We have new forums at NiteshKothari.com
TopBottom
Announcement: wanna exchange links? contact me at clwolvi@gmail.com.

Miskin Materi, Tapi Kaya Batin

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Friday, May 25, 2007
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


“Mau hidup kaya, jangan jadi wartawan!” Itu kata Wakil Pemimpin Redaksi Pontianak Post, Nies Alantas, saat membimbing wartawan baru koran tersebut, termasuk saya, tiga tahun lalu.
Menjadi kaya? Siapa sih orang di dunia ini yang tidak ingin hidup bergelimang materi. Tiga bulan pertama menjadi wartawan, saya sempat stres. Kerja tak kenal waktu, selalu dikejar deadline, dan sebagainya. Sampai-sampai, terlintas di benak untuk mengundurkan diri dari profesi ini.
Kini, masa-masa itu telah terlewati. Saya merasakan nikmatnya menjadi wartawan. Ada kepuasan batin di dalamnya, yang saya anggap, tidak akan didapatkan jika bekerja di luar profesi ini.
Kepuasan ketika karya saya dibaca, dihargai, didiskusikan, atau, mengubah kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dari kebijakan yang sebelumnya tidak berpihak kepada masyarakat, lewat tulisan, hal itu justru menjadi sebaliknya. Itu yang saya sebut dengan kepuasan batin.
Lewat tulisan pula, saya bisa membantu masyarakat yang membutuhkan. Muk Moi, misalnya. Bocah berusia 8 tahun asal Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, kini bisa hidup normal.
Sebelumnya, anak dari keluarga ekonomi lemah ini tidak mempunyai anus. Selama delapan tahun, perempuan cilik ini membuang kotoran lewat anus buatan di perutnya. Untuk melakukan tindakan medis kembali guna membuat anus di pantat, keluarganya terkendala dana.
Peristiwa itu saya beritakan. Bersyukur, pembaca Pontianak Post menjadi terenyuh. Bantuan uang untuk Muk Moi pun mengalir. Bahkan, lewat kebijakan perusahaan, dibuatlah Dompet Simpatik. Sebuah sarana untuk memudahkan masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan.
Hal-hal seperti itu yang saya nikmati hingga kini. Merasakan kepuasan batin lewat sebuah karya jurnalistik. Materi yang didapatkan dari hasil kayra jurnalistik memang tidak sebesar pendapatan para pengusaha atau profesional lainnya. Cukup dengan kaya akan kepuasan batin. (zan)
********

13 Maret 2007
Laras Bahasa Jurnalistik
Lembaga Pers Dr Soetomo

Labels:
Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Labels:

Bilangan Gajah Mada Menuju Chinatown Pontianak

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


Posted: Pontianak Post April 2007
LANGIT Kota Khatulistiwa memancarkan cahaya terang malam itu. Kembang api menari indah di angkasa. Dengan pelbagai bentuk pijar dan warna. Mulai dari jamur, spiral, dan lainnya. Sangat artistik. Seakan-akan, turut menyambut kedatangan Dewa Rezeki (Chai Sin Ia) turun ke bumi dan membagi-bagikan aura kebahagiaan dan ketenangan bagi penduduk Pontianak.
Pesta kembang api itu dipusatkan di Jalan Gajah Mada. Hari itu adalah malam Imlek 2558 atau bertepatan dengan 17 Februari 2006. Hari dimana warga Tionghoa di seluruh dunia bersuka cita.
Pesta kembang api dimulai pukul 22.00 hingga 00.30. Akan tetapi satu jam sebelumnya, kawasan perdagangan yang dihuni mayoritas warga Tionghoa itu telah dibuat macet. Warga dengan antusias turun ke jalan. Pengendara motor menepi di parkiran ruko yang telah tutup sejak petang.
Teras lantai dua ruko-ruko di pinggir Jalan Gajah Mada telah disesaki penghuninya untuk melihat keindahan letupan kembang api. Tak hanya warga Tionghoa yang antusias menikmati itu. Seluruh masyarakat berbaur. Semua etnis dari berbagai agama. Tidak ada batas dan sekat. Semua merasa satu. Menjadi bagian masyarakat Indonesia.
Pesta kembang api dimulai penyulutannya oleh Ketua DPRD Kota Pontianak, Gusti Hersan Aslirosa. Sepanjang jalan tersebut, masyarakat menyalakan kembang api. Luar biasa indahnya. Selama dua setengah jam tanpa henti, kembang api menari indah di angkasa.
Berbagai hiburan menarik juga disuguhkan kepada penonton saat itu. Diantaranya atraksi barongsai, permainan liong (naga), tari kipas, dan lantunan tembang-tembang Mandarin.
Momen tersebut masih terekam di ingatan Hersan. Ada mimik keceriaan yang tergurat jelas di wajahnya jika mengenang peristiwa itu. Karena itu, ketika beberapa elemen mayarakat Pontianak menyuarakan agar kawasan Gajah Mada dikembangkan menjadi pusat budaya Tionghoa, dia merespon positif.
“Ornamen bangunan khas Tionghoa dan acara kebudayaan, bisa di helat di sana. Sehingga, ada kekhasan tersendiri di wilayah itu. Hal ini bisa mendatangkan keuntungan tersendiri dalam bisnis pariwisata,” katanya.
Menurutnya, festival kembang api yang dihelat beberapa waktu lalu merupakan suatu langkah awal dan diibaratkan sebagai pintu gerbang untuk menunjang pengembangan kawasan tersebut ke depan.
“Di kawasan itu juga tersedia makanan-makanan atau jajanan khas Tionghoa. Ada pagelaran keseniannya setiap malam Minggu. Juga dihelat pagelaran seni lintas etnis. Saya kira, kalau perencanaan seperti itu adanya, kami di legislatif tidak akan segan-segan memberikan dukungan,” ujarnya.
Sementara itu Politisi Tionghoa dari Partai Gokar, Sebastian, juga sependapat dengan ide pengembangan kawasan tersebut. “Ada identitas pengenal yang bisa mencirikan kekhasan komunitas Tionghoa di wilayah itu,” ujar Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Pontianak ini.
Kekhasan itu misalnya pintu gerbang jalan yang dibuat dengan ornamen khas Tionghoa. Berikut juga dengan bentuk bangunan rumah/ruko yang didirikan di sepanjang jalan tersebut. “Misalnya, ada perubahan bangunan di sepanjang jalan itu, pemerintah bisa saja memersyaratkan atap rumah atau ruko itu dibuat dengan gaya Tionghoa dalam pembuatan IMB-nya,” katanya.
Hal yang sama juga dikatakan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Pontianak, Junaidi Bustam. Ia tertarik dengan konsep pengembangan di salah satu wilayah di Kota Makasar, saat parlemen berkunjung ke daerah itu beberapa waktu lalu.
“Di jalan di Kota Makasar itu ada gerbang jalan yang bergaya Tionghoa. Taman di median jalan juga dibentuk lekukan naga yang dibuat dari pepohonan. Sangat indah dan khas,” kenangnya.
Selain itu, lanjutnya, lampu-lampu billboard iklan di sepanjang jalan Gajah Mada, juga bisa ditambah dengan ornamen lampion sehingga dapat memperindah dan menimbulkan kekhasan tersendiri.
Sementara itu Sekretaris Yayasan Kuning Agung, Wiseno Sudarmo, mengatakan bahwa rencana pengembangan kawasa Gajah Mada menjadi daerah Chinatown atau di Indonesia yang sering diistilahkan dengan kawasan Pecinan, jangan sampai menghilangkan kadar pluralisme.
“Kalau penamaan itu mempunyai tujuan aspek bisnis dan pengembangan kota, saya pikir tidak ada masalah,” katanya. Penamaan tersebut, lanjutnya, jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat Pontianak sehingga menimbulkan kesan ekslusif.
“Chinatown itu kan merupakan terminologi yang dikenal di Amerika, dimana ada konsentrasi penduduk dari Asia. Kalau di Jakarta, dikenal dengan istilah Pecinan untuk daerah Pancoran Glodok. Untuk Gajah Mada disebut Pecinan-nya Pontianak, boleh-boleh saja. Ya itu tadi, asal tidak meninggalkan aspek pluralisme yang ada. Kalau tujuan bisnis tidak masalah, dengan mengambil kesan keunikannya itu,” katanya. (**)

***
Dan kemudian, berita ini menjadi polemik..................

Pisang Goreng Pontianak: Laris di Jakarta, Terkenal Hingga ke Negeri Kincir Angin

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit




Jika di tempat asalnya pisang goreng Pontianak terkesan biasa saja, lain halnya bila jajanan itu dipasarkan di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Setelah diolah dan dikemas sedemikian rupa, pisang goreng Pontianak kemudian menjadi merek dagang yang mendatangkan kentungan tidak sedikit bagi penjualnya. Bahkan, kerenyahannya juga disukai lidah bule.

Catatan Efprizan Rzeznik, Jakarta
ORANG-orang di Jakarta dan sekitarnya sempat dilanda ‘demam’ pisang Pontianak pada akhir 2005 hingga awal 2006. Hampir setiap penjualan pisang goreng Pontianak selalu penuh dengan antrean pembeli.
Waktu itu di setiap sudut kota Jakarta, orang dengan mudah bisa menjumpai penjual pisang goreng Pontianak. Artis seperti Uya Kuya pun juga ikut terjun mencoba bisnis ini.
Toko-toko penjual pisang goreng Pontianak menjamur. Persaingan bisnis pun menjadi semakin ketat. Seleksi alam terjadi. Penjual pisang goreng Pontianak yang kualitasnya terjaga baik lah yang tetap bertahan. Tak sedikit pula yang gulung tikar.
Walau pun ‘demam’ itu telah lewat, bukan berarti pisang goreng Pontianak kehilangan pamornya. Jajanan dengan bahan dasar berupa pisang gepok yang dilapisi dengan tepung terigu, telur, dan kapur ini tetap mendapat tempat di hati konsumen.
Pisang goreng Pontianak Wawa misalnya. Di masa bisnis ini memasuki masa keemasannya pada awal tahun 2006, dalam sehari mereka mampu menjual hingga 3.000 pisang goreng.
Usaha keluarga yang dirintis sejak lima tahun lalu ini semula hanya berupa kios informal di wilayah Kelapa Gading Jakarta. Usahanya kemudian berkembang hingga mempunyai lima cabang yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Tidak lagi berjualan ala kaki lima, tapi telah menempati kios permanen.
Bahkan, menurut Soetiadi Widjaja, pemilik toko pisang goreng Pontianak Wawa cabang Jalan Veteran no. 3B, Bintaro, usaha yang dirintis oleh tantenya itu hingga merambah ke Bandung.
Sayangnya, usia usaha pisang goreng Pontianak Wawa cabang Bandung yang mengambil tempat di Jalan Kebon Kawung No.26 itu tidak bertahan lama, kurang dari satu tahun.
“Saya duga, ini karena kebiasaan sih. Orang-orang sudah cenderung kenal pisang goreng Pontianak di Jakarta. Jadinya, mereka doyan beli ya di Jakarta. Kalau mau di bawa ke Bandung sebagai oleh-oleh, tetap saja belinya di Jakarta,” ujarnya.

Walau pun penjualan pisang goreng Pontianak tidak selaris dulu, akan tetapi penggemar jajanan ini tetap ada. Harga sepotongnya Rp1.800. Setiap hari Soetiadi bisa menjual sekitar 500 potong pisang goreng.
Bahkan, lanjutnya, tidak sedikit konsumen yang membeli pisang gorengnya untuk dibawa ke luar negeri seperti Singapura, Australia, hingga Belanda. Pisang goreng yang dibeli itu dimasak setengah matang. “Kalau untuk oleh-oleh ke luar negeri, biasanya konsumen sekali beli langsung ratusan potong,” ujarnya.
Untuk pisang goreng Pontianak setengah matang, kata Soetiadi, bisa bertahan tiga hingga empat hari. Dan jika matang, bisa tahan hingga seharian.
Sementara itu menurut Abo, 52 tahun, penjual pisang goreng Pontianak ‘Raja Renyah’ yang menggelar dagangannya di Jalan Merpati Raya Sektor 1, Bintaro Jaya, mengatakan bahwa tidak semua pisang goreng yang dijajakan penjual bagus kualitasnya.
Menurutnya, pisang goreng Pontianak yang asli tidak terlalu banyak tepung/keremesnya. Sehingga, bentuk asli pisang masih kelihatan.
“Toko pisang goreng Pontianak yang sekarang sudah banyak tutup itu, setahu saya, mereka mengolah pisangnya kebanyakan kremesnya. Bentuk pisangnya tidak kelihatan lagi. Mungkin karena itu banyak konsumen yang tidak suka, jadi usahanya banyak yang bangkrut,” duganya.
Pria asli Bangka ini punya cerita menarik perihal pisang gorengnya. Pengalaman itu ia dapatkan dari pelanggannya. Saat itu seorang pelanggan dari luar kota datang ke tempat ia berjualan dan memesan pisang buatannya.
Setelah pisangnya selesai digoreng, si calon pembeli itu bertanya kepada Abo, “Ini pisang apa?” Abo menjawab, “Ini pisang goreng Pontianak.”
Calon pembeli itu kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Abo juga tetap bersikukuh bahwa jajanan yang dibuatnya itu adalah pisang goreng Pontianak.
Tiba-tiba calon pembeli itu langsung balik badan dan berkata, “Itu bukan pisang goreng Pontianak.” Saat itu pisang goreng Abo berbentuk seperti nugget. Bentuk pisangnya sama sekali tidak kelihatan. “Dari pengalaman itu lah saya tahu kalau pisang goreng Pontianak yang asli bentuknya masih kelihatan,” katanya.
Baik Abo maupun Soetiadi Widjaja sama-sama menggunakan pisang gepok sebagai bahan utama pembuatan pisang gorengnya. Abo memesan pisang Pontianak langsung ke pedagang di pasar Kopro. Sedangkan Soetiadi, mengaku punya suplier tetap yang mengantarkan pisang-pisang tersebut langsung ke tokonya. Kata Soetiadi, selain dari Pontianak, pisang gepok itu juga didatangkan dari Lampung.
Abo dan Soetiadi juga mempunyai resep khusus untuk membuat pisangnya garing dan renyah. Pemilihan tepung terigu berkualitas dan minyak goreng bermutu, turut mempengaruhi cita rasa pisang itu.
Begitu juga dalam pemilihan pisang. Jika terlalu masak atau masih mengkal, rasa pisang akan berubah. “Jika pisang masih mengkal, hasilnya bagus sih. Karena pisangnya masih kering. Tapi rasanya agak sepat. Juga jangan pilih pisang yang kemasakan, karena terlalu berair dan hasil gorengannya tidak bagus,” jelas Abo.
Pisang goreng Pontianak buatan Abo dibentuk menyerupai kipas. Pisang tersebut disayat (slice) tipis-tipis 4 sampai 7 potong. Kemudian diberi tepung lalu digoreng.
Proses menggorengnya juga menjadi ciri khas tersendiri. Pisang goreng Pontianak digoreng dua kali. Bahkan agar lebih garing, ada yang digoreng hingga tiga kali. (**)

Labels:

*Tulisan Arab Melayu di Kalbar

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Menuju Kegemilangan, Atau Akan Hilang Ditelan Zaman?

Penggunaan tulisan Arab Melayu (Armel) atau Tulisan Jawi (Tulwi)di Indonesia sekarang bisa dikatakan sudah hampir punah. Kalau pun dipelajari pada Pondok Pesantren, lebih mengutamakan tulisan Arab gondol/Kitab Kuning. Demikian kondisinya juga pada sekolah-sekolah umum, tidak pernah lagi diajarkan kepada murid.

Laporan Efprizan Rzeznik

BEBERAPA waktu lalu Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) DPRD Pontianak pernah mengusulkan agar setiap plang nama jalan di kota ini disertai dengan penulisan armel. Begitu juga dengan kantor-kantor instansi pemerintahan, F-KB meminta agar disesuaikan dengan ciri khas Melayu.
Ide itu disampaikan Sekretaris F-KB DPRD Pontianak, M Fauzi SSos. Kata dia, hal tersebut merupakan semangat untuk merevitalisasi kekuatan budaya Melayu masa lalu.
"Semangat pemikiran dan karya pendiri dan tokoh-tokoh Kota Pontianak memberikan motivasi dan inspirasi bagi kemajuan masyarakat di kota ini. Masa sekarang ini, kita harus tetap menjaga semangat itu," ujarnya.
Penggunaan aksen armel di Pontianak, baru tampak di gerbang menuju Istana Kadriah di Jalan Tanjung Raya I. Diharapkan, pembangunan pintu gerbang menuju Kota Pontianak yang kelak akan dibangun di beberapa titik juga menampilkan ciri khas budaya tersebut. Di Kabupaten Sambas, penulisan armel sebagai plang nama jalan wilayah itu telah lama diterapkan. Bahkan beberapa kalangan di sana pernah mengusulkan kepada pemerintah setempat agar cara baca dan tulis armel dijadikan mulok (muatan lokal) sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah dasar.

Berjaya di Dunia
Sementara itu, penulisan armel di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam telah mengakar kuat di masyarakatnya. Penulisan Armel dan cara membacanya, menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa di bangku sekolah di kedua negara tersebut.
Berdasarkan catatan Prof. Dr Kang Kyoung Seok, Peneliti tulisan Armel/Tulwi asal Busan, Korea, universitas-universitas di luar masyarakat Melayu juga mengajarkan tulisan Armel kepada mahasiswanya.
Seperti yang diajarkan di Hankook University of Foreign Studies Korea, mereka bahkan mendatangkan tenaga pengajar khusus dari Malaysia untuk memberikan mata kuliah tulisan armel.
Amerika Serikat (Cornell Unversity), Jepang (Tokyo University of Foreign Studies), Inggris (University of London), Belanda (University of Leiden), Jerman (University of Hamburg), hingga Rusia (University of Leningrad), merupakan negara-negara lainnya di luar masyarakat Melayu, yang pernah dan masih mengajarkan tulisan armel kepada mahasiswanya.
Bahkan, manuskrip-manuskrip Armel/Tulwi banyak disimpan di negara Inggris, antara lain di perpustakaan Bodleian Oxford, British Museum, British Library, dan perpustakaan University of London.

Langka di Indonesia
Bagaimana dengan perkembangan tulisan armel di Indonesia, Kalbar khususnya? Drs H Rusdi Saska, Ketua Yayasan Ikatan Guru Pengajian Al-Qur’an (IGPA) Kalbar, yang juga ahli armel, mengaku kesulitan untuk mencari refrensi armel di Indonesia. “Jangankan di Kalbar, saya mencari bahan-bahan itu hingga di perpustakaan nasional di Jakarta, juga tidak ketemu,” katanya.
Kreator Metode ‘PAS/CASH’: Cara cepat dan Prakis Membaca Alquran ini mengatakan, sejak orde baru hingga sekarang belum ada lagi gerakan kembali menerapkan tulisan Armel baik di sekolah dan masyarakat.
“Buku pelajaran dan strategi/metode pembelajaran dalam upaya pengenalan tulis-baca armel/tulwi bagi masyarakat, relatif sukar didapatkan, terutama di daerah Kalimantan Barat.
Menurut Rusdi, pada sekolah-sekolah umum, tulisan armel/tulwi tidak pernah lagi diajarkan. “Nama tulisan armel tinggal kenangan saja. Kecuali pada sekitar tahun 1962- 1964, pada Kls. Ill - IV Sekolah Dasar Negeri, diberikan pelajaran tulisan armel,” katanya.
Menurutnya, tulisan armel mulai menghilang sejak masuknya pengaruh Partai Komunis Indonesia ( tahun 1964/1965 ). Sejak itu pula, pelajaran armel di sekolah-sekolah ditiadakan.
Dampaknya dirasakan hingga kini. Penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim dari penduduk 200 juta lebih dan kebanyakan dari suku Melayu , cukup banyak yang tidak mengenal dan tak dapat membaca tulisan armel.
Demikian halnya yang terjadi di daerah Kalimantan Barat. “Malahan diantaranya yang sudah bisa membaca Alquran dan guru ngaji pun, masih banyak yang tidak bisa dan susah untuk dapat membaca aksara armel,” kata Rusdi.
Kasubag Tata Usaha Kepegawaian di Biro Umum Setda Kalbar ini juga pernah mengobservasi dan mengetes langsung terhadap kemampuan membaca tulisan armel bagi sejumlah mahasiswa, karyawan, pegawai negeri, dan dosen/guru yang sudah bisa membaca Alquran.
Hasilnya disimpulkan bahwa yang bisa membaca tulisan armel/tulwi hanya dalam bilangan kurang dari 5 % saja. Dan ada 1 kelompok sampel malahan 0 %, alias tidak ada satupun yang bisa membaca aksara tersebut.
Menurut Rusdi, cukup banyak ummat Islam/suku Melayu yang tidak mengenal/belum bisa membaca tulisan armel, terutama generasi yang lahir tahun 1960-an ke atas.
Padahal, Alquran sebagai kitab suci umat Islam juga dilengkapi dengan tulisan armel di bagian awal dan akhir tulisan. Bagian itu menjelaskan petunjuk, keterangan, dan maklumat.
“Keterangan tanda baca Alquran, ilmu tajwid, datar surah-surah, semuanya ada di keterangan depan dan belakang kitab suci. Kesemuanya ditulis memakai Arab Melayu. Jadinya, kita tidak bisa memanfaatkan informasi yang ada di dalam Alquran itu sendiri,” ujarnya.

Dipelajari di Untan
Untuk mengatasi masalah tersebut ke depan, katanya, maka perlu digairahkan kembali suatu langkah kongkrit dalam menyosialisasikan tulisan armel.
“Aplikasi Armel/ Tulwi harus mendapat dukungan dari pemerintah, lembaga-lembaga yang berkompeten dan pihak/tokoh yang merasa ikut peduli terhadap keprihatinan masalah tersebut,”katanya.
Mengenai dukungan tersebut, saat Chairil Effendi masih menjabat sebagai Dekan FKIP Universitas Tanjungpura, pernah diwacanakan agar armel menjadi mata pelajaran bagi mahasiswa jurusan bahasa.
“Sekarang Pak Chairil sudah menjadi Rektor. Mudah-mudahan beliau bisa memperjuangkan ini,” kata Rusdi. Ia memastikan, pembelajaran armel bagi mahasiswa jurusan bahasa akan bermanfaat bagi mereka dalam meneliti sejarah, atau prasasti dan manuskrip jawi.
Secara umum tulisan jawi/armel berbentuk aksara Arab ditambah dengan huruf Arab yang dimodifikasi disesuaikan dengan transliterasi huruf latin/rumawi (rumi). Dengan kata lain, tulisan armel adalah suatu bacaan melalui lambang huruf Arab tanpa harakat dan tanda baca yang mengandung makna bahasa Melayu.
Dengan transliterasi ke huruf latin tersebut, maka penggunaan dan penandaan huruf yang dimodifikasi kadang kala berbeda atau terdapat variasi diantara para penulis, baik pada zaman dahulu maupun sekarang, terutama terjadi dan dialami di Indonesia.
Tulisan Jawi telah muncul beraba-abad lalu di Nusantara. Para ahli dan pengkaji armel/tulwi sepakat bahwa kemunculannya terkait langsung dengan kedatangan dan perkembangan Islam di kawasan ini.
Di negara-negara serumpun Melayu, tulisan armel/jawi masuk lebih dahulu dibandingkan tulisan rumi. Hal itu diketahui dari beberapa peningalan sejarah seperti yang terdapat di Kedah (290 Hijrah), Phan-Rang Vietnam (431 H), Pekan, Pahang (419 H), Gersk Indonesia (475 H), dan di Brunei (828 H).
Bagimana dengan awal mula pengenalan armel di Kalbar? “Tidak ada yang mengetahuinya. Kepingan-kepingan sejarah itu sudah sulit terlacak karena manuskrip-manuskripnya sudah tercerai-berai,” kata Rusdi.

Metode Takuba-5R
Rusdi Saska juga pernah diundang oleh Fakulti Sastera dan Sains Sosial Jawatankuasa Pengajian Jawi Universiti Brunei Darussalam, pada akhir Januari 2006, untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Antarbangsa Tulisan Jawi “Ke Arah Survival dan Kesempurnaa Tulisan Jawi”.
Bersama Anggota Pengurus Ikatan Kekerabatan Muslim Kalbar, Nurul Hadi, dalam seminar itu mereka mengangkat strategi pengenalan tulisan Jawi di Pontianak.
Rusdi menjadi bintang pada acara itu. Para peserta tertarik dengan metode pengenalan tulisan armel yang diramu olehnya. Kata dia, pengenalan tulisan tersebut sebenarnya terkait dengan Program/Paket Metode "PAS/CASh"; Cara Cepat dan Praktis Membaca Al-Qur'an .
“Dalam pelaksanaannya setelah teori dan praktik Metode ‘PAS/CASh’ selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengenalan tulisan armel dengan beberapa strategi,” katanya.
Rusdi menyajikan materi tulisan armel/tulwi, dengan sistem metode "Takuba-5 R ", singkatan dari Ta ( Ta'aruf), Kuba ( Kunci Baca), dan 5
(Lima point Kunci membaca tulisan Armel), sedangkan "R" (menunjuk pada kreatornya).

Dibentuk Tim Khusus
Sementara itu, Anggota Pengurus Ikatan Kekerabatan Muslim Kalbar, Nurul Hadi, berharap tulisan armel yang merupakan khazanah budaya Melayu yang Islami dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta disempurnakan pola pengembangannya.
“Arab Melayu selain sebagai suatu keterampilan dan meningkatkan daya nalar, kreasi seni sastra, dan lain-lain, juga dapat dijadikan suatu lapangan usaha/pekerjaan,” katanya.
Arab Melayu sebagai suatu keterampilan membaca, sambungnya, juga berpotensi untuk menggali atau mengungkapkan nilai-nilai sejarah dari tulisan-tulisan atau naskah lama/kuno sebagai bahan penelitian dan informasi bagi generasi berikutnya.
Menurut Nurul, jika pemerintah sebagai pengambil kebijakan tidak merespon cepat, maka cepat atau lambat tulisan armel akan punah. Ia berharap, umat Islam terutama suku Melayu, terus termotivasi untuk berusaha belajar tulisan Arab Melayu.
“Mudah-mudahan pemerintah segera membentuk tim khusus yang mengkaji armel sehingga akan dibuat suatu kebijakan agar khasanah budaya ini tidak hilang,” harapnya. Semoga. (**)

Labels:

*Musisi dan Tato

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Rockstar, Pencarian Jati Diri, dan Gaya Hidup

Posted; Pontianak Post, 19 April 2007
Banyak faktor yang menyebabkan tato begitu berarti bagi kalangan musisi. Mulai dari sekadar gaya, eksistensi aliran musik, identitas diri, hingga implementasi filosofi hidup. Berikut petikan wawancara dengan seorang musisi asal Pontianak, Novan Maltuvanie.

Apa yang memotivasi Anda untuk memilki tato permanen?
Yang memotivasi sebenarnya adalah lifestyle.

Selain itu?
Ada faktor lainnya juga sih, yakni pencarian jati diri. Saat pertama menato lengan kiri saya, sempat ada sebuah pernyataan besar di kepala saya yaitu resiko. Ya, tato merupakan karya seni yang sangat-sangat beresiko.

Resiko apa yang Anda maksud?
Karena tato adalah lukisan yang menggunakan media kulit badan seseorang dan susah untuk dihilangkan.

Kenapa tetap merelakan bagian tubuh Anda untuk akhirnya ditato?
Seperti yang saya sebut pertama tadi, tato adalah sebuah karya seni. Karena itu saya benar-benar ingin menjadi bagian dari itu. Seorang seniman. Jadi saya memberanikan diri untuk membuat tato. Sebagai bukti pengakuan diri saya sendiri bahwa saya adalah seniman. Seseorang yang mengabdikan dirinya pada seni, apapun bentuknya, dan tato sebagai sarana unutk menunjukkan bahwa saya ingin menjadi seorang seniman dan saya adalah seorang seniman, walaupun belum punya sebuah masterpiece.

****
Novan Maltuvanie merupakan Bassis grup band cadas Captain Jack (CJ). Band yang hampir seluruh personilnya merupakan anak-anak Pontianak ini bermarkas di Yogyakarta. Captain Jack telah menelurkan sebuah album bertajuk ‘Some Think About.’ Di album yang diedarkan di bawah bendera Off the Records dan PT Universal Music Indonesia ini telah melahirkan hit single Sempurna, Pahlawan, dan Munafik.
Tato pertama yang dimiliki Novan bergambar logo band ‘CJ’. Logo itu dibuat sedemikian rupa, dan disatukan dengan gambar tribal yang menyerupai 4 bulan sabit yang saling memunggungi. Tato itu kini menghiasi lengan kirinya.
“Itu ada maknanya, artinya dalam band saya ada 5 orang yang saling bertolak belakang tapi bersatu untuk menghadapi semua hal dari berbagi sisi. Tapi tribal tersebut hanya ada 4, yaitu teman-teman saya yang lain, sedangkan yang kelima adalah saya sendiri yang memakai gambar tato tersebut,” katanya.
Novan juga memiliki tato kecil yang berada di pundaknya. Tato itu berbentuk "twin flaming star" berwarna hitam. “Ini saya dapatkan gambarnya melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut saya menggapai cita-cita saya sebagai seorang rockstar yang mempunyai tato itu. itupun setelah saya berpikir berulang kali selama kurang lebih dua tahun untuk akhirnya merajahkannya di pundak saya,” katanya.
****

Apakah kehadiran tato tersebut berpengaruh terhadap rasa percaya diri kamu, terutama saat manggung?
Pengaruh sih sama kepercayaan diri saya, tapi enggak seberapa jika percaya diri yang difungsikan sebagai sarana pamer, atau saat manggung. Yang paling berpengaruh adalah makna dari tato yang saya rajah di badan saya. Sebagai motivasi untuk menggapai yang benar-benar saya cita-citakan saat ini.

Ingin menambah koleksi tato mu lagi?
Ingin sekali. Gambar tribal yang berbentuk tulang punggung dan sayap yang ujungu-ujungnya melingkar sampai ke perut saya. Dan gambar itu adalah gambar yang besarnya sepunggung, dengan latar belakang warna-warna yang mungkin akan didominasi warna merah, kuning, serta hijau. Tapi berhubung saya percaya akan hal-hal gaib juga, saya mengurungkan niat tersebut lantaran saya mendapat mimpi. Ada yang melarang saya untuk menambah tato lagi dikemudian hari. Ayah saya yang melarangnya.

(Efprizan Rzeznik)

Labels:

Tato: Seni, Seksi, Jati Diri, dan Keindahan

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Beragam karya seni yang telah dihasilkan manusia sebagai bentuk apresiasi atas makna kehidupan. Salah satu bentuknya yakni tato. Seni melukis pada tubuh atau yang juga dikenal istilah body painting ini kini menjadi tren bagi masyarakat Pontianak, terutama kawula muda.

Oleh: Efprizan Rzeznik

UNTUK kesekian kalinya Ryan mendatangi Studio Tato ‘I Black’ di Jalan Merdeka kemarin. Kali ini, Ryan membawa serta sketsa gambar yang akan dilukiskan di tubuhnya.
Gambar tersebut berbentuk bidadari berpakaian futuristik yang membawa bola api di atas tangannya. Dewi yang dilukisnya itu juga mempunyi ekor, juga memiliki kaki yang menyerupai putri duyung. Ryan mengaku, gambar tersebut didapatkannya melalui mimpi. Ryan menamai gambar tatonya itu ‘Legend of Athena’.
Oleh Iis, Artis Tato (sebutan untuk penato) di I Black Studio, konsep itu kemudian dituangkannya ke punggung Ryan. Sesuai dengan pesanan Ryan, tato yang dibuatnya ini berjenis temporer. Artinya, tato itu hanya dapat bertahan hingga tiga minggu.
Berbeda dengan jenis tato permanen, tato temporer tidak menyakitkan tubuh. Tidak ada jarum yang akan menusuk kulit seperti dijahit. Pun pula tidak memakai zat warna khusus yang dimasukkan ke dalam kulit di bekas tusukan tadi.
Pengerjaannya tidak serumit membuat tato permanen. Sketsa gambar yang ada di cetak ulang pada suatu kertas, kemudian cetakan itu dilekatkan di bagian tubuh yang akan ditato.
Sebelumnya, dioleskan terlebih dahulu deodorant stick merek tertentu ke bagian tubuh yang akan ditato. Itu mempermudah tinta cetakan awal agar dapat melekat di kulit. Kemudian, jejak sketsa itu dilukis ulang dengan menggunakan tinta khusus.
Tinta yang dipakai sejenis inai. Tinta itu dipesan khusus dari Yogyakarta atau Bali. Hanya ada satu warna yang dipakai untuk membuat tato temporer yakni hitam.
“Sebenarnya sih bisa juga berbagai warna. Bisa tahan hingga tiga bulan. Tapi harganya mahal. Satu warna dengan ukuran botol setengah jari manis orang dewasa bisa seharga Rp600 ribu. Karenanya di studio kami tidak memakai itu. Nanti jatuh harganya ke konsumen pasti mahal,” kata Iis.

Ibu-ibu dan tato
Iis merupakan satu di antara tiga artis tato di I Black Studio. Masih ada Black dan Ibang, yang spesialis membuat tato permanen. Nama yang disebut terakhir merupakan pemilik studio tersebut.
Ibang mengatakan, anak muda pria dan wanita merupakan ‘pasien’ mayoritas mereka. Ternyata, ibu-ibu rumah tangga juga tak mau kalah. “Banyak juga ibu-ibu yang buat tato temporer. Biasanya mereka minta dibuatkan di jari hingga pergelangan tangan atau di kaki. Malahan, pernah ada yang datang untuk dibuatkan tato sekeluarga,” katanya.
Untuk jenis tato di tangan tersebut disebut dengan mahendi. Basanya digunakan sebagai hiasan pengantin. “Kami juga sering dipanggil oleh mempelai untuk dibuatkan mahendi,” kata alumnus Inti College Kuching ini.

Remaja dan tato
Tato selalu diidentikkan dengan kekerasan, kriminal dan pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tato dan larangan memakai rajah bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan pandangan tato sebagai sesuatu yang dilarang dan haram.
Keidentikan tato dengan kekerasan dan kriminal, kini terpupuskan. Kini, citra tato telah berkembang menjadi hiasan tubuh yang mempunyai cita rasa, seni, dan dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi, dan fashionable.
Hal itu dibenarkan Kiki. Remaja putri yang masih berstatus pelajar di sekolah swasta terkemuka di Kota Pontianak ini memilih tato bergambar kuda terbang bertanduk satu. Tato temporer yang dibuatnya di Bali itu kini menghiasi pundaknya. Gambar itu terinspirasi dari salah satu Diva Pop Jepang, Ayumi Hamasaki. Ia juga memiliki tato jenis tribal di pinggulnya.
Walaupun statusnya masih pelajar, ia tidak takut memiliki tato itu. “Ini ‘kan hanya temporer. Lagi pula, aku memakainya untuk fashionable saja. Kalau untuk dipermanenkan sih, masih mikir dua kali. Lagi pula ‘kan, bagian yang ditato selalu tertutup seragam sekolah, jadi gak masalah. Yang pasti, tato itu indah dan seksi. Ada aura yang bisa membangkitkan rasa percaya diri bagi pemiliknya,” katanya.

Tato bagian sensitif
Ternyata, penggemar tato yang menjadi pelanggan tetap di I Black mayoritas didominasi kaum hawa. “60 persennya adalah perempuan,” katanya. “Kebanyakan membuat tato temporer,” tambah ia.
Jenis gambar tribal menjadi favorit mereka, selain motif-motif serperti bunga atau kupu-kupu. Motif tribal merupakan ciri khas dari suku Indian Aztec. Menurut Ibang, model ini tetap menjadi tren dan tidak mudah lekang dimakan waktu.
Pinggul bagian belakang hampir mendekati belahan pantat, lengan, pusar hingga perut bagian bawah, dan pundak, menjadi menjadi bagian badan favorit bagi wanita untuk merajahkan gambar yang diinginkannya.
Tak sedikit pula perempuan yang menato di sekitar bagian payudaranya. Khusus menato di bagian-bagian sensitif kewanitaan itu, para artis tato mengedepankan jaminan privacy dan profesionalitas.
“Tidak ada pikiran macam-macam ketika menato bagian itu. Kalau pikiran ke mana-mana, ya tak selesai dong tatonya. Profesionalitas kita jaga. Bagaimana membuat konsumen nyaman dan aman,” kata Ibang. “Anggap saja mereka laki-laki,” tambah Iis seraya tertawa.

Teliti dan selektif
Bagi artis tato seperti Iis dan Ibang, sepertinya mempunyai etika moral tak tertulis sebelum menangani ‘pasien’ yang hendak membuat tato permanen. Oleh mereka, ‘pasien’ tersebut diharuskan mempunyai kesiapan yang matang, baik fisik maupun kejiwaan. “Kalau si pasien masih ragu-ragu, biasanya kita tawarkan tato temporer dulu,” kata Ibeng.
Ia melanjukan, kesiapan perlu dilakukan karena untuk menato itu berarti meninggalkan tanda permanen di tubuh kita. Walau sekarang sudah ada tattoo removal, yakni suatu cara menghilangkan tato dengan tembakan sinar laser, tapi proses tersebut tetap menimbulkan jejak permanen di tubuh, walaupun halus.
Ketelitian dan selektifitas tersebut menjadi pegangan mereka sebelum mencoretkan tintanya ke tubuh konsumen. “Yang paling utama adalah kesterilan alat seperti jarum dan juga kesehatannya,” kata Ibeng. (***)

Labels:

Saatnya untuk Kembali ke IPDN Daerah

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Oleh: Efprizan
Pontianak Post, 10 April 2007

KEMATIAN Cliff Muntu, 20 tahun, praja angkatan II IPDN asal Manado, Sulawesi Utara yang dianiaya seniornya, ibarat puncak gunung es, dimana kejadian-kejadian serupa lainnya yang berada di bawahnya banyak yang menyimpan misteri.
Berbagai wacana kemudian muncul dipermukaan untuk menghentikan kekerasan yang kerap terjadi di IPDN atau yang sebelumnya dikenal dengan STPDN (Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri) itu.
Sabtu (7/4) sejumlah alumnus Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pontianak dan STPDN asal kota yang sama melakukan diskusi menyikapi kekerasan yang terjadi di IPDN. Diskusi tersebut berlangsung di kediaman Tabrani Hadi Jalan MT Haryono Nomor 22.
Tabrani yang juga CEO Pontianak Post, merupakan mantan Direktur APDN Pontianak. Ia menjabat pucuk pimpinan APDN Pontianak selama 10 tahun (1979-1989). Dalam diskusi tersebut, melahirkan rekomendasi agar pemerintah pusat segera mendesentralisasikan IPDN.

Likuidasi APDN
Berdirinya Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) bermula dari terbentuknya APDN di Malang, Jawa Timur, pada Maret dengan Direktur Pertama dr. Raspio Woerjadiningrat.
Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kader aparatur pemerintah di tiap daerah, maka sejak tahun 1965 satu persatu didirikan APDN di berbagai provinsi.
Pada 1970 telah berdiri 20 APDN di seluruh Nusantara.
Lokasi-lokasi APDN tersebut diantaranya Banda Aceh, Medan, Bukittinggi, Mataram, Kupang, Ujung Pandang, Manado, Ambon,
Jayapura, termasuk Pontianak.
Menteri Dalam Negeri waktu itu, Rudini, berkinginan menyamakan pola pendidikan APDN. Kemudian dikeluarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 38 Tahun 1988 tentang Pembentukan APDN yang bersifat nasional yang dipusatkan di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Dalam proses perkembangan selanjutnya dikeluarkan Keputusan Presiden No.42 Tahun 1992 yang mengubah APDN menjadi STPDN.
“Saya ikut menjadi orang yang menentang dibubarkannya APDN daerah. Saya sempat bertengkar dengannya (Rudini),” kata Tabrani Hadi.
Menurut Tabrani, ada dua alasan utama yang mendasari Rudini melikuidasi APDN daerah. Pertama, APDN di setiap wilayah terlalu bersifat kedaerahan. Kedua, APDN di daerah tidak bermutu.
“Saya tolak kedua alasan tersebut. Jika memang tidak bermutu, kenapa banyak lulusan APDN Pontianak yang menyelesaikan studi lanjutan di universitas lainnya yang terkenal seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, bahkan ke universitas di luar negeri. Mereka masuk tanpa tes bahkan diberikan beasiswa. Sebenarnya mutu APDN kita cukup tinggi. Bahkan APDN Pontianak termasuk nomor satu terbaik waktu itu,” katanya.

Manajemen pengawasan
Alumnus APDN Pontianak, Drs Alfian MSi, merasa terenyuh dengan kejadian-kejadian kekerasan yang terus menyelimuti IPDN. Dengan serangkaian kekerasan itu, masyarakat seolah memandang IPDN sebagai pencetak ahli beladiri. “Hal-hal positif dari IPDN, rusak gara-gara kejadian itu. Sangat disayangkan,” katanya.
Drs Hasanuddin M.Si, Alumnus STPDN Angkatan III dari Pontianak, mengatakan bahwa penerapa pola pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan (jarlatsus), merupakan pembeda IPDN dengan kampus lainnya.
Ia menduga, pola pengasuhan yang salah menjadi pemicu serangkaian kasus kekerasan yang dialami praja IPDN. “Pola terakhir yang tidak beres. Jumlah pengasuh dan praja tak seimbang sehingga pengawasan lemah. Depdagri pernah berjanji menambah pengasuh, tapi hal itu tidak pernah tuntas,” katanya.
Setiap tahunnya, IPDN menerima lebih dari 1.000 praja baru. Yang berati ada lebih dari 3 ribu praja yang mengenyam pendidikan di sana.
Alumnus APDN Pontianak, Drs Bulyadi MSi, mengatakan bahwa
minimnya tenaga pengasuh di kampus tersebut diakibatkan beberapa faktor. Dana kesejahteraan yang kurang untuk pengasuh dan karier yang tidak jelas menjadi salah satu faktor tidak menariknya tugas sebagai pengawas di IPDN. “Sementara tanggung jawabnya besar,” ujarnya.
Menurutnya, usulan kepada Depdagri agar para pengasuh di IPDN mempunyai jabatan stuktural minimal eselon 4 dan eselon 3 bagi kepala bidang, sudah pernah disuarakan.
Usulan itu dimaksudkan agar para pengasuh dari daerah termotifasi untuk menjalankan tugas tersebut. Sayangnya, Depdagri tidak pernah berniat menjalankan usulan itu.
Karenanya, dia memandang perlu agar IPDN merombak manajemen pengawasan. “Satu barak yang berisi sekitar 100 orang, pengawasannya tak berjenjang. Tidak diawasi 24 jam. Ini rentan akan terjadinya gesekan,” katanya.
Alumnus APDN Pontianak lainnya, Drs Alfian MSi, mengatakan bahwa praja-praja yang cendrung berprilaku menyimpang sebenarnya bisa diketahui lebih awal lewat berbagai pendekatan antisiapsi. “Pastinya ada rangkaian awal kenapa tiba-tiba praja tersebut berprilaku brutal. Kalau yang lain ikut, mungkin karena ada spontanitas rasa kebersamaan.
Nah, pantauan ini tidak diiukuti. Kalau sudah kejadan, baru mengambil langkah dan tidak melakukan antisipasi-antisipasi sebelumnya,” ujarnya.

Ego Kedaerahan
Dra Linda Purnama MSi, Alumnus APDN Pontianak, mengatakan bahwa membentuk jiwa disiplin bagi seseorang tidak harus menggunakan kekerasan fisik.
“Alunus APDN tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik seperti ditempeleng, ditinju, ditendang, tapi kami juga bisa berlaku disiplin. Yang paling penting adalah, bagaiman bisa mencetak kader yang berwawasan luas dan dapat merepon aspirasi asyarakat,” ujarnya.
Tabrani Hadi mengatakan, sejak APDN Pontianak berada di bawah kepemimpinannya, kekerasan fisik tidak diperkenankan lagi. “Tidak ada itu main pukul, bahkan memaki. Dikhawatirkan, itu terbawa saat mereka telah menjadi abdi negara,” katanya.
“Pada masa-masa kami di APDN, kalau ada yang melakukan kesalahan bentuknya membersihkan kampus. Kalau praja melakukan kesalahan berat, bisa langsung dikeluarkan. Pun juga, bila ada praja yang terlibat adu fisik, dua-duanya bisa langsung dikeluarkan,” kata Alumnus APDN Pontianak angkatan ke-20, Manto Said.
“Eksistensi APDN di daerah sebenarnya sudah baik. Sudah menyatu, seakan-akan sudah menjadi organ tubuh. Lalu tiba-tiba diamputasi. Ini suatu kesalahan,” sesal dia.
Menurut pegawai negeri yang kini berdinas di Bakomapin Kalbar ini, kekerasan di IPDN juga tak terlepas dari adanya egoisme kedaerahan.
“Senior atau pengasuh dari provinsi A lebih cenderung tidak melakukan kekerasan fisik kepada juniornya sesama provinsi A. Biasanya juga ada dendam antarprovinsi yang diwarisi. Mereka melakukan balas dendam dengan sengaja mencari-cari kesalahan,” katanya.

Kembali ke IPDN Daerah
Menurut Linda Purnama, penyeragaman berbagai karakter pribadi berbeda yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia sangat rentan menimbulkan friksi.
“Saat 20 APDN belum dilikuidasi, tidak ada usaha penyeragaman itu. Kembali ke masing-masing daerah. Mereka sudah hafal dengan karakter dan budayanya masing-masing sehingga tidak kesulitan dalam membimbing. Karena itu perlu diwacanakan kembali IPDN daerah,” katanya.
Sementara Manto Said menambahkan, IPDN tidak perlu dibubarkan jika APDN daerah muncul. “Kita serahkan saja ke mekanisme pasar. Mana yang paling bagus, itu yang akan bertahan,” katanya. Dia menambahkan, “Jumlah praja di APDN daerah juga tidak sebanyak jika lembaga ini dipusatkan. Pengawasannya jadi lebih mudah,” katanya.
Tahun ini, Kalbar dipastikan akan mencetak Praja dari Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unversitas Tanjungpura. Dengan demikian, pengawasan metode pengajaran lebih mudah.
Asisten Ketataprajaan Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, Ignatius Lyong, kemarin menjelaskan belum ada petunjuk lebih lanjut tentang pengiriman mahasiswa ikatan dinas ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dari Kalbar.
“Pemprov Kalbar bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura akan membuka Program Studi Ilmu Pemerintahan tahun ini. Izin Dikti sudah dikantongi,” katanya.
Drs Bulyadi MSi, dari Bandiklat Kalbar, mengatakan kerjasama pembukaan prodi Ilmu Pemerintahan antara Untan dan Pemrov Kalbar merupakan embrio dari pembentukan IPDN daerah.
“Pemprov berkerja sama dengan Fisipol Untan telah menyiapkan program studi Ilmu Pemerintahan,” katanya. Ia menjelaskan, pola pengasuhan program nanti didesain seperti IPDN.
Dimana, dua tahun pertama para peserta pendidikan diasramakan di Bandiklat Kalbar. Alumni APDN Pontianak ini mengatakan, pemprov dan Untan masih terus menggodok pola pembinaan yang menarik.
Jika program ini berhasil, kata dia, Kalbar akan menjadi percontohan bagi daerah lain untuk membuat program serupa. “Mungkin juga akan diadopsi oleh IPDN,” ujarnya. (**)

Labels: