribu. Pemesanan bisa dilakukan di sekretariat Kebun Kopi Jalan Martadinata 12 (Tamasya Tour) 0561-777889. (**)
Rindang Alam; Resto dengan Konsep Kembali ke Alam
Menikmati Kepiting Saos Naga di Tengah Sejuknya Kebun Buah
*foto shando&timbul
Bosan dengan restoran yang konvensional dengan nuansa dan menu biasa-biasa saja? Kenapa tidak beralih ke Restoran Rindang Alam. Sudah menunya istimewa, makannya pun di udara yang sejuk. Di tengah kebun dengan aneka buah-buahan.
Semuanya serba istimewa jika Anda menyambangi Rindang Alam Resto yang terletak di Jalan Ampera dekat Polsek Kota Pontianak. Baik itu istimewa menunya, maupun istimewa tempatnya.
Bagi yang ingin berwisata kuliner, boleh dibilang resto yang berdiri pada 18 Oktober 2008 ini menjadi rumah makan wajib untuk dikunjungi.
Restoran yang terletak di pinggir Kota Pontianak ini memang mengusung tema back to nature. Berdiri di lahan 1,6 Ha, lokasi rumah makan ini memang sebelumnya adalah kebun buah-buahan.
Di sana terdapat beragam jenis buah tropis mulai dari jeruk, belimbing, manggis, jambu, lengkeng, durian, buah naga, hingga buah dari papua, matoa, juga tumbuh di sana. Mau makan lesehan, atau formil di atas meja, sama santainya.
Pontianak Post berkesempatan menyicipi menu baru Rindang Alam. Nama menunya ’kepiting saos naga’. Ya, kepiting tersebut disajikan dengan lumeran saos buah naga yang berasa asam manis. Bisa dibayangkan kelezatannya ketika menyentuh lidah.
Lembutnya daging kepiting dengan cocolan saos buah naga ini memang tiada duanya. Sangat direkomendasikan bagi Anda.
Menu baru lainnya yang bakal menjadi andalan resto ini yakni sayur keladi cah tengkuyung.
Rempah-rempah spesial berpadu dengan empuknya daging keladi. Sementara tengkuyungnya, bisa Anda seruput. Sruupppp...Satu porsi dirasakan tak akan cukup untuk menikmati kelezatannya.
Kenikmatan semakin menjadi-jadi ketika kepiting saos naga dan dan sayur keladi cah tengkuyung tadi bertemu dengan nasi bakar ala Rindang Alam.
Harum nasi bakar yang dibungkus daun pisang itu semakin memacu semangat untuk segera melahapnya. Belum cukup dengan menu tadi, ada masakan baru lainnya yang baru diluncurkan bulan ini yakni ayam tumis terasi dan ayam serundeng.
Untuk memuaskan dahaga, Anda bisa memesan avocado the coffe yakni jus alpukat yang diblend dengan kopi. Racikan minuman ini sangat mantap dan pas. Sangat segar ketika sari-sari alpukat ini membasahi tenggorokan.
Jika bukan penggemar alpukat, juga bisa merasakan nikmatnya punch timun. Sari timun ini begitu segar apalagi ditambah mint di dalamnya.
Menu-menu di Rindang Alam memang dimasak oleh koki berpengalaman. Selain itu, setiap dua atau tiga bulan sekali selalu saja ada menu baru yang menggugah selera. Ini yang membuat betah para pengunjung.
Menurut pengelola rindang alam, Yuni, resto ini juga menyediakan menu spesial untuk setiap pekannya. Pengelola memberi lebel ‘Menu of The Day’.
Menu ini bisa bertahan selama tiga hari atau bisa juga seminggu. Tentatif lah,” katanya. Minggu ini pengelola menyediakan sop kaki kambing sebagai ’menu of the day’. ”Kalau menu of the day, tidak setiap saat bisa disuguhkan,” ujarnya.
Pesta kebun
Pesta kebun kini menjadi gaya tersendiri bagi masyarakat urban. Baik untuk acara pernikahan, ulang tahun, acara kantor, reuni sekolah, dan lainnya. Rindang Alam pun menangkap kebutuhan ini dan menyajikannya untuk masyarakat Pontianak.
”Pesta pernikahan dengan konsep pesta kebun di kota-kota besar sudah lazim, kami menghadirkannya di Pontianak, di Rindang Alam,” kata Yuni.
Pihak pengelola memberikan harga terjangkau untuk paket pesat ini dengan kisaran harga Rp40 ribu hingga Rp75ribu per-pack.
Selain itu, Rindang Alam juga menjadi laboratorium alam bagi anak-anak sekolah. Berwisata kuliner sambil mengenal buah-buahan.
”Anak-anak sekolah mulai TK hingga SD banyak yang datang ke sini bersama gurunya. Selama ini kan mereka tahu buah durian atau jeruk tapi tidak pernah melihat pokoknya. Di sini mereka bisa belajar sambil bermain,” kata Yuni.
Bagi yang gemar memancing, Rindang Alam juga menyediakan kolam pemancingan yang letaknya mengelilingi restoran. Tersedia beragam jenis ikan mulai dari gurameh, jelawat, mas, belidak, nila, dan ikan lainnya.
Rindng Alam juga menyediakan Runchresto, B&B Coffeclub, Gallery, function room, dan outside catering. Gallery menyediakan berbagai souvenir untuk cenderamata para relasi bisnis.
Ke depan, pengelola juga berencana membuat ruang pertemuan yang bisa menampung hingga lebih 100 orang. Saat ini Rindang Alam baru sebatas menyediakan ruang rapat untuk kegiatan dengan kapasitas 10 orang. Masyarakat yang ingin memesan dapat menghubungi nomor telepon 0561-7069161. (**)
Thursday, February 12, 2009
Jason Horas; Berkeliling Dunia dengan Bahasa Isyarat
*Kagum Liukan Naga Khatulistiwa dan Budaya Kalbar
Keterbatasan fisik tidak menjadikan alasan bagi Jason Horas melanglang buana berkeliling daerah bahkan dunia. Pria tuna rungu wicara yang 12 Maret nanti genap berusia 22 tahun ini telah berkelana hingga ke Thailand seorang diri. Untuk satu tujuan mengenal adat istiadat dan budaya Indonesia dan negara lain di penjuru dunia.
Tubuhnya tinggi besar. Berbadan tegap. Seragam Pramuka yang ia kenakan mempertegas kewibawaannya. Rabu siang, Jason bertandang ke Gedung Graha Pena Pontianak Post.
Dia datang sendiri. Ada satu set album yang dia bawa bersama tasnya. Dalam album itu disimpan seluruh piagam yang berisikan keterangan dari pemerintah setempat berikut foto-foto dari banyak kota di seluruh penjuru Indonesia, bahkan negara ASEAN yang telah dia kunjungi.
Jason berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Wawancara pun dilakukan tidak dengan lisan, melainkan tulisan. Sudah empat hari ini dia di Kota Khatulistiwa.
Hari ini (Kamis) Jason rencananya akan melanjutkan perjalanannya ke Kuching Sarawak Malaysia. Pria kelahiran Surabaya ini merupakan Anggota Pramuka Luar Biasa (APLB) Cacat Tuna Rungu Indonesia Makasar.
Dia tinggal di Jalan Kerung-kerung Raya Nomor 36 Makasar Sulawesi Selatan. Setelah lulus dari SLB-B Samarinda, dia kemudian hijrah ke Makasar.
Perjalanannya berkelana keliling daerah di Indonesia bahkan dunia dimulainya sejak tahun 2007. Banyak tempat telah dia singgahi mulai dari Makassar, Balikpapan, Surabaya, Jakarta, Bali, Batam, hingga Papua.
Di daerah-daerah tersebut, Jason juga disambut dan mendapat jabat erat dari para pejabat. Seperti pada 19 Februari tahun lalu, dia berkesempatan bertemu dengan Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang.
Jabat erat dari Menkokesra dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Mutia Hatta pernah dirasakan Jason. Hanya satu keinginannya yang belum sempat terwujud hingga sekarang yakni bertemu dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Sementara negara ASEAN yang telah dia kunjungi yakni Thailand, Bangkok dan Songkla (30 Oktober-3 November 2008), Kuala Lumpur Malaysia (28 Oktober), Sabah, Kinabalu Malaysia (18 Juni 2008) dan Brunei Darussalam (19 Juni 2008).
Bagaimana Jason mendapatkan biaya untuk keliling daerah? ”Di setiap tempat yang saya kunjungi, biasanya saya mendapatkan sejumlah dana dari donatur dan para pejabat di daerah,” katanya.
Kemarin (11/2) dia juga menyambangi Pemprov Kalbar. Jason ingin bertemu dengan Gubernur Kalbar Cornelis. Sayangnya, keinginan itu belum tercapai. ”Bapak Gubernur sedang ke Malaysia,” kata dia.
Jason hanya bertemu Asisten Administrasi dan umum unit bagian kepala Biro Umum. Ada plakat yang dia terima yang ditandatangani Suzarsono.
Dia juga mendapatkan piagam dari Pontianak Post sebagai kenang-kenangan bahwa Jason sudah menyambangi Graha Pena. Tak lupa dia juga berfoto di depan gedung sebagi tanda mata.
Banyak hal yang sudah dilihat Jason di Kota Pontianak, baik budaya maupun objek wisata. Hal yang menarik bagi dirinya adalah karnaval naga yang dihelat pada perayaan puncak Cap Go Meh yang berarak di Jalan Gajahmada.
“Menakjubkan,” kata Jason mengomentari atraksi itu. Dia belum pernah melihat naga yang meliuk-liuk dengan ukuran yang sangat panjang. Dia juga kagum dengan budaya multietnis provinsi Kalbar. ”Saya juga ingin ke Tugu Khatulistiwa,” katanya.
Di Pontianak, dia menginap di salah satu kos di Jalan Ismail Marzuki Pontianak. Kata dia, di Kota Khatulistiwa ini dia mempunyai teman sesama tuna rungu. ”Dia meminjamkan motor kepada saya untuk keliling kota,” katanya.
Perjalanan Jason masih panjang. Seluruh provinsi di Indonesia ingin dia singgahi. Begitu juga dengan seluruh negara ASEAN, dan dunia belahan lainnya. Hasil perjalanannya ini akan dia bukukan kemudian.
Jason memang tak mampu banyak bicara lewat kata-kata. Akan tetapi lewat keinginannya yang kuat untuk mengenal budaya Indonesia dan negara lainnya di dunia, kekurangannya itu tidak menjadi penghalang.
Jason menjadi lebih eksis lewat kemampuan, keterampilan, dan karya-karyanya serta keberaniannya berkeliling Indonesia dan dunia seorang diri. Menunjuukkan bahwa dirinya mampu hidup mandiri. Sesuatu yang mungkin tidak berani dilakukan oleh manusia-manusia normal di usia seperti dirinya. (**)
Friday, November 28, 2008
Paryadi; Kepala Daerah Termuda di Kalbar
Muda, enerjik, kritis, dan penuh dengan ide-ide pintar yang terkonsep danakan diaplikasikan saat menjabat wakil walikota. Itulah Paryadi. Karier politik pemuda 30 tahun ini melesat cepat.
Pria yang baru melepas masa lajang 24 Agsutus lalu ini kini menjadi buah bibir masyarakat Kota Khatulistiwa. Sebentar lagi dia dinobatkan menjadi wakil walikota. Masyarakat yang memilihnya. Lewat pemilihan langsung Sabtu (25/10) lalu.
Ia menjadi pasangan Sutarmidji. Lewat duo kepemimpinan inilah, masyarakat mengamanahkan kemajuan dan peningkatan kemakmuran masyarakat Kota Khatulistiwa hingga lima tahun ke depan. Hasil perhitungan suara dari PPS se-Kecamatan Pontianak, pasangan dengan singkatan ’Siip’ ini mendapat 85.340 suara atau 34,47 %.
Kopi dengan campuran creamer masih hangat di Senin (27/10) pagi menjelang siang itu. Mengenakan baju kaos dengan celana panjang kain sembari menghisap sebatang rokok, Paryadi terlihat sibuk menerima telepon.
Wawancara dengan saya dilakukan di sebuah warung kopi depan asrama putra Kabupaten Natuna di Jalan Sepakat II, tidak jauh dari rumah mertuanya.
Gayanya tak berubah. Masih suka ngopi. Kumpul dengan sesama rekannya. Masih suka bergaul dengan masyarakat dan menyerap aspirasinya. Dan masih doyan bercanda. Karier politiknya saja yang sudah berubah. Dulu Anggota DPRD Kota Pontianak. Kini, sebentar lagi jadi Wakil Walikota.
”Bersyukur, senang, dan bahagia akan amanah yang diberikan oleh masyarakat ini,” kata Paryadi membuka pembicaraan. Telepon genggamnya terus berdering. Masyarakat, kolega, simpatisan, tak henti-hentinya memberi ucapan selamat melalu telepon selulernya. Baik menelpon secara langsung atau melalui pesan singkat di telepon selulernya.
Masyarakat yang kebetulan lewat di kedai itu juga disapanya. Beberapa memberikan ucapan selamat. Beberapa koleganya juga hadir di warung kopi itu. Pembicaraan, masih seputar perolehan suara pilwako yang baru saja selesai dilaksanakan dan berlangsung aman dan damai.
Langah politik praktis pria kelahiran Pontianak, 8 Februari 1978 ini bermula pada tahun 2002 dengan menceburkan diri ke Partai Kebangkitan Bangsa. Ia masuk menjadi pengurus kecamatan di partai tersebut.
Pemilihan legislatif 2004 menjadi ajang pertarungan politik selanjutnya. Alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura ini menjadi calon anggota legislatif PKB untuk DPRD Pontianak.
Langkahnya menuju gedung Parlemen Pontianak mulus. Ia mendapat dukungan lebih dari 2.600 suara. Paryadi menjadi anggota dewan kota termuda periode 2004—2009. Umurnya waktu itu baru 26 tahun.
Empat tahun menjadi wakil rakyat dan memperjuangkan segala aspirasinya, ada rasa yang mengganjal bagi dirinya. Ganjalan itu ketika aspirasi rakyat yang diperjuangkan masih terbentur kebijakan dari eksekutif.
Sedikit modal nekat dan dukungan dari keluarga, kolega, dan pendukungnya, Paryadi memberanikan diri ikut terjun dalam bursa pencalonan Pilwako Pontianak 2008.
Ia menjadi pendamping Sutarmidji, sang incumbent untuk bertarung dengan enam kontestan lainnya. Sama-sama muda dan satu visi misi dalam membangun Kota Pontianak, mereka berjuang. Berjuang untuk membangun Kota Khatulistiwa menuju pembangunan yang adil dan sejahtera.
Dukungan penuh untuk menjadi orang nomor dua di Kota Pontianak juga dipersembahkan oleh sang istri. Perempuan bernama Ria Melati yang dinikahinya pada 24 Agustus lalu ini kini tengah mengandung. Usia kandungan news presenter TVRI Pontianak ini jalan dua bulan.
Paryadi pun mendapatkan kebahagiaan ganda. Akan menjadi wakil walikota dalam waktu dekat dan akan menjadi ayah. ”Mohon doanya nih. Mudah-mudahan selamat,” katanya seraya tersenyum.
Peduli pemuda
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Jombang ini juga aktif dalam organisasi kepemudaan seperti Wakil Ketua KNPI Kalbar dan Ketua Umum Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kalbar.
Tak berlebihan jika kaum muda kota ini juga berharap kepada calon pemimpin ini untuk turut memberi andil dalam memajukan gerakan kepemudaan dan memberikan solusi permasalahan yang dihadapi, seperti masih tingginya angka pengangguran.
Alumnus SMP PGRI 4 Pontianak ini mengatakan, relevansi, mutu, dan daya saing pemuda perlu ditingkatkan lagi dengan skill lainnya serta jiwa kewirausahaan.
Isu ini menjadi program kerja pasangan Sipp dalam berkampanye. Tak sekadar janji. Paryadi mengatakan bahwa program meningkatkan skill pemuda akan diaplikasikan mereka ketika menjadi kepala daerah nanti.
Salah satu peningkatan daya saing itu yakni dengan menyediakan pusat kursus modern dan murah, khususnya dari keluarga ekonomi lemah.
”Tidak semua orang tua mampu membiayai kursus anaknya seperti bahasa asing dan komputer. Padahal kemampuan berbahasa asing dan teknologi informasi mutlak dikuasai untuk bersaing dalam dunia usaha,” katanya.
Tak hanya itu, sambungnya, bisa saja ke depan akan berkembang dengan kursus lainnya yang berdaya guna bagi para pemuda untuk terjun dalam dunia kerja maupun untuk berwirausaha.
Ia juga memberikan apresiasi positifnya melihat saat ini banyak kaum muda yang menceburkan diri ke politik praktis. Diantaranya ikut mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif untuk pemilu 2009.
Ada kiat khusus bagi para politikus muda yang akan tampil dalam pemilu legislatif nanti agar bisa duduk di kursi dewan? “Proses meyakinkan masyarakat itu yang paling penting. Yakinkan mereka bahwa diri Anda kelak menjadi andalan mereka untuk menyalurkan aspirasi,” katanya. (**)
Sunday, August 31, 2008
Menggagas Penanggulangan Praktik Money Politic
(ilustrasi Ihsan)
Pilkada dan pemilu mendatatang diharapkan menjadi pelajaran dan pengalaman berharga untuk membangun sebuah institusi yang dapat menjadi transfer of power dan power competition secara damai serta beradab.
Pemilu bukan sekadar perubahan dan perebutan kekuasaan. Lebih dari itu, pesta demokrasi tersebut merupakan bagian dari seluruh proses hidup bernegara secara wajar, sehinga ada prinsip-prinsi pokok yang harus senantiasa diperhatikan. Misalnya masa depan bangsa secara keseluruhan yang terkait dengan proses pembelajaran.
Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Kalbar, Rustam Halim SH, mengatakan bahwa pilkada dan pemilu mendatang harus memberikan jaminan tidak saja berlangsung secara jujur dan adil, tetapi juga dapat menghasilkan pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang kredibel, akuntabel dan kapabel.
Selain itu, pemimpin dan wakil rakyat yang dihasilkan juga harus sanggup menerima kepercayaan dan kehormatan dari rakyat dalam mengelola kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka untuk menyejahterakan rakyat. ”Wakil-wakil rakyat yang dihasilkan bukan wakil rakyat yang egoistik dan oportunistik,” katanya.
Mantan anggota Panwas Pemilu Kalbar tahun 2004 dan Wakil Ketua Panwas Pilgub Kalbar tahun 2007 silam ini melanjutkan, wakil rakyat memperhatikan faktor pembelajaran yang bermakna luas bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Sebab jika tidak maka rakyat akan terjebak kepada tradisi-tradisi yang tidak sehat.
Berbagai upaya terus dilakukan agar kualitas pemilu dan produknya semakin baik, misalnya penyelenggara yang independen, sistem proporsional terbuka dan pengawasan yang semakin terbuka dengan melibatkan pihak-pihak yang lebih luas.
”Namun demikian di tengah-tengah keseriusan mencapati hasil maksimal ini masih terdapat isu penting yang sering terdengar namun tidak mendapat penanganan yang serius dan memadai, yakni persoalan money politic dan proses pembelajaran politik yang sehat,” ujarnya. ”Politik uang merupakan sebuah persoalan serius yang menghantui kehidupan politik kita,” tambah Rustam.
Bentuk politik uang
Mengutip pernyataan Herbet Alexander,
Faisal Basri, Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia berpandangan secara sederhana. Politik uang adalah setiap pemberian bantuan, baik dalam bentuk uang maupun non uang yang diduga kuat dapat mempengaruhi dalam pemilu.
”Dapat disimpulkan bahwa uang berperan terhadap suatu proses pemilu. Persoalannya adalah bagaimana uang itu berpengaruh dan dari mana sumber yang yang dapat mempengaruhi tersebut serta dimana saja uang itu berpengaruh terkait dengan ragam dan modus operandi dari politik uang tersebut,” kata Rustam Halim.
Rustam kemudian memaparkan bentuk-bentuk politik uang. Antara lain; (a). Sumbangan perorang/lembaga kepada partai atau individu partai yang melebih batas toleransi yuridis. Sumbangan ini dikhwatirkan jika partai yang dibantu menang akan mempengaruhi kebijakannya. (b). Pemberian partai/individu partai/calon kepada pemilih yang akan berdampak pada pengambilan keputusan oleh pemilih.
Bentuk politik uang lainnya; (c). Pemberian partai/individu partai/calon kepada pihak-pihak terkait baik individu maupun kelembagaan yang dapat mempengaruhi keputusan yang diambil.
(d).pemberian dari caleg kepada partai sehingga berdampak pada kesempatan menjadi calon terpilih. (e).Penyalahgunaan kekuasaan/pengaruh yang berdampak langsung atau tidak langsung kepada keuangan Negara. (f).Pemberian partai/individu partai/caleg kepada orang-orang berbuat berbuat jahat agar dapat menguntungkan dirinya.
Dari ragam dan bentuk tersebut maka politik uang dapat terjadi pada saat; (a). Sebelum pemilu berlangsung seperti pada point c, d dan e,
(b). Pada saat pemilu berlangsung seperti pada point b,c, dan e atau setelah pemilu seperti pada point e.
”Adapun modus operandi yang dapat terjadi terhadap ragam politik uang tersebut adalah dalam bentuk pemberian langsung atau janji-janji, sumbangan (dana partisipasi), penekanan,dinas dan pemberian tidak langsung seperti kegiatan bakti sosial dan sebagainya,” ujar Rustam.
Aturan hukum yang perlu mendapat perhatian antara lain.
(a).KUHP khususnya pasal 149,150 dan 151. (b).UU tentang Tindak Pidana Suap (c).UU Nomor 15 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana pencucian uang. (d).UU tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. (e).UU Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu, khususnya pada ketentuan pidananya.
Perlu gerakan moral
Menurut Rustam, langkah-langkah sosialisasi gerakan moral anti politik uang secara intensif dan berkesinambungan harus terus dilakukan. ”money politic adalah realitas yang mudah dibicarakan tapi sulit dilihat wujud dan diberantas karena kendala yuridis, teknis dan persoalan struktural,” ujarnya.
Rustam mengatakan bahwa pada dasarnya politik uang tersebut tidak pernah menguntungkan rakyat dan justru merugikan. Pada awalnya, rakyat memang terbuai dan terlena dengan materi yang didapatkan. Uang yang didapatkan itu seolah-olah uluran kebaikan hati dan kepedulian parpol dan para elite politik.
’Bencana’ besar akan muncul di belakang hari. Ketika parpol atau elite politik yang memainkan money politic tersebut memegang tampuk kekuasaan. ”Uang yang dibagi-bagikan ke rakyat itu ibarat pinjaman dengan bunga tinggi. Ketika sudah berkuasa, utang itu akan ditagih. Ditagih dengan cara mengambil uang negara yang juga berarti uang rakyat dalam jumlah yang jauh lebih besar,” katanya. (**)
Read More......
Saturday, August 23, 2008
Roh Gentayangan Diantar Macan Menuju ke Khayangan
Foto-foto:Bearing
Kapal wangkang segera angkat jangkar. Dua layar putihnya telah membentang. Siap membawa para arwah menuju nirwana. Ik Fan Fong Sun pada tulisan layar depan dan Sun Fung Tek Li terukir di layar belakang. ”Selamat jalan, mudah rezeki terus berjalan lurus mengikuti angin,” begitulah makna filosofisnya.
Jumat sore, 15 Agustus 2008, di pemakaman Yayasan Bhakti Suci (YBS), sebelum pukul 17.00, sebuah kapal tiruan yang terbuat dari kertas dengan kerangka kayu dan sesajian yang dikenal dengan sebutan kapal wangkang telah sempurna dibakar.
Keanehan serupa sebelum prosesi bakar wangkang juga terjadi di tahun sebeleumnya. Saya juga berkesempatan meliput peristiwa ini. Pada tahun lalu, di langit terbentuk sebuah lobang besar langsung disinari matahari. Tepat di atas kapal wangkang.
Sementara langit-langit di sekelilingnya diliputi awan hitam (mendung). Bantak orang yang bilang bahwa kejadian-kejadian seperti itu pertanda bahwa roh gentayangan tersebut sedang dijemput.
Prosesi pembakaran kapal ini merupakan akhir dari ritual sembahyang kubur (Chiu Ji) yang telah dilakukan selama dua pekan oleh warga Tionghoa, khususnya penganut agama Khong Hu Cu.
Kapal wangkang kali ini berukuran panjang 21 m dengan lebar 3,5 m. Tiap tahun kapal ini bertambah panjang 5 cm. Soalnya mereka yakin, setiap tahun arwah yang tidak didoakan para kerabat atau sanak saudaranya dan masih berada di bumi, semakin bertambah dan harus diantar ke nirwana melalui prosesi pembakaran wangkang.
Menurut Ketua Yayasan Bhakti Suci, Lindra Lie, pembuatan kapal wangkang kali ini menelan biaya sekitar Rp20 juta. Biaya tersebut merupakan sumbangan secara sukarela dari masyarakat.
Sementara sesaji di dalam kapal, juga diperoleh dari sumbangan masyarakat. Beragam sesaji ada di dalamnya seperti makanan pokok. Benda-benda serba tiruan juga ikut diangkut di dalamnya. Mulai dari uang, pakaian, barang-barang elektronik, hingga kendaraan mewah.
Mereka yakin, benda-benda yang telah didoakan tersebut akan dipakai oleh para arwah kelak sesampainya di nirwana. Di buritan kapal juga dibuat miniatur kelenteng dan perlengkapan sembahyang.
Ada juga orang-orangan yang dibuat menyerupai kapten kapal dan para anak buah kapal. Semua dibuat seperti layaknya kapal asli. Sebelum kapal dibakar para pengurus YBS, terlebih dahulu mengadakan ritual di depan kapal.
Sambil membakar hio, doa-doa khusus mereka panjatkan. Mereka berdoa agar arwah-arwah yang tidak diurus para keluarga dan masih berada di bumi, bisa diantar menuju alamnya.
Mereka juga berdoa agar masyarakat Kalbar khususnya Kota Pontianak dan Kubu Raya dapat diberi keselamatan dan keberkahan melimpah dari Yang Maha Kuasa.
”Menjelang Pilkada Kota Pontianak dan Kubu Raya, kami berdoa agar pesta de
mokrasi nanti berlangsung aman dan damai dan mendapatkan pemimpin yang bisa menyejahterakan masyarakatnya dan memajukan daerah,” kata Lindra Lie.
Sebelum pengurus YBS bermunajat, terlebih dahulu masyarakat dari berbagai penjuru Kota Pontianak dan sekitarnya juga ikut bersembahyang tepat di depan kapal tersebut. Di bawah haluan kapal ada tempat untuk menaruh hio yang disimpan umat setelah selesai berdoa.
Masyarakat yang menyaksikan acara pembakaran wangkang di halaman pemakaman YBS itu tumpah ruah. Beberapa diantaranya juga terlihat turis asing yang tampak menikmati setiap jalannya acara prosesi tersebut.
Setelah sembahyang selesai dilakukan oleh para pengurus YBS, Lindra Lie dan beberapa pengurus lainnya mulai melakukan pembakaran kapal tersebut.
Dua unit mobil pemadam kebakaran dari Yayasan Panca Bhakti telah siap mengantisipasi kemungkinan merembetnya api yang dihasilkan dari prosesi pembakaran itu.
Karena angin yang agak kencang, api dari kapal tersebut melebar menuju ke arah pengunjung. Dua mobil pemadam kebakaran segera menyemprotkan airnya. Lokasi seketika menjadi hujan lokal.
Sebelumnya, juga diadakan sembahyang secara khusus di dekat pemakaman. Setelah berdoa, sesaji seperti bahan makanan pokok dan buah-buahan yang terhampar di tikar segera diperebutkan oleh masyarakat. Ritual ini juga dikenal oleh masyarakat dengan sebutan sembahyang rebut.
Lindra Lie mengaku tidak tahu persis kapan dimulainya tradisi ini. Namun, menurutnya tradisi memberikan sesaji serta mendoakan para leluhur agar bisa mencapai surga dengan baik ini dianggap sebagai hal yang positif dan harus dilestarikan oleh generasi muda. ”Upacara ini juga sebagai bentuk tolak bala agar daerah ini terhindar dari bencana,” kata Lindra. (**)



