We have new forums at NiteshKothari.com
TopBottom
Announcement: wanna exchange links? contact me at clwolvi@gmail.com.

Sajian di Tahun Baru Imlek

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Thursday, January 31, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

WAJIB: KUE Keranjang, panganan wajib di saat Imlek, B'ring Foto

*Dari Kue Keranjang, Vegetarian, Onde-onde Ketawa, Hingga Lempok

KUE keranjang, inilah kue khas Imlek yang dibuat dari tepung ketan dengan gula yang sangat banyak, sehingga rasanya sangat manis. Dulunya kue ini memang dibuat dalam keranjang bambu, karena itu disebut kue keranjang.

Syafaruddin Usman MHD, Peminat Kajian Kontemporer Sejarah dan Budaya Kalbar mengatakan, konon Dewa Dapur yang selama setahun hidup di bumi bersama manusia, seminggu menjelang Imlek naik ke langit untuk melaporkan kelakuan manusia.

Sebelum naik, ia menemukan kue keranjang di dapur. Dewa Dapur melahapnya dan sangat menyukainya. Ketika tiba di langit dengan mulut penuh kue keranjang, ia tidak bias mengatakan apa-apa selain kue keranjang yang manis. Jadi, kue keranjang adalah semacam ‘upeti’ bagi Dewa Dapur agar tidak melaporkan budi buruk manusia. “Begitulah, setidaknya mitologi yang dipercaya warga Tionghoa,” kata Syafaruddin.

Ia melanjutkan, mitologi lain mengatakan bahwa kue keranjang adalah penolak bala. Konon, di masa lalu ada naga bernama Nian yang doyan menyantap manusia. Suatu ketika, ia mengendap untuk memangsa orang yang sedang duduk berjongkok. Orang itu sedang membuat kue keranjang di depan tungku. Tiba-tiba api membesar, dan Naga Nian ketakutan. Kue keranjang telah menyelamatkan manusia dari naga raksasa.

Masih banyak sajian tahun baru lainnya menyambut haru biru Imlek. Kata Syafaruddin, biasanya makanan yang disajikan di hari pertama adalah vegetarian, tujuannya memurnikan tubuh dan jiwa, terdiri dari kol, jamur, tahu, rumput laut dan bihun.

Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari. Hari ke tujuh, sajian biasa berupa selada ikan mentah, terdiri dari irisan sangat tipis ikan mentah, semisal salmon, sayuran yang diparut halus, manisan melon, jeruk nipis, acar jahe putih dan merah, biji wijen, ubur-ubur, dan kacang.

Ada juga saus, salad yang terdiri dari minyak, saus plum, merica, dan kayu manis bubuk. “Mereka akan mengaduk salad memakai sumpit, tinggi-tinggi sambil mengatakan lo hei, ucapan untuk keberuntungan dan kemakmuran,” katanya.

Syafaruddin melanjutkan, simbol makanan Imlek lainnya diantaranya udang pertanda kebaikan, onde-onde ketawa sebagai simbol kebahagiaan dan keberuntungan. Jaruk mandarin atau jeruk tangerine yang mengandung makna menguntungkan dan harapan besar keberuntungan. Ikan, mewakili sesuatu yang berlimpah ruah.

Pilihan yang menguntungkan, menyisakan tulang dari kepala hingga ekor, merupakan simbol kekayaan dan juga awal yang baik. Sayuran hijau atau daun selada mengandung arti kekayaan dan makanan, mengekspresikan harta yang melimpah dan kelahiran di tahun baru.

“Barongsai atau tarian naga biasanya ditarikan saat Imlek, yang seringkali ditawari daun selada. Jika naga barongsai menyantapnya, pertanda baik, karena kekayaan dan kemakmuran akan menjadi milik si pemberi daun selada,” kata Syafaruddin.

Secara kebetulan, Imlek biasanya jatuh pada akhir musim durian. Karena itu, dodol durian atau yang biasa dikenal dengan nama lempok, merupakan sajian cukup popular pada perayaan imlek. “Tradisi lainnya adalah menghidangkan kue lapis legit. Kue manis ini melambangkan rezeki yang berlapis-lapis,” katanya.

Labels:

Semarak Imlek di Pontianak: Puji Syukur atas Kelimpahan dari Tuhan Melalui Bumi

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Saturday, January 26, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

SEMBAHYANG: Warga Tionghoa Pontianak sembahyang di Klnteng menyambut Imlek, Bearing Foto

Chinese New Year atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan Tahun Baru Imlek 2559, merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa seluruh dunia. Untuk menyambut datangnya awal musim semi ini yang jatuh pada tanggal 7 Februari 2008 mendatang, negara-negara di dunia telah mempercantik diri dengan berbagai perhelatan akbar, termasuklah di Pontianak.

Oleh Efprizan Rzeznik

SINGAPURA misalnya, telah siap mempercantik diri negaranya menyambut tahun dengan shio tikus emas ini. Bazaar, festival dan parade yang sangat meriah telah mereka siapkan.

Informasi yang diterima Pontianak Post dari Singapore Tourism Board, acara Imlek nanti dikemas melalui berbagai acara, yakni Chinatown Street Light-Up (19 Januari 2008—24 Februari 2008), Singapore River HongBao (5—16 Februari 2008), dan Chingay Parade of Dreams (15 & 16 Februari 2008).

Diawali dengan peresmian Chinatown Street Light-Up pada tanggal 19 Januari lalu dimana Chinatown sebagai area pusat perayaan dihias dengan berbagai dekorasi oriental yang didominasi oleh hewan tikus sebagai lambang hewan yang menaungi tahun 2008, perayaan Tahun Baru Imlek pun dimulai.

Bagaimana dengan di Pontianak, Imlek tahun ini juga dipastikan akan lebih semarak dan membuat perhatian dunia ikut tertuju ke Kota Khatulistiwa. Bahkan dikabarkan, tiket pesawat dan hunian hotel di Kota Pontianak sudah terpesan selama Imlek ini.

Ada apa gerangan? Ternyata di kota ini akan dihelat sebuah pagelaran akbar berupa naga raksasa yang bersiap untuk kembali memecahkan rekor Muri bahkan dunia.

Ukuran binatang suci dalam mitologi Cina ini memang luar biasa. Dijelaskan Shinse Aleng, pimpinan Sanggar Mandala yang merupakan pengagas acara ini, bobot kepala naga raksasa tersebut mencapai 100 kg dengan tinggi kepala 8 meter.

Badan naga raksasa itu mempunyai panjang sekitar 288 meter dengan diameter badan 5 meter. Tidak seperti naga sebelumnya, kali ini naga tersebut akan mempunyai kaki asli yang dapat bergerak dengan menggunakan mesin. Festival tersebut akan dipusatkan di A Yani Mga Mal berikut dengan parade lainnya, juga atraksi arakan naga terpanjang yang tahun lalu sempat masuk catatan museum rekor Indonesia (Muri).

Syafaruddin Usman MHD, Peminat Kajian Kontemporer Sejarah dan Budaya Kalbar mengatakan, pada dasarnya Imlek adalah festival kesuburan, berfokus pada tanah yang memberikan rezeki dan kehidupan bagi manusia. Tetapi, rezeki itu diberikan Tuhan atas dasar kerja keras manusia sendiri.

“Perayaan Imlek merupakan puji syukur atas kelimpahan yang diberikan Tuhan melalui bumi,” katanya. Siang sampai senja hari menjelang Imlek, seluruh kota menjadi lengang. Seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah untuk melalukan ciak tua kai atau makan besar. Imlek juga ditandai dengan hujang. Heng, kata orang Pontianak, artinya rezeki. Orang-orang muda Tionghoa menambah marak suasana, mereka berjalan-jalan mengitari kota atau kwang cia.

Serombongan barongsai diarak berkeliling kota. Sebelumnya, dari siang hingga sore hari, beberapa rombongan barongsai tampak berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan angpau.

Sejak pukul sepuluh malam menjelang Imlek, kelenteng-kelenteng Pontianak dan Singkawang dan sekitarnya sudah penuh dengan warga yang bersembahyang.

Puncaknya terjadi pada tengah malam, ketika diyakini Dewa Kekayaan turun ke bumi. Dewa Kekayaan ini, konon, hanya mampir sebentar untuk membagi rezeki. Keesokan paginya ia sudah kembali ke nirwana.

Keluar dari kelenteng, orang mulai saling menyampaikan ucapan selamat tahun baru dengan ucapan Sin Cia Ju Ie (bahasa Tio Ciu). Dalam bahasa Mandarin disebut Sin Nien Kwai Le.

Warga Tionghoa ada pula yang memakai istilah Sin Cun Kiong Hie (bahasa Hokkian). “Gong Xi Fa Cai (bahasa Mandarin) bukanlah terjemahan selamat tahun baru, melainkan harapan keselamatan dan kesejahteraan untuk tahun mendatang. Sekarang orang lebih banyak bersalaman ketika menyampaikan ucapan itu. Dulu, ucapan itu disampaikan sambil saling melalukan soja atau kowtow, yaitu menggenggam kedua tangan dan mengguncang-guncangkannya di depan dada sambil menundukkan kepala,” kata Syafaruddin usman yang juga menulis buku tentang sejarah Tionghoa di Kalimantan Barat ini.

Syafarudin menambahkan, “Imlek oleh sebagian pendapat mengatakan bukanlah sebagai perayaan keagamaan. Karena itu, tradisi Imlek tetap dirayakan oleh warga Tionghoa sekalipun ia sudah menganut agama tertentu.” (**)

Labels:

Trafficking: Kemiskinan itu Membuat De Terjerat

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Friday, January 25, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

De ketika diwawancarai repoter

NIAT De, 22 tahun, untuk keluar dari belenggu kemiskinan dan membantu orang tua di kampung halaman Karawang Jawa Barat, dengan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Kuching Malaysia, berakhir tragis. Bukan harta yang didapatkan, tetapi siksaan fisik, psikis, dan moral yang harus ditanggungnya. Untuk kesekian kalinya, Kalbar menjadi tempat transit bagi mafia trafficking sebelum menjajakan dagangannya ke negeri Jiran.

Trauma masih terlihat jelas di wajah De. Ia sangat ketakutan melihat seorang pria bertubuh tegap, berkulit gelap, dan berkacamata hitam saat berada di Dinas Sosial Provinsi Kalbar, kemarin (25/1). Entah apa yang ada di dalam benak perempuan berhidung mancung itu.

Emosinya masih labil. Ingatannya pun masih belum sempurna seperti orang normal. Kadang ia lupa mengingat sesuatu yang dulunya dia hapal di luar kepala, seperti, di mana alamat pasti tempat dia tinggal di Karawang bersama keluarga, kapan dia datang ke Pontianak. Semua jadi hampa dalam memori.

Perkataannya pun belum bisa dipegang sepenuhnya keakuratannya. Kadang dia berbicara A, tapi ketika ditanyakan ulang, jawabannya berubah.

De lupa kapan persisnya dia datang ke Pontianak. Katanya, dia datang di awal tahun 2007 bersama seorang pria yang menjanjikan pekerjaan layak dengan uang melimpah. Janji yang akan melepas status ketermiskinannya dan kemudian berganti mnjadi mimpi buruk baginya.

Siapa orang yang menghadirkan mimpi buruk baginya itu? Soal itu, ternyata De masih hafal. Berkali-kali dia menyebut nama seseorang dngan berinisial DM beserta pria lainnya lagi yang menurut De adalah keponakan DM yang berinisial Ank.

DM dan Ank, dari pengakuannya, juga telah berkali-kali menyetubuhinya di bawah ancaman. Perkosaan itu dilakukan di Pontianak sebelum dirinya kemudian berpindahtangan ke penyalur tenaga kerja di Kuching, Malaysia.

***

DARI ceritanya, De terlahir dari keluarga miskin di sebuah Desa di Karawang, Jawa Barat. Dia anak kedua dari tujuh bersaudara. Untuk keluar dari kungkungan kemiskinan itu, De bekerja apa saja untuk membantu kedua orangtuanya.

Pertemuannya dengan DM, yang kini sedang dicari oleh aparat Kepolisian Entikong sebagai mafia trafficking, bermula di Jakarta. Saat itu De sedang mengamen bersama teman-temannya yang juga kurang beruntung dalam hal ekonomi.

“Waktu itu dia bilang, saya tak pantas sebagai pengamen. Ada pekerjaan yang lebih baik dan dia bisa menolong saya untuk mengurus segalanya, yakni bekerja di Malaysia,” kenangnya.

Bujukan DM ternyata menjadi angin surga bagi De. Tanpa berbekal dokumen apapun, dia berangkat ke negeri Jiran dan transit di Pontianak untuk kemudian masuk ke negeri tetangga melalui perbatasan.

Mulai dari tempat transit inilah semua tragedi itu terjadi. Perkosaan, ancaman, dan derai air mata, mulai lekat di kehidupannya. Sampai di Sarawak Malaysia, De berpindah tangan. Kali ini dia bersama penyalur tenaga kerja dari Malaysia yang dia kenal dengan nama Mr.Lee.

“Saya mau dipekerjakan olehnya di tempat prostitusi, tapi saya tak mau. Saya juga sempat mau diperkosa olehnya,” kata De dengan mata menerawang.

Tidak jelas kelanjutannya, De kemudian menjadi pembantu rumah tangga di Kuching. Menurutnya, dia bekerja di rumah David, seorang pekerja swasta di negara itu.

“Di sana saya memang tidak dianiaya mapun dipekosa. Tapi majikan saya medit (pelit). Sehari hanya diberi makan sekali. Itu pun jam 12 malam,” katanya.

Sebagai seorang muslim, ia pun terpaksa makan masakan yang didiharamkan oleh agama yang dianutnya. Akibatnya hingga kini, badan De menjadi alergi dengan bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya.

Akhir perjalanannya di rumah David berakhir ketika dia disuruh mengambil rokok tuannya di lantai tiga. Perintah itu harus dilaksanakannya secepatnya. “Saya disuruh cepat-cepat ambil rokok. Saya kemudian terpeleset. Dan jatuh terguling-guling dari lantai tiga,” akunya.

Akibat kejadian ini, De menderita patah kaki. Derita itu harus ditanggungya slam berbulan-bulan di sebuah rumah sakit di Malaysia. Derita itu masih dia rasakan hingga sekarang. De kini berjalan pincang dan harus dituntun.

***

Kamis (24/1) sore, mobil Kijang yang membawa De beserta Penanggung Jawab Pos pelayanan Penempatan dan Perlindungan (P4TKI) TKI Pontianak pada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI, Andi Rahim, meluncur dari perbatasan Entikong ke Pontianak. De kini telah aman dan diurus oleh pemerintah Indonesia.

De ditemukan seorang diri dalam kondisi payah di terminal border. “Jalan tidak bisa, mukanya pucat seperti mayat hidup, saat ditemukan, dia tak bisa bicara. Kondisinya tampak stres berat waktu itu,” cerita Andi.

Saat ditemukan, De tidak mengantongi identitas sama sekali. “Dia masuk ke Kuching, kemungkinan pakai pasport orang lain,” katanya. De kemudian dibawa ke Kantor Polisi Entikong. Sayangnya, orang yang membawa De hingga ke Border Entikong, tidak diketahui.

Kasus ini, kata Andi, kini ditangani oleh kepolisian Entikong. “Kami pun ikut membantu melacak agen yang disebut-sebut korban. Sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” kata Andi. Menurutnya, De merupakan korban perdagangan perempuan (tarfficking).

Selama semalama, De sementara diinapkan di kediaman keluarga Andi di Gang Sentosa Sungai Jawi Pontianak. Jumat (25/1) pagi, De kemudian diserahkan ke Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat untuk penanganan selanjutnya.

“Kita koordinasikan ke Dinsos untuk tindakan selanjutnya. Jika sudah diketahui identitasnya secara lengkap, secepatnya kita akan kembalikan ke kampung halaman,” katanya.


(Note: Tidak seperti biasanya, entah kenapa pada liputan kali ini, usai wawancara saya sempat terharu melihat korban. Empati itu merasuk tiba-tiba...Bayangkan bila itu terjadi pada keluarga, teman, dan orang-orang yang Anda cintai...)

Naga Raksasa Siap Membelit Pontianak

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Thursday, January 24, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

CAKAR: pembuat naga raksasa sedang menyelesaikan proses pembuatan cakar naga raksasa, Shando Foto


PONTIANAK—Jika di Imlek sebelumnya Pontianak menoreh penghargaan memiliki naga terpanjang, 549,26 meter, yang dicatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri), kali ini di Tahun Baru China 2559 Kota Khatulistiwa sekali lagi akan mengukir sejarah di negeri ini bahkan dunia. Peringatan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini akan dimeriahkan oleh naga raksasa yang bersiap untuk kembali memecahkan rekor Muri bahkan dunia.

Ukuran binatang suci dalam mitologi Cina ini memang luar biasa. Dijelaskan Shinse Aleng, pimpinan Sanggar Mandala yang juga penanggung jawab acara, didampingi Sekretaris Sanggar Mandala, Umi Faizah, bobot kepala naga raksasa tersebut mencapai 100 kg dengan tinggi kepala 8 meter.

Badan naga raksasa itu mempunyai panjang sekitar 288 meter dengan diameter badan 5 meter. Tidak seperti naga sebelumnya, kali ini naga tersebut akan mempunyai kaki asli yang dapat bergerak dengan menggunakan mesin.

“Kalau di naga Muri lalu, kakinya hanya ditempel saja pakai kain yang dibuat seolah-olah menyerupai kaki. Kali ini pada naga raksasa kita buatkan kaki khusus yang bisa bergerak,” ujar Aleng.

Berjalan di perut naga

Ada hal spesial lainnya pada naga raksasa tersebut. Hal spesial itu terletak di dalam perutnya. Naga raksasa rekor dunia akan membuat para pengunjung dapat masuk dan berjalan di dalam perut naga yang akan dihiasi dengan aneka lampion, aksesoris, musik, dan lainnya sehingga akan memberikan suatu kenyamanan bagi setiap pengunjung.

Shinse Aleng menjelaskan, dalam perut naga tersebut akan disediakan lampion terbesar dengan ukuran lebar 2 meter dan tinggi 2,5 meter. Lampion inilah yang kelak membuat naga akan bercahaya di waktu malam.

Di dalam perut naga, juga akan disediakan replika pagoda dengan tinggi 2,5 meter juga taman imitasi, lengkap dengan patung Dewi Kwan Im. Hal spesial lainnya yang terdapat di dalam perut naga yakni hadirnya musik tradisional dari 33 provinsi dilengkapi dengan para model yang menggenakan baju adat masing-masing provinsi.

“Ini merupakan persembahan karya anak bangsa. Membawa harum nama Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Dalam pagelaran kali ini, tak hanya menonjolkan budaya Tionghoa saja, tapi seluruh Indonesia. Menunjukkan bahwa kita berbhineka tunggal ika,” kata Aleng.

Jadwal masih tentatif

Berbeda dengan naga sebelumnya, naga raksasa ini tidak diarak mengelilingi kota. Naga raksasa tersebut hanya berdiam di A Yani Mega Mall Pontianak, tepatnya di pelataran parkir.

Mengenai jadwal pagelaran naga raksasa ini, panitia masih belum mengeluarkan waktu yang pasti. “Rencana awalnya, kegiatan ini akan berlangsung selama 12 hari. Pembukaannya akan dilakukan pada 6 Februari pas malam Imlek diikuti dengan festival kembang api. Tapi ini masih tentatif. Dalam waktu dekat kami akan mengumumkan jadwal pastinya,” kata Sekretaris Sanggar Mandala, Umi Faizah.

Pagelaran naga raksasa dunia ini juga didampingi bazar oriental dan panggung terbuka. Setiap hari pengunjung dan wisatawan juga disuguhi dengan pelbagai acara. Beragam acara yang akan disuguhkan diantaranya pemilihan Koko—Cece, festival tari naga, festival barongsai, pemilihan miss tiffany oriental, festival kreatifitas lampion, karaoke lagu Mandarin, dan sebagainya.

Seharga Rp1M

Pihak panitia yang dikomandani oleh Sanggar Mandala Puja Pontianak ini telah melakukan persiapannya sejak tiga bulan lalu. Kini pembuatan naga raksasa tersebut telah memasuki tahap penyelesaian sekitar 60 persen.

“Penyelesaian naga ini sudah jalan empat bulan berjalan dan dikerjakan oleh 15 orang,” kata Umi. Bagian-bagian naga seperti kepala, telinga, kaki, ekor, dilakukan di Sekretariat Sanggar Mandala Jalan Gajahmada 5 nomor 36—40. Naga berbahan utama rotan ini menghabiskan sekitar 1.000 meter kain. Sedangkan penyelesaian akhir berupa badan naga akan dikerjakan langsung di pelataran parkir A Yani Mega Mal.

Berapa harga pembuatan naga raksasa tersebut? “Mencapai angka Rp1 miliar,” kata Shinse Aleng. Karena biaya yang dikeluarkan tersebut tidak sedikit, panitia berharap banyak adanya uluran tangan dari donatur maupun sponsor untuk ikut mendanai pagelaran ini. Bagi yang ingin berpartisipasi bisa menghubungi sekretariat kami di Jalan Gajahmada V,” kata Aleng yang juga pemilik Cetya Mandala Puja ini.

Pawai naga

Direncanakan juga, naga terpanjang yang telah tercatat pada Muri tahun lalu juga akan turun kembali ke Bumi Khatulistiwa. Naga sepanjang 549,26 meter ini akan diarak keliling kota dan melewati ruas jalan-jalan utama kota.

Naga Muri ini akan melakukan upacara ritual buka mata pada tanggal 19 Februari. Kemudian, naga tersebut rencananya akan dikirim ke khayangan dan akan meninggalkan kota ini untuk selama-lamanya pada tanggal 22 Februari lewat ritual pembakaran yang dilakukan di sebuah pemakaman di wilayah Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. (zan)

Labels:

Digagas, Sertifikat BTA Bagi Lulusan SD Pontianak

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Saturday, January 19, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


SETIAP murid tamatan SD/MI di Kota Padang mempunyai sertifikat Baca Tulis Alquran (BTA). Sertifikat tersebut merupakan persyaratan mutlak bagi siswa lulusan SD/MI Padang yang harus dilampirkan saat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya di lembaga pendidikan di Ranah Minang ini. Bagaimana penerapannya?

PERLU rentang waktu yang cukup panjang bagi Pemerintah Kota Padang dalam penerapan program SD plus BTA. Sejak dirancangnya program ini hingga aplikasi menyeluruh di lapangan mempunyai jangka waktu selama lima tahun.

Kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Datok M Noor Amin, dalam interval sekitar lima tahun setelah program ini dicanangkan maka kewajiban pelaksanaan BTA bagi murid SD/MI dimulai pada tahun ajaran 2006/2007.

Penentuan murid yang mengikuti program SD Plus Alquran dilakukan seleksi oleh tim sebanyak dua tahap yakni: Seleksi tahap pertama dilakukan guru agama sekolah yang bersangkutan, dan seleksi tahap kedua dilakukan instruktur yang ditunjuk dimana bila berdasarkan seleksi, ditemui calon peserta didik tersebut telah pandai BTA, maka dia dikeluarkan sebagai calon yang akan diikutkan dalam kegiatan pembelajaran ini, dan diganti dengan yang lain yang belum bisa BTA. Instruktur kebanyakan berasal dari Sekolah Tinggi Agama Islam-Penembangan Ilmu Al-Quran (STAI-PIQ) Kota Padang.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama 1,5 jam setelah kegiatan kurikuler selesai (pukul13.00-15.00) dengan tiga kali pertemuan dalam seminggu dan berlangsung selama tujuh bulan. Pemerintah Kota Padang juga telah mengeluarkan Perda Kota Padang Nomor 06 Tahun 2003 tentang Pandai BTA bagi Peserta Didik SD dan MI. Perda ini terdiri dari 11 bab dan 17 pasal. Pada Bab III Pasal 4 poin 1 di Perda tersebut menyebutkan bahwa setiap peserta didik SD dan MI yang menamatkan jenjang pendidikannya wajib pandai BTA dengan baik dan benar.

"Mulai tahun ajaran ini, murid lulusan SD/MI muslim Padang mempunyai sertifikat Baca Tulis Alquran (BTA). Sertifikat tersebut merupakan syarat wajib bagi siswa lulusan SD/MI Padang yang harus dilampirkan saat masuk SMP sederajat di Kota Padang. Bagi siswa muslim tamatan SD/MI luar Padang dan melanjutkan ke SMP kota ini, cukup melampirkan NEM dan ijazah, akan tetapi, bila yang bersangkutan belum bisa BTA, dia wajib untuk mengambil sertifikasi tersebut," kata Datok.

Bagaimana peran Legislatif Kota Padang dalam mendukung kebijakan ini? Hal itu sempat ditanyakan Anggota Komisi D DPRD Kota Pontianak Drs Firdaus Zar'in dalam dialog dengan Pemkot Padang yang juga dihadiri DPRD Padang ini. Pertanyaan tersebut langsung dijawab Wakil Ketua DPRD Kota Padang, H Masdiardi.

Kata dia, dukungan DPRD Padang dalam merancang program tersebut serta pembuatan payung hukumnya telak dilakukan dewan sejak periode 1999-2004 hingga periode sekarang. "Dukungan DPRD sudah terlihat pada pembuatan pra-perda dan DPRD ikut merancang pendanaan. Bagaimana agar program tersebut bisa dimuat dalam APBD. Kita juga ikut sosialisasi sebelum perda itu keluar," tuturnya.

Hebatnya lagi, guna mensosialisasikan program tersebut, masing-masing Anggota DPRD Padang langsung tu run ke lapangan. Secara bergantian, menjadi inspektur upacara di masing-masing sekolah dan melakukan sosialisasi program tersebut.

Komisi D Pontianak, cukup puas dengan penjelasan program tersebut. Mereka juga dibekali Pemkot Padang materi Perda yang berkaitan dengan program BTA serta buku panduan pengembangan program SD plus BTA di Kota Padang.

Ketua Komisi D DPRD Pontianak, Budi Sayogio SE mengatakan, program ini akan menjadi bahan kajian positif dalam rangka peningkatan mental spiritual anak didik di Kota Pontianak. "Program ini akan dikaji lebih lanjut untuk diterapkan di Pontianak karena tantangan bagi generasi muda kita ke depan lebih berat dengan berbagai godaan-godaan. Benteng yang paling ampuh adalah mempertebal iman dan takwa. Apalagi generasi muda kita dihadapkan dengan ancaman narkoba, HIV/AIDS, kenakalan remaja, sex bebas, dan lainnya," beber Budi, sembari menambahkan bahwa, jika program ini jadi dibahas maka akan melibatkan para stakeholder, "Apalagi masyarakat Kota Pontianak sangat heterogen. Makanya kita akan kaji lebih lanjut lagi program ini."

Sementara itu M Arif SAg mengatakan bahwa sebenarnya apa yang telah diterapkan di Padang ini tidak terlalu sulit untuk diadopsi di Kota Pontianak. "BTA merupakan pengetahuan dasar yang harus dimiliki umat Islam. Jika Pemerintah pro aktif ingin memberantas buta BTA, maka program ini harus dimasukkan di sekolah-sekolah secara formal. Program ini dapat menangkal godaan negatif yang saat ini sangat rentan merusak moralitas pelajar dan pemuda kita," kata Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini.

Labels:

NU Serukan Gerakan Moral Bangsa Ampuni Soeharto

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Tuesday, January 15, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Foto Shando

KETUA Umum PB Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Muzadi, mengatakan bahwa penanganan kasus Mantan Presiden RI Soeharto sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan moral. Hal itu bertujuan agar bangsa ini ke depan tidak berada dalam lingkaran dendam dan pertikaian.

“Orang seperti Pak Harto dengan segala jasa dan salahnya itu sebaiknya dimaafkanlah. Agar setelah ini bangsa kita tidak berkelahi,” kata Hasyim kepada wartawan usai menghadiri acara Hari Lahir (Harlah) ke-82 NU, yang dipusatkan di Gedung Balai NU Kalbar Jalan Husein Hamzah (Pal 3) Pontianak, kemarin (15/1).

Hasyim mengajak bangsa ini berkaca pada apa yang terjadi di Afrika Selatan (Afsel), dimana Nelson Mandela dipenjara 27 tahun oleh rezim Apartheid dan setelah tumbang, Nelson kemudian terpilih menjadi Presiden. “Yang pertama kali diampuni yakni mereka yang memasukkan dia ke penjara,” katanya.

Ia menambahkan, “Ternyata pengorbanan ini bermanfaat untuk negara Afsel. Akhirnya kan Afsel aman. Coba ini digulirkan terus dan masih ada dendam, seperti Pakistan, kan akhirnya dendam berkelanjutan turun-temurun. Yang penting gerakan moral banga untuk menghentikan lingkaran balas membalas ini.”

Hasyim berharap, dengan pendekatan seperti itu maka setelah Soeharto mangkat maka bangsa ini terhindar dari keributan. “Bangsa ini jangan terlalu larut dalam dendam. Kalau dendam coba lihat Pakistan sekarang ini,” ujarnya.

Menurutnya dengan memaafkan Soeharto, tidak semata-mata menganggap penguasa rezim orde baru ini tidak salah. “Memafkan berarti itu kan ada salahnya. Ada hutangnya. Soal perdata, silakan tetap berjalan,” katanya.

Dilihat dari pendekatan agama, lanjutnya, jika orang meninggal maka ahli warisnya wajib mengurus seluruh utang-utangnya dan mengembalikannya kepada yang bersangkutan. “Itu ketentuan agama. Kalau hutangnya tak dikembalikan, maka amalnya tergantung,” ujarnya.

Karena itu, Hasyim berharap agar para ahli waris ini mau dengan ikhlas, terlepas ada pengadilan atau tidak, mengurus hutang-hutang Soeharto jika telah wafat kelak.

“Karena ini urusan duniawi, diuruslah hutang-hutangnya kepada masyarakat untuk dikembalikan agar arwahnya nanti menjadi khusnul khotimah,” kata dia. (efprizan)

Labels:

Selalu Ada Jalan untuk Keluar dari Telur itu

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Monday, January 14, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


*Melihat Dari Dekat Pusat Pelayanan Penyandang Cacat Fisik Sabatu

Rio kini sudah bisa berdiri. Walaupun masih payah untuk berjalan, tapi dia tidak lagi merangkak. Dia juga sudah bisa mengenakan pakaiannya sendiri. Bocah delapan tahun ini ingin segera bersekolah setelah sembuh nanti.

EFPRIZAN, Pontianak

RIO merupakan salah satu dari 23 penghuni Pusat Pelayanan Penyandang Cacat Fisik Saling Membantu (Sabatu) yang terletak di Jalan Cendana 110 Pontianak. Dia sudah berada di Sabatu sejak setengah tahun lalu.

Bocah asal Singkawang ini menderita kelainan tulang kaki semasa kecilnya. Semua itu berawal dari demam tinggi yang dideritanya waktu bayi sehingga membuat kakinya lumpuh. Sakit itu juga yang menyebabkan bicaranya pelat.

“Sebelum datang ke sini dia hanya bisa merangkak. Setelah mendapatkan fisioterapi dia kini bisa berdiri,” kata Wanastasia Idang, Pengurus Pusat Pelayanan Penyandang Cacat Fisik Sabatu, Minggu (13/1).

Hadirnya Sabatu di Kalimantan Barat bermula dari kedatangan Bruder Pematang Siantar yang tergerak untuk mendirikan sebuah pelayanan khusus yang membantu anak-anak penyandang cacat fisik yang tak terbantukan. Awal berdiri, Sabatu berlokasi di Taman Sungai raya pada tahun 1998. Sempat beberapa kali pindah tempat hingga akhirnya mendapatkan pusat pelayanan tetap di Jalan Cendana Pontianak.

Pusat pelayanan ini terbilang bersih, indah, dan asri. Ruang tamu menyatu dengan ruang tengah. Kesan alami juga ditonjolkan dalam arsitektur ruangan. Susunan batu bata di dinding ruang tamu sengaja tidak disemen kembali. Batu bata itu dibiarkan saja menonjol alami.

Di dindingnya digantung gambar abstrak yang dibentuk dari potongan-potongan porselein berbagai warna. Ada juga foto-foto penghuni asrama.

Bagian dalam bangunan, terdapat beberapa kamar yang saling berhadapan. Kamar tersebut antara lain digunakan untuk ruang makan, kamar untuk putra, kamar untuk putri, kamar ibu pengasuh, physiotherapy, ortotik, toilet, administrasi, ruang makan, dan ruang keterampilan.

Di tengah bangunan terdapat sebuah taman. Cukup sejuk di kala siang di mana mentari Khatulistiwa cukup terik bersinar. Panti itu cukup menampung hingga 23 anak.

Menurut Wanastasia, penghuni panti tidak memandang suku maupun agama, ras, dan status ekonomi. ”Siapapun dia, asal mempunyai motivasi penuh untuk bisa pulih, akan kita terima,” katanya. Walaupun didirikan oleh bruder, penghuni panti juga datang dari berbagai agama. Rio, contohnya, bocah itu adalah seorang muslim.

Pendirian Sabatu memang mulia bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada para penyandang cacat fisik dengan menjadi perantara dan pemandu jalan antara orang cacat dengan instansi atau perorangan, agar kondisi orang cacat dapat ditingkatkan dan ia secara mental dapat menerima dirinya dengan kecacatannya.

Sasaran Sabatu yakni mereka yang mengalami kecacatan fisik bawaan, dapatan atau akibat keclakaan sampai batas umur 25 tahun. ”Kadang-kadang ada pengecualian, terutama yang amputasi,” kata Wanastasia.

Sabatu juga mempunyai petugas lapangan yang bertugas melakukan pendataan, inventarisasi penyandang ke kampung-kampung (termasuk melihat kembali penyandang yang telah ditangani atau yang memakai alat bantu) dan membawa mereka ke pusat pelayanan.

Penyandang akan menginap di pusat untuk menjalani rehabilitasi, urusan alat bantu, kursus atau kerajinan lainnya sebagai keterampilan usaha dan persiapan di masa depan. Sabatu juga melayani pasien dengan surat pengantar dari dokter khususnya untuk fisioterapi/pembuatan alat bantu.

Sejak akhir 2006 lalu, telah terdaftar di Sabatu sebanyak 2.494 penyandang dan telah efektif dibantu sebanyak 907 orang. Oleh panti, anak-anak di sana juga diberikan berbagai pelatihan seperti menjahit, membuat kerajinan tangan, hingga kursus komputer. Beberapa hasil kerajinan tangan mereka seperti gantungan kunci dan berbagai aksesoris wanita yang terbuat dari manik-manik juga cukup laku di pasaran.

Pusat pelayanan sosial ini, kata Wanastasia, tidak mungkin mandiri dari segi finansial dan terus memerlukan adanya uluran tangan dari para dermawan. Pihaknya juga berharap agar pemerintah daerah memberi bantuan. ”Sekecil apapun bantuan dari pemeirntah untuk kami sangat beharga,” katanya.

Bantuan yang diperlukan, katanya, terutama keringanan biaya untuk operasi anak cacat. ”Selama ini kita selalu membayar operasi untuk mereka dengan harga normal. Kita tidak inginkan gratis, tetapi paling tidak ada subsidi dari pemerintah untuk diringankan. Juga untuk biaya penginapan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam satu bulan ada sekitar tiga hingga empat anak yang melakukan operasi. Pada bulan ini, tengah menunggu untuk dioperasi bibir sumbing sebanyak lima orang.

Minggu kemarin, DPC Partai Demokrat juga melakukan kunjungan ke Pusat Pelayanan Penyandang Cacat Fisik Sabatu ini. Mereka berbagi kasih dan bahagia dengan anak-anak penyandang cacat.

Di bawah pimpinan Hartono Azas, mereka menyerahkan sejumlah bingkisan dan bantuan uang tunai.

”Ini memang program aksi sosial kita yang rutin kami selenggarakan sekaligus juga dalam momen natal dan tahun baru,” kata Hartono Azas yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak ini. Partai berlambang menyerupai tiga berlian ini juga melakukan aksi sosial di berbagai tempat seperti panti asuhan dan panti jompo.

Disinggung mengenai aspirasi pimpinan Sabatu, Azas bersama anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Pontianak berusaha memperjuangkannya.

Kita menampung aspirasi itu dan menyampaikannya ke pemerintah melalui program sosial kemasyarakatan. Kita akan memperjuangkannya. Bagaimanapun juga, panti ini ikut membantu program pemerintah dalam penanganan anak-anak penyandang cacat. Tugas yang sangat mulia dalam mengemban misi kemanusiaan,” katanya.

Sesuai dengan Logo Sabatu, anak-anak penyandang cacat memerlukan uluran tangan. Dua tangan, satu yang memberi, satu yang menerima dengan merangkul tanda cinta kasih. Logo berbentuk telur melambangkan: Hidup, namun gerak gerik dan cakrawala sempit dan terbatas. Namun, masih ada harapan untuk keluar dari keterbatasan dan kesempitan fisik dan mental dilambangkan dengan dua lubang dalam telur di logonya itu.

Selalu ada jalan untuk keluar dari telur itu. Uluran tangan itu lah yang dibutuhkan mereka untuk mmbimbing mereka keluar. Sekecil apapun bantuan Anda sangat membantu mereka keluar dari lubang itu. (**)

Labels:

Menunggu Kebijakan Pendidikan & Kesehatan Gratis di Kalbar

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Friday, January 11, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Shando Safela Foto

Pendidikan maupun kesehatan gratis adalah tanggung jawab negara untuk memenuhinya. Karena itu, jika ada pejabat daerah yang mengungkapkan bahwa pendidikan dan kesehatan gratis tidak layak dan tidak mendidik, merupakan bentuk diskriminasi mereka terhadap hak-hak dasar warga negara.

Demikian dikatakan Ketua Divisi Advokasi Jaringan independent Masyarakat Sipil untuk Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan (Jari) Indonesia Orwil Borneo Barat, Indra Aminullah.

“Pendidikan maupun kesehatan gratis adalah tanggung jawab negara untuk memenuhinya. Jangan beralasan bahwa hal ini akan memberikan etos belajar siswa semakin menurun. Karena tingginya angka putus sekolah salah satunya disebabkan karena biaya yang tinggi walaupun bukan untuk keperluan SPP, tetapi untuk buku, pakaian dan lain-lain,” katanya.

Menurutnya, ungkapan yang mengatakan bahwa kebijakan pendidikan gratis tidak sejalan dengan UU No 20 Tahun 2003 adalah retorika politik yang masih bisa diujipublikkan. Soalnya, dalam UUD 1945 sudah memandatkan bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan yang layak dan penghidupan yang layak.

“Jadi pendidikan dan kesehatan merupakan hak dari masyarakat untuk mendapatkannya tanpa biaya sedikitpun dan menjadi tanggungjawab negara. Kita tantang anggota dewan yang berbicara begitu untuk berdiskusi dengan kami mengenai hak dasar warga negara,” katanya.

Indra mengatakan, pendidikan dan kesehatan gratis bukan persoalan bisa atau tidak bisa. Melainkan, keharusan yang harus dipenuhi dan kemauan dari pengambil kebijakan.

Dia juga menyarankan agar gubernur terpilih Kalbar, untuk turun langsung ke lapangan dan melihat realitas di lapangan apakah benar pendidikan di provinsi ini sudah gratis.

“Apalagi sekarang pemerintah mewajibkan wajib belajar atau disingkat dengan wajar seembilan tahun. “Ini merupakan wajar yang tidak ‘wajar’. Artinya, pemerintah mewajibkan masyarakat untuk lulus hingga tamat SMP, tetapi masih dikenai biaya. Dana BOS hanya menutupi anggaran pendidikan sebagian, tetapi bagaimana dengan uang pakaian sekolah, buku tulis dan alat tulis serta transportasi?” ujarnya.

Indra menambahkan, belum lagi dengan penarikan iuran di sekolah yang sekarang masih terjadi. “Kembali saya sarankan para pejabat jangan hanya duduk di meja tetapi merasakan realitas di lapangan bahwa kondisi keterpurukan pendidikan dan kesehatan kita masih dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi D DPRD Kalbar, Katharina Lies, masih sangsi dengan wacana penerapa pendidikan gratis untuk Provinsi Kalbar. “Saya ragu ide ini bisa diterapkan. Bukannya kenapa, kita lihat di lapangan, program pendidikan kita entah itu infratsruktur, programnya, mekanisme pelaksanaan pogram, masih belum berjalan baik. Masih banyak hambatan menuju ke arah itu. Masih ada kebocoran-kebocoran dalam menjalankan program,” ujarnya.

Lain halnya dengan M Fanshurullah Asa, Anggota DPR RI asal Kalimantan Barat dari Partai Amanat Nasional, mantan aktifis kampus ini sangat getol menyuarakan agar pendidikan dan kesehatan gratis dapat tercipta di Kalbar.

Di Sulawesi Utara misalnya, kata pria yang karib disapa Ifan ini, khususnya di Kabupaten Minahasa di bawah Bupati Stevanus Vince R, dengan hanya PAD pertahun sebesar Rp18 miliar tapi memiliki kebijakan di daerahnya dengan menggratiskan semua sumbangan pendidikan di SD sampai SLTA.

Bukan itu saja, di kabupaten itu juga bisa memberikan pengobatan gratis untuk berobat di seluruh puskesmas dan memberi santunan Rp1 juta untuk setiap rakyatnya yang meninggal. “Pertanyaannya, kenapa di kabupaten lain dengan PAD Rp18 miliar bisa, sedangkan di tempat kita tidak bisa?” katanya.

“Pemikiran pendidikan gratis bukanlah ide utopis, tetapi sudah dilaksanakan di kabupaten/kota lain yang bupati atau gubernurnya punya keberanian dengan kalkulasi yang matang dan cerdas,” tambahnya lagi. (**)

Labels:

Setelah Uranium Dieksplorasi, Kalbar Kecolongan Minyak Bumi Sintang?

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Thursday, January 10, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

SELAIN kecolongan eksplorasi uranium Nanga Pinoh/ Nanga Ella & Nanga Kalan oleh Commessariats L'Energi Le Anatomique (Badan Tenaga Atom Perancis), dalam waktu bersamaan, sekitar tahun 70-an, Kalbar juga kecolongan kegiatan eksplorasi minyak bumi yang dilaksanakan oleh sebuah perusahaan luar negeri. Kegiatan eksplorasi minyak bumi tersebut dilakukan di Sintang, khususnya di daerah Kecamatan Merakai.

Laporan Efprizan Rzeznik Pontianak

Demikian diungkapkan Mantan Chief Le Sondage (Kepala Bidang Pengeboran) explorasi uranium Nanga Pinoh/ Nanga Ella & Nanga Kalan di Commessariats L'Energi Le Anatomique (Badan Tenaga Atom Perancis), Sunardjo M BSc, kepada Pontianak Post, kemarin. "Saya berkesimpulan bahwa Kalbar bukannya kerugian materi, tetapi dokumen aset daerah yang kita kecolongan," tegasnya. "Eksplorasi minyak bumi yang dilaksanakan sebuah perusahaan asing, yang juga perkembangan maupun data yang dihasilkannya kita juga tidak tahu, disini juga kita kecolongan," tambah ia.

Ia mengaku mengetahui banyak mengenai kegiatan eksplorasi uranium tersebut. Keberadaan CEA (Commessariats L'Energi Le Anatomique) menggandeng BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) di Kalimantan Barat, kata ia, telah dimulai pada dekade tahun 60-an.

Kegiatannya merambah hingga Kapuas Hulu, Landak dan Sanggau. "Itu terdeteksi mereka berdasarkan informasi satelit dan hasil survey. Sekitar tahun 70-an mereka memasuki wilayah Ng Pinoh. Pada waktu itu masih masuk kabupaten Sintang dan ternyata di tempat ini baru ditemukan," jelasnya.

Titik-titik anomali (istilah temuan yang diakibatkan oleh pancaran partikel sinar alpha, betha dan gama) pada jenis batuan-batuan maupun lumpur-lumpur di sekitar Ng. Kalan yang persisnya di Daerah Rirang, proses ini berkembang sampai mereka menentukan titik sentral operasional, dengan Jeronang sebagai base camp mereka.

Ia melanjutkan, dari sinilah CEA-BATAN melakukan kegiatan secara maksimal. Seperti dimulainya pengeboran, survey mikro, pemetaan secara akurat dan sebagainya. Sunardjo berkesimpulan bahwa CEA-BATAN telah bekerja sama pada dekade tahun 60-an. Dan pada waktu itu, BATAN masih dipimpin Prof Dr Baikuni.

"Karena dulu belum otonomi daerah, sedangkan yang dilakukan tersebut barang tambang yang mempunyai nilai strategis dan tinggi nilainya, sehingga kegiatan tersebut (juga) berada di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom PBB (IAEA). Maka bisa saja untuk hal ini ada ketentuan-ketentuan khusus dari pemerintah pusat untuk CEA - BATAN dalam misi kerja mereka guna melacak keberadaan uranium di bumi Kalbar," ungkap Sunardjo.

Adanya isu mengenai banyaknya material hasil eksplorasi di bawa keluar, ia tidak memungkirinya. Soalnya, material yang dibawa keluar pada waktu itu berupa batuan contoh, yang mungkin akan diselidiki di Labotorium BATAN di Jakarta guna menghitung besarnya jumlah kandungan uranium dalam per Kg atau per ton batu.

"Tetapi untuk memproduksi uranium murni, saya rasa mungkin belum bisa. Karena kita masih belum punya reaktor nuklir yang dapat memisahkan isotop-isotop dari molekul uranium yang diperlukan. Selain itu juga harus mendapatkan rekomendasi khusus Badan Tenaga Atom Internasional yang berada di bawah Badan Keamanan PBB yaitu IAEA," jelasnya.

Sambungnya lagi, jenis bebatuan yang dibawa ke Jakarta pada waktu itu adalah batuan sample hasil pengeboran (Sondeur), batuan hasil pacahan batu bolder (batu gelinding) yang ditemukan dalam perjalanan survey geologi, serta batuan hasil explosive. "Kalau data yang diambil dari sample lumpur, pada waktu itu, sudah bisa diperiksa di Laboratorium Geochimie yang berada di Nanga Pinoh. Jadi untuk laporan sudah berbentuk catatan dokumen," jelasnya.

Soal dampak lingkungan akibat eksplorasi, menurut pria yang kini aktif di dalam kepengurusan LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) dan Forum RI-1 untuk Kalimantan Barat ini, mengatakan bahwa CEA-BATAN tidak bekerja secara mengaduk-ngaduk ekosistem di wilayah operasional mereka, karena titik fokus kegiatannya ialah pada titik-titik di mana lokasi yang terdeteksi banyak mengandung uranium.

Lanjutnya lagi, tahapan itu harus dilalui oleh pengeboran dahulu, dan apabila ternyata kandungannya cukup memadai, baru dilakukan pengkajian apakah perlu diadakan pengambilan sample bongkahan batu atau tidak. Dan itu pun, lanjutnya, harus dilihat apakah di sekitar lobang bor tersebut ada lagi titik-titik hasil pengeboran lain yang menghasilkan lapisan kandungan uranium yang memadai. Sebab jika tidak ada, kemungkinan data hasil pengeboran yang pertama tadi tidak ditindaklanjuti untuk mengambil sample bongkahan batunya, karena biaya untuk melakukan peledakan cukup mahal. "Oleh karena itu, sample diambil cukup hanya carrote"s nya saja (sample hasil pengeboran, Red)," jelasnya.

Sekarang ini, katanya, pihak BATAN sedang mengakses kembali data-data lapangan yang kurang lengkap, sebab hal ini bisa terjadi akibat kecolongan data yang mungkin pada waktu itu banyak digelapkan oleh pihak Prancis (CEA). Lanjutnya lagi, dan mungkin oleh pihak Prancis sudah menjadi perhitungannya bahwa Indonesia tidak akan mungkin menindaklanjuti pekerjaan tersebut.

Selain biaya operasional yang sangat besar, kurang lebih dua hingga tiga miliar pertahun pada waktu itu, menurut informasi yang didapatkannya dari Kepala Perwakilan CEA waktu itu di Pontianak, sepeninggal CEA dengan seluruh peralatan eksplorasi yang diserahkan kepada BATAN, besar kemungkinan alat-alat itu tidak berfungsi lagi.

"Sangat disayangkan bahwa SDM dan financial negara kita untuk hal tersebut belum memadai. Karena itu saya berkesimpulan bahwa Kalbar bukan kerugian materi, tetapi kita kecolongan dokumen aset daerah. Kesimpulam saya secara menyeluruh, Kalbar kaya akan hasil tambang potensial, tetapi untuk menikmati hasilnya masih jauh dari perhitungan yang rill," ujar Sunardjo.

Perayaan Duan Wu Jie/Festival Bak Cang: Air Tengah Hari Penyembuh Penyakit

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Wednesday, January 9, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Teks Foto: Bocah cilik Tionghoa tergiur dengan Bak cang (bearing foto)

Masyarakat Tionghoa Kota Pontianak merayakan Duan Wu Jie atau yang dikenal dengan sebutan Peh Cun, 19 Juni 2007. Menyambut hari itu, tepat pukul 12.00 siang, ribuan masyarakat Tionghoa menyerbu Sungai Kapuas. Ada yang mandi, tak sedikit pula yang sekadar membawa pulang airnya ke rumah. Mereka yakin, atas izin Tuhan, dengan melangsungkan tradisi tersebut maka berbagai penyakit bisa disembuhkan.

Kegiatan mandi di sungai atau terkenal dengan istilah Wu Shi Shui (air tengah hari), merupakan salah satu tradisi dari perayaan Duan Wu Jie atau dikenal dengan sebutan Peh Cun di kalangan Tionghoa Indonesia.

Literatur yang dihimpun Pontianak Post dari berbagai sumber menyebutkan bahwa air tengah hari merupakan salah satu tradisi dalam perayaan Duan Wu yang berasal dari masyarakat Fujian (Hokkian, Hok-chiu, Hakka), Guangdong (Teo-chiu, Keng-chiu, Hakka) dan Taiwan.

Mereka meyakini, dengan cara mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Duan Wu dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Air tersebut bisa dimandikan ataupun diminum setelah dimasak.

Beberapa masyarakat Tionghoa Kota Pontianak yang melangsungkan kegiatan tersebut di Sungai Kapuas, meyakini khasiat dari kegiatan Wu Shi Shui ini.

"Ini untuk memandikan anak saya di rumah yang kena gatal-gatal," kata Akuang, ditemui Pontianak Post di Taman Alun Kapuas usai mengambil satu jeriken air sungai. "Tradisi saja. Katanya sih bisa menyembuhkan penyakit kalau mandi air tengah hari saat perayaan Peh Cun," kata Meilan, ibu rumah tangga yang saat itu juga memboyong kedua anaknya untuk ikut kegiatan serupa.

Pantauan koran ini di lapangan, konsentrasi masyarakat Tionghoa yang melangsungkan tradisi Wu Shi Shui ini terpusat di pinggiran Sungai Kapuas di daerah Siantan.

Sedangkan di pinggiran Sungai Kapuas wilayah Kota Pontianak, tepatnya di pinggiran Taman Alun Kapuas, konsentrasi massa yang melangsungkan kegiatan ini tidaklah terlalu padat.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Satuan Polisi Air Polda Kalbar menempatkan personilnya dan mengadakan patroli selama perayaan ini berlangsung.8

Muda-mudi Tionghoa terlihat sangat antusias melaksanakan tradisi ini. Mereka banyak yang menyewa sampan agar dapat mandi sedikit ke tengah sungai. Beberapa diantaranya juga terlihat asyik melangsungkan perang-perangan air dengan teman-temannya di atas perahu itu. Senjata yang digunakan berupa kantong plastik yang telah diisi air.

Beberapa diantaranya ada juga yang menghanyutkan kue bakcang di sungai. Soal membawa kue bakcang oleh masyarakat ke sungai, merupakan simbol agar jasad Chiu Yuan (seorang pujangga terhormat yang mengakhiri penghidupannya dengan cara sangat memilukan, yakni terjun ke sungai Miluo) tidak dimakan ikan atau binatang, hingga jasadnya ditemukan masyarakat tetap utuh.

Pada festival ini, mayoritas masyarakat Tionghoa Pontianak juga melaksanakan tradisi makan besar bersama seluruh keluarga di rumah. Makanan simbolik pada tradisi ini adalah bakcang, panganan yang terbuat dari ketan atau beras berbentuk limas segitiga dibungkus daun bambu.

Makan Bakcang, (Rou Zong dalam bahasa Mandarin), dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Duan Wu sejak Dinasti Jin. Di Taiwan, di zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari Fu Jian adalah bentuk bakcang yang bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga seperti yang dibuat sekarang.

Isi bak cang juga bermacam-macam, ada yang terbuat dari sayuran, ada pula yang berisi daging sapi atau babi. Rasanya pun ada yang dibuat manis dan tawar. Untuk bakcang tawar, biasanya dimakan sesuai selera masing-masing. Ada yang dicelupkan ke kecap manis, susu kental manis, ada pula yang dioles serikaya.

Menurut salah satu tokoh Tionghoa Pontianak, Ateng Tanjaya, dalam festival Peh Cun ada salah satu kegiatan yang juga biasa dilaksanakan, yakni festival perahu naga. Sayangnya, di Kota Pontianak, festival ini tidak diselenggarakan.

Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak zaman Negara Berperang (475 SM ~ 221 SM). Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya di beberapa negara. Bahkan ada perlombaan berskala internasional.

"Kita sebenarnya di Pontianak sangat ingin sekali mengadakan perlombaan perahu naga ini. Karena ketiadaaan pendanaan, lomba perahu naga ini belum bisa dilaksanakan," kata Ateng.

Labels:

Tradisi Cap Go Meh di Pontianak: Tanglong Dipasang di Malam ke-15 Imlek

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


TRADISI menyemarakkan Ramadhan, khususnya malam 21 (likuran) sampai malam takbiran, biasanya ditandai dengan munculnya berbagai macam keriang bandong, tanglong, juga pelita di seputar halaman rumah. Tradisi serupa juga dilakukan masyarakat Tionghoa pada malam ke-15 Imlek atau disebut Cap Go Meh.

Tradisi memasang keriang bandong dan tanglong ternyata tidak hanya menjadi tradisi masyarakat Melayu Muslim saja. Pun pula dilakukan masyarakat Tionghoa. Bentuknya tak jauh berbeda. Hanya saja masyarakat Tionghoa menyebutnya dengan nama lampion.

Di Kota Pontianak, sejak beberapa hari lalu mulai marak dengan penjualan lampion. Warna-warni dan beragam bentuknya. Ada yang berbentuk kura-kura, kupu-kupu, ikan, pesawat, dan sebagainya. Terbuat dari kertas minyak yang konstruksinya terbuat dari bambu.

Jika malam tiba, lampion akan bersinar. Ada nyala lilin di dalam lampion itu. Sinar lilin di keremangan malam itu seolah-olah menghidupkan ikan, kapal-kapalan, dan kupu-kupu itu.

Akun (53), mengaku sudah puluhan tahun berjualan lampion. Ia hanya menjualnya saat Imlek menjelang. Saat-saat memasuki Cap Go Meh ini, ia mengaku lampion yang dijualnya laku keras. "Sehari bisa 50 buah yang laku," kata pria yang menjajakan dagangannya di samping Gang Pati, Jalan Patimura Pontianak.

Satu lampion dijualnya seharga Rp10 ribu. Pekerjaan yang dilakoninya ini didapatkannya secara turun temurun. Adiknya, Akoy (35), juga berprofesi serupa. Ia membuat banyak lampion di rumahnya di Jalan Rajawali. Di hari-hari biasa, keduanya membuat perlengkapan sembahyang bagi umat Khonghucu. Keduanya juga ahli dalam membuat naga. Saat Imlek, order membuat naga juga menghampirinya

Berkah turun bagi keluarganya setiap Imlek. Bayangkan saja, dalam sehari, Akun bisa meraup keuntungan hingga Rp400 ribu dari usahanya berjualan lampion ini. "Kalau lampion yang dijual di toko-toko berbentuk bulat itu harganya agak mahal. Bentuknya juga tidak variasi. Kalau yang saya jual ini bentuknya macam-macam dan harganya murah. Anak-anak suka. Kalau orang Melayu biasa nyebutnya tanglong atau keriang bandong," katanya.

Apa makna pemasangan lampion pada Cap Go Meh? "Mudah rezeki dan selalu diberkahi. Lampion juga membuat hati gembira. Terutama bagi anak-anak," kata Akun.

Hal yang sama juga dikatakan pemerhati budaya Tionghoa yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pembinaan Agama Khonghucu dan Kelenteng Kalimantan Barat (LPAKK-KB) Suryanto BSc SH.

Kata dia, pemasangan lampion pada Cap Go Meh telah menjadi tradisi. Selain lampion, masyarakat Tionghoa pada malam itu juga biasanya memasang obor atau pelita di halaman rumahnya. "Itu simbol penerangan. Yang bermakna sebagai penerang kehidupan. Bermakna juga agar selalu diberikan limpahan rezeki dan kesejahteraan oleh Tuhan," ujarnya.

Dia mengaku, ada akulturasi kebudayaan dalam hal pemasangan lampion bagi warga Tionghoa setiap Cap Go Meh atau keriang bandong yang juga dipasang umat muslim Melayu di setiap Likuran. (Eprizan 'zan' Rzeznik)

Labels:

Keriang Bandong: Menyambut Malam Lailatul Qadar dengan Cahaya Terang Benderang

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


SELALU ada keceriaan dan kekhasan di bulan Ramadhan. Kekhasan yang hanya ada di bulan penuh berkah. Salah satu kekhasan yang telah mentradisi di masyarakat Melayu itu yakni keriang bandong. Sebuah hiasan lampu minyak tanah yang akan menerangi langit Khatulistiwa di malam likuran.

Cahayanya redup. Akan tetapi bila dipasang dengan jumlah banyak di jalan setapak di perkarangan rumah, sinar itu mampu menerangi kawasan sekitarya. Ada rasa tertentu bila memandangnya. Remah redup sesuai dengan nuansa Ramadhan.

Terangnya keriang bandong saat Ramadhan, kini sudah tidak banyak lagi dilihat di setiap gang-gang pemukiman. Pamor keriang bandong terkalahkan dengan adanya listrik.

Hal itu dibenarkan Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak H Syafruddin IB. Ia menceritakan, tradisi keriang bandong di bawah tahun 1960 salah satunya muncul akibat terbatasnya penerangan di malam hari apalagi di pelosok-pelosok desa.

Keriang bandong menerangi langkah-langkah penduduk yang dulunya masih kental bersilaturahmi atau kunjung mengunjungi antarrumah penduduk di malam hari.

Syafruddin menjelaskan, bahan keriang bandong mulanya berasal dari damar dan getah kayu. Ada juga yang dibuat dari tempurung kelapa dengan menggunakan bahan bakar minyak kelapa, kemudian meningkat menjadi pelita. “Awal 60-an keriang bandong banyak dipasang oleh masyarakat di daerah Wajok dan Jungkat,” katanya.

Ia tidak tahu pasti asal dari nama keriang bandong. Syafruddin menerka, “Keriang kan nama binatang yang mengeluarkan bunyi khas di malam hari. Keriang suka dengan cahaya dan datang berbondong-bondong. Mungkin dari situlah namanya diambil, jadi keriang bandong.”

Malam Lailatul Qadar

Keriang bandong, kata dia, biasanya dipasang masyarakat di perkarangan rumahnya pada malam lailatul qadar/likuran (malam 21 Ramadhan) hingga Lebaran.

“Di malam Lailatul Qadar ada keyakinan dari masyarakat kita bahwa di malam itu malaikat turun ke bumi dan mendatangi rumah penduduk untuk memberikan berkah. Diyakini, agar malaikat mampir, kediaman kita haruslah bersih dan terang benderang,” katanya.

Dia berharap, keriang bandong yang terbuat dari bahan sederhana seperti dari bambu dan sumbu yang kemudian diisi minyak tanah akan terus menambah khasanah dan keistimewaan tersendiri bagi warga Melayu Kalimantan Barat. “Mudah-mudahan terus lestari dan dapat dilihat kembali setiap tahunnya selama Ramadhan,” ujarnya

Evolusi Tanglong

Keriang bandong pun terus berevolusi. Akulturasi kebudayaan tercipta. Tanglong kemudian hadir di tengah masyarakat Kalbar yang majemuk. Tanglong berbentuk aneka rupa. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari bentuk tradisional seperti segi enam, ikan, pesawat, dan lainnya. Fungsinya sama seperti keriang bandong yakni sebagai penerangan. Tanglong memendarkan pijar api minyak tanah aneka warna.

Ketua MABM Kota Pontianak Syafruddin memperkirakan, tanglong bukan produk asli budaya Melayu. “Dari namanya saja sudah ketahuan kalau ini akulturasi dari masyarakat Tionghoa,” katanya.

Tanglong juga dipakai sebagai aksesori beranda dan halaman rumah. Sama dengan keriang bandong, tanglong oleh masyarakat dewasa ini juga banyak dipasang saat malam likuran.

Tanglong dibuat dari kertas minyak berwarna dan memakai rangka dari bambu. Tahun 80-an hingga awal 90-an, tanglong menjadi mainan favorit anak-anak kampung di malam bulan puasa, khususnya malam 21 (likuran) sampai malam takbiran.

Oleh anak-anak, keriang bandong diarak, lalu diadu. Sembari berdendang lagu khusus “Hee...Mantoyo, Mane Musoh, agogo.” Tanglong yang kuat, dan tidak mengalami kerusakan parah-lah yang menjadi pemenangnya. Tradisi ini kian meredup seiring perubahan zaman

Anak-anak sudah tidak lagi mengarak keriang bandong sembari berdendang lagu khusus tersebut. Keriang bandong kini lebih banyak dipajang dan sekadar menjadi hiasan yang disimpan di halaman rumah atau teras saat malam likuran.

Pudarnya keriangan mengarak keriang bandong juga diakui oleh Sugeng Pramono, pembuat tanglong. “Sudah jarang melihat anak-anak sekarang mengarak tanglong,katanya ditemui belum lama ini di kediamannya.

Tanglong Casey Stooner

Sugeng sudah enam tahun berkutat menekuni pekerjaan membuat tanglong ini. Tiga bulan menjelang puasa, kegiatan membuat tanglong mengisi kesehariannya. Dibantu abangnya, dalam tempo tersebut Sugeng bisa menghasilkan 160 keriang bandong dengan berbagai desain.

Bentuk tanglong tradisional seperti ikan, kubus persegi enam, bunga, dikreasi apik olehnya. Desain-desain baru pun disiapkannya seperti bunga, motor, becak hingga mobil VW kodok menjadi tanglong modern.

Tak luput motor balap Valentino Rossi hingga tunggangan pembalap kawakan yang kini menjadi juara dunia GP dari Ducati Marlboro Team, Casey Stoner, dirakit olehnya sehingga menjelma menjadi tanglong. Penerang keriang bandong motor balap buatannya ini juga bisa diganti dengan lampu.

Harga tanglong yang dijual lulusan Sekolah Menengah Teknologi Industri ini bervariasi, mulai Rp15 ribu hingga Rp300-an ribu. Setiap sore, ia beserta temannya memasarkan tanglongnya tersebut di depan PCC.

Labels:

Ketika Emo Terjerat Cinta

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Tuesday, January 8, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


Music Review
Artist: The Used
Album: Lies for the Liars

Album ke-4 yang semakin dewasa..

Teriakan Bert Mc Cracken di setiap lagunya semakin terasah, walaupun sudah mengurangi kadar-kadar scream yang tak diperlukan..

Secara keseluruhan, mendengarkan album ini seakan berada di tengah keluarga psiko yang mempunyai kepala aneh dan menghuni pohon oak raksasa..

Beberapa tembang juga cocok didengar oleh rockstar yang terjerat cinta..
tembang 'Earthquake' hingga 'Findaway' pun cukup membuat hati merah marun meradang. Suatu bukti kalau rockstar juga manusia..
---
I Love You to Death
Could You Love Me yo Death
One More to Say I Love You Always
And Keeping Faith Letting Love Find a Way

Labels:

The experimental virtuoso with KFC-bucket

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


















Review Music

Artist: Buckethead & friends

Album: Enter the Chicken

Excellent album!.
The experimental virtuoso with KFC-bucket- ini mempersembahkan 11 lagunya yang tak masuk akal.
Serj Tankian (System Of A Down) ikut memproduseri album ini.
Eminently genius. Album yang wajib dimiliki bagi Penikmat musik atau gitaris yang mempunyai kepribadian ganda.
Sensasi musiknya mengajak Anda untuk memasuki dunia entah berantah yang penduduknya dihuni oleh robot-robot raksasa dan monster-monster aneh !

Labels:

Hell yeah..4 the Gothic Anthem

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Review Music

Artist: KOIL

Album: Blacklight Shines On
Biasanya dengar lagu band bandung ini hanya sambil lalu, entah kenapa...di album anyar yg dipasarkan secara gratis ini, ada semacam setan yang merasuki dan membimbing pendengarnya untuk menikmati neraka jahanam.
bagai candu..anthemnya terus diputar-diputar-diputar... senandung Otong Memang terlalu biasa..Tapi kebiasannnya ini membuatnya bagai peniup terompet sangsakala yang menghadirkan suara mistis.. Semoga Kau Sembuh Part.2 menjadi lagu yang pas untuk bersemedi dan berharap bertemu kuntilanak di alam bawah sadar.. Bolehlah..NIN-nya Indonesia menurutku.. Hell yeah..4 the Gothic Anthem...

Labels:

Bertamasya ke Bulan Bersama Angels and Airwaves

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit



Artist : Angels and Airwaves

Album : I-Empire
Bertamasya ke bulan..
Cosmic Rock Anthem yang luar biasa

Ya, Di album keduanya ini Tom DeLonge, Atom Willard, dan David Kennedy mengajak kita untuk (kembali) bedarmawisata ke kerajannya di planet lain yang jauh dari bumi..

Mulai dari 'Call To Arms', spaceship berkecepatan tinggi mulai mengorbit..

Dalam 'Everything's Magic' spaceship mulai berpapasan dengan alien alien dengan bentuk aneh. Mereka menyapa. Sembari di dalam kabin pesawat diputar film starwars..

Oksigen yang sangat menipis di 'Breathe', dan singgah di langit kelima untuk menyaksikan 'Star Of Bethlehem'

Perjalanan mengarungi luar angkasa tak terbatas sampai di tembang terakhir 'heaven'. Ya tembang terakhir ini menandakan akhir perjalanan kita ke surganya A&A. Dipenuhi bidadari tak berbusana, tanpa kemunafikan dan kedamaian sehingga tidak ada niat kembali lagi ke bumi..

12 tembang yang memanjakan telinga saya. tak sabar menanti album selanjutnya yang menuntun untuk berkelana hingga langit ketujuh..

Track List:

Labels:

Bandar Udara Supadio; Antara Pemindahan dan Pengembangan

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Monday, January 7, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


Wacana baru tapi lama, kembali dihembuskan Gubernur Kalbar Usman Ja’far; Bandar Udara (Bandara) Supadio pindah ke wilayah yang lebih representatif dan dekat pantai, yakni di Sungai Purun. Wacana tersebut kemudian menuai pro dan kontra.

Efprizan Rzeznik, Pontianak

Usman mengemukakan sejumlah alasan mengapa Bandara tersebut perlu dipindahkan ke tempat yang lebih baik. “Dipindahkannya lapangan terbang ke Purun dengan harapan dekat pantai dan tanah yang lebih tinggi, seperti di Hongkong,” ujar Usman seusai peresmian Garuda Indonesia di Bandara Supadio belum lama ini.

Selama ini saat musim kemarau datang, Bandara Supadio selalu tertutup kabut asap sehingga tak jarang mengganggu penerbangan. Asap ini bisa disebabkan oleh pembukaan lahan dengan cara membakar, yang dilakukan masyarakat di sekitar Bandara.

Usman menilai, dekatnya lapangan terbang dengan pantai akan membuat bandara terbebas dari asap saat musim kemarau. “Angin pantai selalu bertiup sehingga asap dapat segera menghilang. Lapangan udara di dekat pantai mempunyai tingkat keamanan yang lebih baik,” kata Usman.

Gubernur Kalbar mengungkapkan, pemerintah telah mengajukan studi untuk membangun bandara ke tempat yang lebih aman, panjang, dan canggih. Rencananya, lapangan terbang akan dipindahkan sejauh 40 kilometer dari Bandara Supadio Pontianak sekarang ini yakni di kawasan Purun Kabupaten Pontianak.

Kurang aman

Memperkuat alibi Usman, sumber Pontianak Post yang cukup lama bekerja di bagian penerbangan Dinas Perhubungan Kalbar dan namanya enggan dikorankan mengatakan, bahwa Bandara Supadio kurang aman untuk Boeing 737-400, terutama saat take off.

Menurutnya, kondisi tanah di Bandara Supadio juga tidak memungkinkan untuk maximum take off weight. Karena sebagian besar lingkungan bandara terdiri dari tanah gambut. Untuk standar minimal pendaratan Boeing 737-400 sudah terpenuhi.

Hanya saja yang menjadi masalah adalah kekuatan landasan. Landasan Supadio merupakan landasan lama, yang dulunya tidak didesain untuk pesawat baru berbadan lebar, seperti Boeing 737-400.

Dukung Perekonomian Kalbar

Wacana pemidahan juga direspon positif oleh beberapa kalangan Parlemen Kalbar. Wakil Ketua Komisi C DPRD Provinsi Kalbar, Tobias Ranggie misalnya, mengatakan bahwa pemindahan bandara ke Purun diperlukan untuk menjawab perubahan kemajuan perekonomian Kalbar beberapa tahun mendatang

“Bandara yang ada sekarang ini cukup sempit dan tidak memungkinkan lagi untuk pengembangannya mengingat ada sengketa tanah dan protes masyarakat,” katanya, sembari menambahkan bahwa studi kelayakan pembangunan bandara baru ini sudah dilakukan pemerintah sejak 2006 lalu.

Menurutnya, bandara baru tersebut nantinya akan menunjang perkembangan perekonomian dan kemajuan Kalbar yang dia prediksi akan terjadi beberapa tahun kedepan.

“Orang akan banyak datang ke Kalbar dan daerah ini akan menjadi jalur yang cukup padat. Dan tentunya akses penerbangan ke luar negeri akan terus bertambah seiring berkembangnya daerah kita nanti kedepannya. Untuk mengantisipasi itulah kita memerlukan bandara baru yang persiapannya memakan waktu panjang,” katanya.

Dukungan juga datang dari Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Barat, Adang Gunawan. Menurutnya, Bandara Supadio sulit dikembangkan karena kawasan sekitar sudah padat dengan daerah pemukiman.

“Saya sangat setuju dengan ide pemidahan bandara ke Sungai Purun jika memang daerah itu setelah dilakukan uji kelayakan memang memungkinkan untuk dibangun lapangan terbang. Selain aspek keselamatan, dengan dibukanya kawasan tersebut akan memacu perekonomian dan multiplier effect bagi masyarakat sekitar pengembangan kawasan bandara baru,” katanya.

Adang menyarankan agar pemerintah intensif mengkaji rencana ini akan beberapa tahun ke depan, wacana ini sudah bisa teralisasi. “Pembangunan bandara ini guna menjawab perkembangan perekonomian Kalbar beberapa tahun yang akan datang,” ujarnya.

Salah seorang pelaku bisnis, Tan Tjun Hwa juga mendukung wacana tersebut. Untuk itu, kata dia, pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur pendukung seperti jalan ke lokasi bandara baru.

“Jangan sampai bandara jadi, tapi infrastrukturnya tidak mendukung, jadi seakan-akan berjalan di hutan. Ini yang perlu dipersiapkan dulu oleh pemerintah,” katanya.

Sementara Ketua Lembaga Studi Pengembangan dan Pemberdayaan Wilayah Kalbar, Muda Mahendrawan, memandang wacana tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Namun tentu realisasinya harus mengikuti prosedur serta mekanisme yang berlaku, seperti memertimbangkan aspek studi kelayakan. Dia yakin, Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemerintah Kabupaten Pontianak memandang wacana tersebut sebagai upaya yang cukup baik, untuk membawa dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan pemindahan tersebut. “Ini juga salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ucapnya.

Proyekisasi?

Banyak menuai dukungan, wacana ini juga tak sedikit yang mengkritiknya. Menurut Pemerhati Penerbangan yang juga Ketua Indonesian Air Traffic Controller Association (IATCA) Kalbar, Usmulyani Alqadri, wacanapemindahan Bandar Udara Supadio ke Purun merupakan suatu ide yang tak realistis. Saat ini yang diperlukan adalah membangun bandara yang sudah ada tanpa harus membuat bandara baru yang bernilai triliunan rupiah dan cendrung proyekisasi.

Menurutnya, pembangunan bandara baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Begitu juga dengan pendanaannya yang akan menghabiskan biaya besar. Karena itu, sambungnya, pemerintah tidak perlu berpikir jauh hingga berencana memindahkan bandara.

“Memindahkannya bukan sekadar membangun bandaranya saja, tapi sistem secara keseluruhan, termasuk sarana navigasi, infrastruktur penunjang, dan lainnya. Pemindahan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit,” kata Usmulyani.

Sebelumnya, dia pernah mengusulkan kepada Pemprov Kalbar untuk membicarakan lebih lanjut mengenai pengembangan bandara Supadio ke depan. Bahkan, oleh pihaknya, telah melakukan pembicaraan dengan pemerintah Jepang dan Belgia untuk peningkatan itu. Sayangnya, Pemprov Kalbar belum memberikan reaksi atas usulannya tersebut.

Menurutnya, Jepang dan Belgia berkeinginan untuk berinvestasi dalam pengembangan Bandara Supadio. Kedua negara tersebut berkeinginan untuk melanjutkan pembicaraan di tingkat government to government (g to g).

“Supadio akan dikembangkan dengan sistem kargo, dimana pesawat jenis Boing 7E7 yang mampu terbang nonstop 7-8 jam ke Jepang bisa mendarat di sini. Cypaquzu Island Jepang menyatakan ketertarikannya untuk berivestasi. Sayangnya, dari pihak kita tidak ada upaya untuk menindaklanjuti hal ini ke pemerintah pusat,” katanya.

Usmulyani yang juga Supervisor Keselamatan Penerbangan Bandara Supadio ini menambahkan, Supadio juga masih memiliki lahan yang luas untuk dikembangkan. Pembangunan landasan sepanjang 3 km masih memungkinkan untuk dikerjakan.

Menurutnya, akan lebih baik bila pemerintah menyiapkan Peraturan Daerah tentang tata ruang pembangunan di sekitar wilayah bandara Supadio. Hal itu bertujuan untuk mengantisipasi pengembangan bandara dari pendirian gedung-gedung bertingkat.

“Perda itu perlu direalisasikan untuk memblok kawasan sekitar bandara suapaya tak dibangun gedung bertingkat karena akan membahayakan keselamatan penerbangan,” katanya.

Airport City

Sebenarnya rencana Pengembangan Bandar Udara Supadio Pontianak, sejak tahun 2001 selalu mengalami perubahan. Perbedaan kepentingan, terkadang membuat perbedaan kebijakan. Salah satu pihak swasta di Jepang sebelumnya pernah melirik untuk mengembangkan bandara tersebut menjadi Airport City.

Di ruang kerja Gubernur Kalbar, pihak swasta tersebut memberikan paparan mengenai pengembangan fasilitas yang akan dilakukan di Bandara Supadio, jika pemerintah daerah menyetujui.

“Di kawasan tersebut akan dibangun, supermaket, kafe, klinik kesehatan, restoran, serta beberapa fasilitas ditingkatkan lagi,” kata Gubernur Kalbar, Usman Ja’far, ditemui wartawan usai pertemuan dengan pihak Jepang, tahun lalu. Namun, dengan statement terbaru gubernur, mencetuskan Supadio sebagai Airport City, belum bisa terealisir dalam waktu dekat.

Medio Juli 2001, Direktorat Penerbangan Udara Depertemen Perhubungan Republik Indonesia, pada acara work shop bertemakan "Pontianak Airpot Development Project" memberikan paparan di depan Pemerintah Provinsi Kalbar.

Direktorat Penerbangan Udara Dephub RI memandang Pontianak, sebagai kota besar yang ramai di pulau Kalimantan, sehingga memungkinkan untuk dibangun bandara yang bertaraf internasional.

Akankah 10 atau 15 tahun mendatang Kalbar punya bandara baru, atau Supadio akan tetap di lokasinya semula dan menjadi airport berkelas internasional?

Yang pasti saat ini masyarakat berharap banyak akan pelayanan jasa kebandarudaraan yang berkualitas dengan mengutamakan faktor keselamatan, keamanan, kecepatan, keteraturan, dan kenyamanan dari bandara yang sudah ada. (**)

*Sambut Tren Mode Etnik 2008

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Sunday, January 6, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Teks Foto: Gadis Pontianak dengan busana corak insang (Bearing foto)


Corak Insang dan Kearifan Melayu Pontianak: Menenun Sejarah Merenda Zaman

BANYAK perancang busana yang bilang, tren mode di tahun 2008 nanti akan memasuki nuansa busana etnik. Ya, 2008 berbalut etnik. Sentuhan itu telah ditunjukkan oleh sejumlah perancang yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk menggelar busana tahunan Fashion Tendance 2008 bertema Weaving the Future beberapa waktu lalu.

Berbicara busana etnik, untuk di Kota Khatulistiwa, tentulah akan tertuju dengan motif kain corak insang. Ya, kearifan Melayu Pontianak akan bisa dilihat dari indahnya motif tersebut.

Desainer Raizal Rais, misalnya. Pria yang memulai karirnya sejak tahun 1985 ini dan ditugaskan oleh Departemen Perindustrian untuk mengeksplorasi seni tenun khas Kalimantan Barat ini mengakui keeksotisan motif corak insang.

Dari kekagumannya itu, Raizal mempromosikan tenun Kalbar pada Pesta Tenun Nasional yang dihelat pada pada pertengahan Desember lalu di Jakarta. Termasuklah motif corak insang, yang dipadupadankannya dengan beragam motif lainnya seperti tenun motif Putussibau serta tenun Ketapang yang berpadu dengan koleksi songket Pandai Sikek Sumbar.

Tren busana corak insang saat ini tidak hanya dipakai pada acara resmi saja, seragam PNS Pemkot Pontianak, maupun baju anak sekolahan di kota ini. Tren berbusana etnik, khususnya corak insang juga sudah akrab dipakai anak muda lewat padu padannya yang serasi.

Motif corak insang tak hanya melekat pada pakaian saja. Tas, dompet, sendal, sepatu, dan aksesoris lainnya, juga banyak yang menggunakan motif corak insang. Aksesoris motif ini laku di tokoh cinderamata dan diminati para wisatawan lokal dan internasional yang berkunjung ke kota ini.

Sejarah Corak Insang

Bagaimana sejarah perkembangan tenunan Melayu Pontianak ini berjalan? Syafaruddin Usman MHD, Peminat Kajian Kontemporer Sejarah dan Budaya Kalbar, mencatatnya lengkap dan bukunya akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Kepada Pontianak Post, Syafaruddin menjelaskan bahwa perkembangan tenunan Melayu Pontianak berjalan seiring dengan kebesaran dan kejayaan Kesultanan Kadriyah atau kejayaan kerajaan Melayu Pontianak pada masa lampau.

Masa Kerajaan Pontianak atau Kesultanan Kadriyah Pontianak bermula dari tahun 1771 hingga tahun 1950. pada masa-masa kebesaran dan kejayaan kerajaan Melayu tersebut kegiatan bertenun dalam masyarakat Melayu Pontianak berlangsung dengan semarak. “Konon motif tertua ini sudah dikenal sejak masa pemerintahan sultan pertama Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadri, 1771-1808,” katanya.

Menurut Syafaruddin, dikenalnya kain tenun corak insang dari masyarakat Melayu Pontianak, tak terlepas dari rangkaian sejarah Kesultanan Kadriyah Pontianak itu sendiri.

Jenis tenun ini pada umumnya tidak menggunakan bahan baku benang emas. Model Corak Insang sebenarnya memiliki kemiripan dengan tenun Cual dari Sambas, di mana perbedaannya terletak pada motif-motifnya saja (Mirza, 1998: 2).

Ia menjelaskan, kain tenun, termasuk tenun Corak Insang, mula-mula digunakan oleh kerabat kesultanan. Lambat laun digunakan kalangan bangsawan dan kerabat kerajaan yang memiliki kemampuan lebih.

Namun dalam perkembangan berikutnya, kain corak insang khususnya, dipergunakan pula oleh kalangan masyarakat Melayu umumnya. Sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Pontianak, khususnya melalui hubungan perdagangan, pemasaran hasil tenunan berupa kain corak insang pun memperoleh tempat tersendiri. Sehingga tak ada pengecualian pula, perdagangan hasil tenunan masyarakat Melayu Pontianak ini dengan sendirinya menjadi salah satu faktor penunjang timbulnya proses integrasi antardaerah dan menjurus pula terhadap aliran besar kultural yang membawa unsur dan supremasi kebudayaan lainnya.

“Di samping juga melalui hasil kerajinan tenun corak insang ini mengantarkan perkenalan antar suku bangsa, terutama yang dilakukan para pendatang yang memberi kemungkinan terbukanya komunikasi dalam pertukaran pengalamannya akan menjurus pada kesadaran tentang kesauan dari suku bangsa seluruh tanah air,” katanya.

Makna Filosofis

Menurut Syafaruddin, dalam kehidupan sehari-hari, budaya suatu masyarakat akan melatarbelakangi dalam aktivitas anggota masyarakatnya.

Di samping itu, untuk menunjukkan jati diri dari suatu masyarakat, memiliki kecenderungan menonjolkan salah satu dari hasil budayanya yang sifatnya spesifik yang dapat digunakan untuk membedakan dengan budaya kelompok masyarakat lainnya.

Demikian pula halnya dengan kelompok masyarakat Melayu di Nusantara yang memiliki cirri umum dalam bidang tenun, utamanya tenun songket.

Untuk membedakan kelompok masyarakat Melayu Pontianak dengan kelompok masyarakat Melayu lainnya di bidang tenunan ini, masyarakat Melayu Pontianak secara khusus memiliki kerajinan tenun yang turun temurun dinamakan dengan Tenun Corak Insang atau hasil tenunannya dikenal dengan Kain Tenun Corak Insang.

Jenis tenunan ini pada umumnya tidak menggunakan bahan baku benang emas. Ini antara lain yang membedakannya dengan tenunan Melayu Kalimantan Barat lainnya, seperti hasil tenunan Melayu Sambas, Mempawah, Sanggau, Sintang dan Ketapang ataupun daerah lainnya.

Pada perkembangan berikutnya, hasil tenun berupa kain corak insang menjadi pakaian sehari-hari masyarakat Melayu Pontianak dan sekitarnya. Dalam periode itu pula kemudian muncul beberapa motif tenun corak insang, yang dikenal luas, antara lain Corak Insang Berantai, Corak Insang Bertangkup, Corak Insang Delima, Corak Insang Awan, Corak Insang Berombak, Corak Insang Bertapak Besar dan lain sebagainya.

“Dari motif-motif tenun corak insang itu, para penenun kebanyakan lebih menyukai motif tumbuh-tumbuhan dan keadaan alam di sekitarnya,” kata Syafaruddin.

Di awal perkembangannya, menurutnya, kain tenun corak insang dihasilkan dari pengaruh kehidupan dan budaya masyarakat Melayu Pontianak yang mendiami kawasan sepanjang Sungai Kapuas. Kehidupan sebagai nelayan yang menjadi profesi masyarakat ini menjadikan ikan sebagai salah satu media pengungkapan atau diwujudkan sebagai ekspresi seni yang dijabarkan sebagai motif atau corak dari hasil tenunan yang dihasilkannya.

“Ikan yang dimaksudkan tersebut bukanlah gambar seekor ikan secara utuh, tetapi salah satu bagian terpenting dari anatomi ikan, yaitu yang paling vital yang oleh masyarakat Melayu Pontianak dinamakan dengan insang ikan. Inilah yang dijadikan sebagai obyek manifestasi apresiasi masyarakat penghasil kain tenun tersebut,” ujarnya.

Dalam pertumbuhan dan kemudian perkembangan budayanya, apresiasi akan insang tersebut menjadi suatu kesepakatan budaya masyarakat Melayu Pontianak untuk mengidentifikasikan hasil tenunan mereka dengan sebutan Kain Tenun Corak Insang.

“Meski demikian, sebetulnya pada masa yang bersamaan di awal pertumbuhan dan mula perkembangan tenun corak insang tersebut, masyarakat Melayu Pontianak juga menghasilkan hasil tenun tradisional yang dikenal dengan nama Tenun Sisip dan Tenun Celup atau Tenun Ikat,” katanya.

Untuk membedakan antara kain tenun corak insang dengan dua jenis disebutkan terakhir tadi, di mana Tenun Sisip adalah penenunan yang khusus untuk mengerjakan kain bersulamkan kelingkang, seperti kain tabir, selendang, bahan baju dan kain untuk pengantin.

Biasanya kain Tenun Sisip ini diperkenalkan dengan nama Kain Belande atau juga Tenun Tumpu. Sedangkan Tenun Celup atau tenun Ikat adalah tenunan khusus untuk mengerjakan kain insang dan juga kain pelekat. Ukurannya lebih panjang sehingga dinamakan dengan Tenun Gantung.

Menurut Syafaruddin, sebetulnya penamaan corak insang untuk hasil tenunan tradisional masyarakat Melayu Pontianak ini yang terinspirasikan dari insang ikan, juga mengandung makna filosofis di dalamnya.

Makna filosofis tersebut antara lain menggambarkan alat kehidupan, yaitu pernapasan pada ikan. “Ini mengandung makna sebagai hasil akal-budi untuk menunjang kehidupan. Kemudian mengandung pengertian sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pesisir yang mendiami sepanjang aliran Sungai Kapuas yang dikenal luas sebagai nelayan,” ujarnya. (***)

Labels:

Menilai APBD Provinsi Kalimantan Barat 2008

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


Refleksi Terhadap APBD Provinsi Tahun Anggaran 2006 & 2007


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kalbar 2008 telah disahkan pekan lalu, melalui sidang paripurna yang dihadiri Gubernur Usman Jafar. Eksekutif dan legislatif sepakat menetapkan anggaran sebesar Rp1,3 triliun yang diperuntukkan bagi kegiatan pembangunan baik belanja tidak langsung maupun belanja langsung.

UNTUK pemenuhan hak dasar warga bidang pendidikan dan kesehatan pada tahun 2008 dalam RAPBD 2008, alokasi pendidikan hanya 5,1% dari total belanja APBD dan alokasi kesehatan 3,9% dari total belanja APBD.

Hal ini menjadi sorotan utama dari Jaringan Independen Masyarakat Sipil untuk Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan (JARI) Indonesia Orwil Borneo Barat.

Melalui Ketua Divisi Advokasinya, Indra Aminullah, hal tersebut menjadi sorotan penting karena masih tingginya angka buta huruf di Kalbar. Dan anehnya dalam prioritas dan plafon anggaran tahun 2008 tidak satupun klausul yang berani mengungkap bahwa angka buta huruf dan angka putus sekolah di Kalbar masih tinggi.

Di sisi yang lain tingkat kesehatan masyarakat juga masih rendah ditandai dengan masih adanya kasus anak gizi buruk di beberapa daerah, kasus ibu hamil yang meninggal dunia karena kurangnya asupan gizi, banyaknya polindes serta sarana kesehatan yang tidak ”berpenghuni”, sanitasi yang tidak baik, serta air bersih yang tidak memadai.

Dalam konteks politik alokasi anggaran, berbekal dokumen RPJM dan dokumen APBD 2006 dan 2007, JARI menganalisis pada beberapa satuan kerja perangkat daerah saja. Analisis ini juga dilakukan pada pos belanja operasional dan modal untuk pelayanan publik (APBD 2006) atau belanja langsung (2007).

Terkait HAM dan Pendidikan

Untuk alokasi anggaran yang bertitle hak asasi manusia (HAM), Hasil tracking JARI menunjukan bahwa beberapa program yang jelas-jelas berkaitan langsung dengan persoalan pemajuan HAM ada di tiga satuan perangkat kerja daerah (SKPD) saja, yakni Biro Hukum Pemda, Dinas Tenaga Kerja, dan Bappora PP.

“Meskipun itu belum secara khusus dialokasikan pada kelompok – kelompok yang rentan terlanggar HAM-nya misal kaum diffable (penyandang cacat) yang selama ini belum mendapat perhatian khusus,” kata Indra Aminullah.

Untuk Hak pendidikan, hasi riset JARI di tiga kabupaten dengan melihat realitas lapangan dan politik anggaran yang dialokasikan melalui APBD Kabupaten dan Provinsi maka didapat beberapa kesimpulan:

Pertama, semestinya anggaran propinsi menjadi stimulan bagi anggaran daerah dalam pemenuhan hak dasar. Kedua, Masih tingginya angka tidak tamat sekolah dengan berbagai faktor bahkan target yang ditentukan melaui RPJM kabupaten tersebut dengan alokasi anggarannya masih jauh dari target , untuk itu APBD 2008 hendaknya menjadi komplemen dari pemenuhan target tersebut.

Dari proses verifikasi atas dokumen RPJM dengan alokasi anggaran yang tercermin pada APBD 2006 dan 2007, JARI mendapatkan analisisnya sebagai berikut:

Pertama, masih belum ada alat ukur yang jitu untuk menurunkan agenda RPJM ke alokasi anggaran dari tahun ke tahun. Kedua, alokasi anggaran tersebut lebih mencerminkan pada upaya-upaya yang masih sama dan terkesan monoton, padahal tantangan persoalan HAM lebih dinamis. Ketiga, belum ada upaya yang signifikan dari pemerintah daerah yang tercermin dalam alokasi anggaran APBD 2006 dan 2007 untuk menjalankan agenda Harmonis dalam Etnis.

Belanja Bantuan Sosial

Dari analisis belanja untuk bantuan sosial didapatkan kenaikan yang cukup signifikan pada tahun 2007 sejumlah Rp76.498.876.500 sekitar 258% peningkatannya. Atas dasar tersebut JARI meminta penjelasan untuk penganggaran bantuan sosial tahun 2008 sejumlah Rp. 55.500.000.000 diperuntukkan bagi siapa saja? Serta bagaimana mekanismenya?

Krtitik Public Hearing

Pandangan Panitia Anggaran DPRD Provinsi Kalimantan Barat terhadap nota penjelasan Gubernur Kalimantan Barat tentang RAPBD provinsi tahun 2008, juga mendapatkan kritikan JARI.

Menurut Indra, pandangan tersebut seluruhnya masih bersifat normatif, artinya tidak mengkritisi secara detail dan masih bersifat umum. “Belum sampai kepada pengkritisian tentang efektifitas, efisiensi, serta sorotan terhadap pemborosan anggaran,” katanya.

Kritikan lainnya yakni pada mendapatkan masukan dari masyarakat tentang RAPBD 2008 melalui public hearing. “Keinginan ini patut diberikan apresiasi positif. Namun, kesalahan kembali terulang. Public hearing hanya dijadikan sebagai ceremonial event saja dan hanya sebatas pelengkap program,” katanya.

Menurut Indra, bahan inti agar masyarakat dapat memberikan masukan pada public haring tersebut, yaitu dokumen RAPBD, justru tidak diberikan. Padahal, itu sesuai konteks inti undangan yang diberikan oleh penyelenggara yaitu ”bahan masukan dalam rangka membahas RAPBD tahun Anggaran 2008”.

“Ini yang menjadi transparansi setengah hati. Karena kejadian seperti ini yang membuat public hearing menjadi tidak efektif dan tidak tepat sasaran. Anehnya, peristiwa seperti ini selalu terjadi pada saat public hearing dilaksanakan,” katanya.

Apakah ada faktor kesengajaan? “Bisa jadi. Jika masalah anggaran yang tidak tersedia untuk memperbanyak APBD, cukup diinformasikan dimana masyarakat bisa mengakses dan biarkan masyarakat yang memperbanyak sendiri. Atau di up date di website pemerintah yang telah tersedia biar bisa diakses kapanpun. Jangan hanya anggaran perawatan media sosialisasi saja yang ada tapi yang disosialisasikan tidak ada,” kata Indra. (**)

Gubernur Dipilih Presiden, Hemat Biaya

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Saturday, January 5, 2008
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit



LALU, bagaimana dengan barisan pendukung wacana tersebut? Anggota DPRD Kota Pontianak, Andri Zulfikar mengatakan bahwa gagasan mengenai gubernur dipilih oleh presiden merupakan ide yang realistis dan pintar. Untuk itu, dia berharap agar pemerintah pusat dapat mengkajinya tertutama menyangkut perangkat perundang-undangannya.

Menurutnya, dengan adanya wacana tersebut maka secara otomatis DPRD Provinsi juga akan dihapuskan. Ini berarti, ada triliunan uang negara yang bisa dihemat.

Andri mengatakan, Gubernur sesuai dengan UU 32 Tahun 2004 sudah benar sebagai wakil pemerintah pusat. Dengan begitu, sambungnya, posisi presiden akan lebih kokoh. Pun pula dengan rentang kendali ke daerah, akan bisa lebih pendek. “Anggaran provinsi yang hilang otomatis akan dikompensasikan ke daerah kota atau kabupaten,” ujarnya.

Ia menambahkan, penghematan anggaran lainnya akibat diterapkannya kebijakan tersebut yakni ditiadakannya Pilkada Gubernur yang menghabiskan dana miliaran rupiah yang acap kali terjadi pemborosan.

Andri melanjutkan, apalagi fungsi gubernur lebih kepada wakil pemerintah pusat. Sedangkan tugas kedaerahan, lebih banyak ditangani bupati atau wali kota sesuai semangat otonomi daerah.

Beberapa waktu lalu, kepada koran ini, Koordinator Media Information Centre Kalbar Gunawan Lim mengatakan, “Pilkada Gubernur, seperti diketahui telah menghabiskan anggaran sekitar Rp80 miliar, hanya untuk melaksanakan pesta demokrasi. Belum lagi dana dari para calon yang telah terkuras sampai puluhan miliar. Jadi akan sangat efektif kalau calon pilkada dipilih langsung Presiden RI.”

Dia melanjutkan, “Berbicara anggaran dari APBD, memang masih banyak yang harus diprioritaskan untuk pembangunan dan bukan hanya dipersiapkan anggaran untuk pilkada saja.”

Tambahnya lagi, “Cara seperti ini tentu akan menghemat biaya. Kenapa kita harus membuang-buang biaya untuk pilkada. Sementara pembangunan infrastruktur untuk kepentingan rakyat dan membangun jalan sampai ke pedesaan masih memerlukan biaya yang tak sedikit.” ujar dia.

Jika misalkan Gubernur Kalbar ditunjuk langsung Presiden RI, menurutnya, tentu anggaran pilkada sebesar Rp80 miliar itu dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur, yang akan sangat bermanfaat bagi rakyat.

Bahkan dengan adanya pembangunan infrastruktur itu, dampak positifnya akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi daerah sampai di pedesaan juga akan ikut berkembang. “Jadi anggaran pilkada sebesar itu dapat saja digunakan juga untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan yang saat ini masih memerlukan anggaran yang cukup besar,” ujar pengamat sosial ini.

Efisiensi anggaran pilkada

Menanggapi itu, Ketua Umum Center Institute Of Strategic Studies For National Resilience (CISS), MD La Ode mengatakan, “Demokrasi memang berharga mahal dan pemenangnya selalu kapitalis. Manifestasinya dalam pilkada selalu dimenangkan oleh orang-orang pemodal, tidak ada modal tidak bisa menang. Barangkali wacana gubernur dipiliih langsung presiden untuk mengurangi biaya mahal,” katanya.

La Ode lebih setuju jika biaya penyelenggaraan pemilihan gubernur (pilgub) secara langsung oleh masyarakat dapat diefisinsi serendah mungkin.

“Saya lebih setuju dengan efisiensi biaya pilkada. Saya melihat ada celah-celah korupsi saat menentukan anggaran pilkada dan pelaksanaannya yang mengakibatkan mahalnya biaya pilkada gubernur. Efisiensi anggaran Pilkada Gubernur merupakan jalan terbaik daripada usulan gubernur dipilih langsung oleh presiden. Efisiensi pilkada bisa ditekan 30 hingga 40 persen, dan itu bisa dilakukan,” katanya.

Labels:

Gubernur Dipilih Langsung oleh Presiden

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


Efisiensi Anggaran vs Semangat Otonomi Daerah

Wacana agar gubernur dipilih dan diberhentikan oleh Presiden yang menjadi bahan diskusi mahasiswa di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) menuai pro dan kontra di sejumlah daerah, termasuk di Kalimantan Barat. Efisiensi anggaran pemerintah merupakan alibi yang dikemukakan oleh beberapa kalangan yang mendukung usulan tersebut. Akan tetapi, tak sedikit pula, para politikus yang menganggap ide tersebut merupakan pencideraan terhadap otonomi daerah yang telah menjadi konsensus nasional di era reformasi


BELUM lama ini tersiar berita bahwa Gubernur Lemhanas, Muladi, mewacanakan agar gubernur dipilih langsung oleh presiden. Tetapi belakangan, Muladi mengklarifikasi pemberitaan itu dan menyatakan bahwa ide tersebut bukanlah pendapat resmi yang dikeluarkan lembaga yang dipimpinnya. Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan gagasan dari seminar yang digelar oleh Program Pelatihan Reguler Angkatan 40 Lemhanas.

Hal itu juga diperkuat oleh Ketua Umum Center Institute Of Strategic Studies For National Resilience (CISS), MD La Ode. “Setahu saya wacana itu memang bukan usulan resmi dari Lemhanas, tetapi berdasarkan hasil kajian diskusi siswa Lemhanas yang pesertanya terdiri dari anggota legislatif dan eksekutif,” katanya.

Menurut La Ode, jika ide tersebut memang dari pendapat resmi dari Lemhanas, akan berpengaruh besar. Soalnya, kata dia, ide-ide dari Lemhanas selalu mendapat tempat di pemerintahan untuk diaplikasikan.

Pengamat polilitik, pemerintahan, dan ketahanan negara yang sedang menyelesaikan program doktor politik di Universitas Indonesia ini memberikan tanggapan konstruktifnya berkenaan dengan ide tersebut dengan menggunakan dua rujukan.

Pertama terletak pada titik berat otonomi daerah (otda) kabupatn/kota. Menurutnya, jika titik beratnya terletak hal itu, maka yang dipilih secara demokratis/langsung oleh rakyat adalah calon bupati/wakil bupati atau wali kota/wakil wali kota.

“Sedangkan gubernur pada perspektif ini kembali statusnya sebagai perpanjangan pusat di daerah. Maka kecendrungannya bisa ditunjuk langsung oleh pusat karena dia dalam konteks ini tidak punya kewenangan otonom,” kata La Ode.

Rujukan kedua yakni berkenaan dengan otda bertingkat. Implikasi dari penerapan ini yakni bahwa pemerintahan otonom ada di provinsi, kabupaten, dan kota. “Dalam hal ini implikasinya bahwa otonomi daerah ada di provinsi, kabupaten, dan kota. Dalam perspektif ini maka gubernur dipilih langsung oleh rakyat tidak bisa ditunjuk pemerintah pusat dalam hal ini Presiden,” ujarnya.

Menurutnya, negara-negara di dunia lebih cendrung (lebih banyak) memakai otda bertingkat dibanding dengan otda kabupaten/kota.

“Negara-negara demokratis dan maju seperti Perancis, Amerika Serikat, Belanda, sistem pemerintahannya menggunakan otda bertingkat. Sedangkan otda pada kabupaten/kota sedikit sekali, setahu saya sistem ini hanya dipakai oleh Inggris,” katanya.

Bertentangan Otda

La Ode menilai, jika wacana gubernur dipilih langsung oleh Presiden diterapkan, konsekuensinya akan bertentangan dengan demokrasi yang telah menjadi konsesus nasional di era reformasi saat ini.

“Salah satu implikasi penunjukkan gubernur secara langsung oleh presiden bertentangan dengan demokrasi. Kita di era reformasi telah memiliki konsensus nasional dimana mulai dari presiden, gubernur, wali kota, bupati, hingga kepala desa beserta wakil-wakilnya dipilih langsung oleh rakyat, dan itu indikator bahwa Indonesia demokratis,” katanya

Hal senada juga dikatakan Ketua Partai Kebangkitan Bangsa Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Abdullah Alkadrie. Menurutnya, wacana tersebut merupakan langkah mundur karena bertentangan dengan semangat otonomi daerah.

“Ide seperti itu saya tidak sependapat. Lebih parah dari orde baru yang gubernurnya masih dipilih DPRD. Kalau mekanismenya diubah dengan sistem pemilihan perwakilan dan sebagainya, itu bisa saja karena nuansa otonomi daerahnya itu masih melekat,” katanya.

Menurut Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat ini, penerapan ide itu akan membawa masalah baru di daerah. Degan penerapan otonomi daerah di tiap kabupaten/kota, dikhawatirkan olehnya akan menimbulkan gesekan atau perpecahan antardaerah tingkat dua di dalam satu provinsi.

“Itu akan sangat besar gesekannya. Misalnya saja satu kabupaten penghasil kayu atau kelapa sawit menggunakan jalan kabupaten lain untuk mengangkut hasil SDA-nya lalu dipajakin oleh kabupaten satunya. Itu kan akan menimbulkan gesekan antarpemerintahan,” katanya.

Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Kalbar, Muda Mahendrawan, kepada Pontianak Post belum lama ini mengatakan bahwa wacana gubernur ditunjuk presiden merupakan sebuah kemunduran di alam demokrasi.

“Bukan lagi mundur ke orde baru akan tetapi lebih dari itu, yang saya herankan mengapa wacana ini dimunculkan dengan alasan gubernur yang dipilih langsung malah tak loyal dengan (pemerintah) pusat,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika benar-benar terwujud, maka keinginan pemerintah pusat untuk menghidupkan kembali sistem sentralisasi bakal terbukti.

Dipilih DPRD Kab/Kota

Sementara Aktifis/Politikus Dede Junaidi kepada koran ini sebelumnya juga mengatakan, andaikata pilgub kelak tak lagi dilakukan secara langsung oleh rakyat, maka bukan berarti mereka yang menjabati posisi itu dipilih oleh presiden. Bisa saja pemilihan dilakukan oleh parlemen dari masing-masing kabupaten/kota pada provinsi bersangkutan.

Mekanisme yang dimaksud Dede, seluruh wakil rakyat yang duduk di parlemen kabupaten/kota dikumpulkan. Mereka kemudian menggunakan hak suara untuk memilih figur yang didaftarkan menjadi gubernur.

“Berapa pun perwakilan mereka, semua dikumpulkan di provinsi untuk kemudian memilih, mereka berhak karena merupakan representasi dari rakyat,” kata ketua salah satu pengurus partai politik di Kabupaten Pontianak ini. (**)

Labels: